TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Antrean pengisian BBM jenis Pertamax di SPBU 74.902.31, Jalan AP Pettarani, Makassar (samping Kantor KPU Sulsel), tampak lengang pada Rabu (10/6/2026) siang.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan antrean kendaraan di jalur Pertalite yang mengular hingga ke badan jalan.
Ahmad, salah seorang pengendara, mengaku terpaksa beralih dari Pertamax ke Pertalite karena harga Pertamax dinilainya sudah terlalu mahal.
"Pertalite mi saya pakai sekarang," ujarnya.
PT Pertamina (Persero) secara resmi menaikkan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Artinya, terjadi kenaikan sebesar Rp3.950 per liter atau sekitar 32 persen.
Kenaikan tersebut berdampak langsung pada sebagian pengguna Pertamax yang mulai beralih ke BBM subsidi.
Pantauan Tribun Timur di SPBU AP Pettarani pada pukul 11.24 hingga 12.18 Wita menunjukkan jumlah kendaraan yang mengisi Pertamax tidak sampai 10 unit.
Sementara itu, Firdaus, pengendara mobil lainnya, mengaku tetap menggunakan Pertamax meski harganya naik signifikan.
Menurutnya, Pertamax telah menjadi pilihan utama untuk kendaraan yang digunakannya selama bertahun-tahun.
"Bertahun-tahun saya pakai Pertamax, baik untuk motor maupun mobil," katanya.
Meski demikian, Firdaus mengaku keberatan dengan kenaikan harga yang terjadi.
Ia menilai lonjakan harga Pertamax terlalu tinggi dan memberatkan masyarakat.
"Ini menyusahkan rakyat," keluhnya.
Firdaus juga menilai kenaikan harga Pertamax akan berdampak pada masyarakat kelas menengah yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk beraktivitas.
Bahkan, ia memperkirakan minat masyarakat membeli kendaraan bisa menurun karena biaya operasional yang semakin tinggi.
"Pasti orang berpikir dua kali sekarang untuk beli mobil. Dan saya yakin masih banyak dampak lainnya," ujarnya. (*)