TRIBUN TIMUR, MAKASSAR - Wakil Ketua DPRD Sulsel, Rahman Pina, menyampaikan rasa duka mendalam atas wafatnya Prof Dr dr H Muh Syafar Abdullah MS yang meninggal dunia.
Almarhum menghembuskan nafas terakhir di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar, Rabu (10/6/2026) pagi.
Alumni Universitas Hasanuddin (Unhas) itu mengaku turut merasakan kehilangan atas kepergian salah satu guru besar almamater Kampus Merah.
Prof Syafar selama ini dikenal luas di lingkungan akademik, organisasi kemasyarakatan, dan dunia kesehatan.
“Kami tentu sangat berduka atas berpulangnya Prof Syafar Abdullah. Sebagai alumni Unhas, saya merasa kehilangan salah satu guru besar yang telah memberikan kontribusi besar bagi dunia pendidikan, khususnya di Sulsel,” ujar Rahman Pina.
Menurutnya, Prof Syafar Abdullah bukan hanya dikenal sebagai akademisi.
Namun juga sebagai tokoh yang memiliki pengabdian panjang dalam bidang kesehatan, pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan.
Kiprahnya selama puluhan tahun telah memberikan manfaat bagi banyak orang, baik melalui profesinya sebagai dokter maupun sebagai pendidik.
Rahman menilai almarhum merupakan figur yang berhasil menggabungkan peran akademisi dan pengabdi masyarakat secara bersamaan.
Di tengah kesibukannya sebagai tenaga medis dan dosen, Prof Syafar tetap aktif berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
“Beliau adalah sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat. Tidak banyak orang yang mampu menjaga konsistensi pengabdian seperti yang beliau lakukan,” katanya.
Prof Syafar Abdullah juga memiliki jejak panjang di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Gerakan Pemuda Ansor Sulsel.
Almarhum pernah menjabat sebagai Ketua PW GP Ansor Sulsel dan aktif dalam berbagai kegiatan kaderisasi serta penguatan organisasi.
Rahman Pina menilai pengalaman dan kapasitas yang dimiliki almarhum menjadikannya salah satu tokoh yang dihormati oleh berbagai kalangan.
Tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di organisasi kemasyarakatan dan profesi.
“Beliau adalah tokoh yang diterima di banyak kalangan karena kapasitas keilmuan dan pengabdiannya. Sosok seperti ini tentu tidak mudah tergantikan,” ungkap politisi Partai Golkar tersebut.
Kepergian Prof Syafar Abdullah, lanjut Rahman, menjadi kehilangan besar bagi keluarga besar Universitas Hasanuddin.
Sebab, almarhum merupakan bagian dari generasi akademisi yang turut membesarkan reputasi kampus dan berkontribusi dalam mencetak sumber daya manusia di Sulsel.
“Kita kehilangan salah satu guru besar yang hebat. Banyak mahasiswa, kolega, dan masyarakat yang merasakan manfaat dari ilmu serta pengabdian beliau selama ini,” katanya.
Rahman juga mengaku terkesan dengan konsistensi almarhum yang tetap aktif berkontribusi di berbagai bidang hingga akhir hayatnya.
Menurutnya, dedikasi Prof Syafar Abdullah menjadi teladan bagi generasi muda, khususnya dalam memadukan keilmuan dengan pengabdian sosial.
“Jejak yang ditinggalkan beliau bukan hanya dalam bentuk karya akademik, tetapi juga keteladanan dalam mengabdi kepada masyarakat. Itu yang akan selalu dikenang,” ujarnya.
Ia berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan menghadapi musibah tersebut.
Rahman juga mendoakan agar segala amal dan pengabdian Prof Syafar Abdullah selama hidup menjadi warisan kebaikan yang terus memberi manfaat bagi banyak orang.
Prof Syafar Abdullah MS wafat di RS Wahidin Sudirohusodo Makassar pada Rabu pagi.
Kabar kepergiannya memunculkan gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan, mulai dari tokoh NU, GP Ansor, akademisi, hingga pejabat publik di Sulsel.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka BTN Citra Tello Permai Blok A2 No. 4 Makassar sebelum dimakamkan pada hari yang sama.