TRIBUNPONTIANAK.CO.ID - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax yang mulai berlaku pada Rabu, 10 Juni 2026, menuai keluhan dari masyarakat di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat.
Lonjakan harga yang cukup tinggi dari Rp12.600 menjadi Rp16.250 per liter dinilai semakin menambah beban ekonomi warga, terutama mereka yang menggantungkan penghasilan dari sektor transportasi.
Salah satu warga Sambas, Apri (27), mengaku terkejut dengan kenaikan harga BBM RON 92 tersebut.
Menurutnya, kebijakan ini tidak hanya berdampak pada pengeluaran pribadi, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap pendapatan para pekerja jasa transportasi.
Baca juga: Pertamax Naik, Komunitas Offroad Pontianak: Jangan Sampai Harga Naik, Tapi Stok BBM Kosong
“Tentunya kenaikan harga BBM Pertamax ini akan memberatkan masyarakat,” ujar Apri.
Sebagai sopir travel dan sesekali mengangkut barang, Apri merasakan dampak langsung dari kenaikan harga Pertamax.
Biaya operasional kendaraan meningkat, sementara tarif jasa yang selama ini berlaku belum mengalami perubahan.
Ia mengungkapkan, keuntungan yang diperoleh dari pekerjaannya kini semakin menipis karena sebagian besar biaya perjalanan terserap untuk pembelian bahan bakar.
“Kalau saya sebagai sopir travel dan kadang sopir angkutan barang, mahalnya harga BBM ini otomatis membuat keuntungan turun, jadi menipis,” jelasnya.
Kondisi tersebut membuat Apri mulai mempertimbangkan untuk menyesuaikan tarif perjalanan agar usahanya tetap berjalan.
Baca juga: Pasokan BBM di Sungai Laur Terganggu, Bupati Ketapang Dorong Pertamina Segera Ambil Langkah Darurat
Menurutnya, jika tarif tidak dinaikkan, maka pendapatan yang diterima tidak lagi sebanding dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan.
“Mungkin nanti saya akan naikkan tarif taksi atau travel. Ongkosnya jadi naik ke penumpang, karena kalau tidak, keuntungan sangat tipis,” katanya.
Meski demikian, Apri mengaku untuk aktivitas sehari-hari menggunakan sepeda motor, dirinya masih mengandalkan Pertalite.
Namun untuk kendaraan roda empat yang digunakan bekerja, Pertamax menjadi pilihan utama sehingga kenaikan harga BBM tersebut sangat dirasakan.
“Kalau aktivitas sehari-hari pakai motor saya isi Pertalite. Tapi kalau bekerja bawa taksi atau travel harus pakai Pertamax, jadi naiknya harga BBM ini memang menyulitkan,” ucapnya.
Kenaikan harga Pertamax dikhawatirkan tidak hanya berdampak pada para sopir, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan biaya transportasi dan harga barang di sejumlah daerah.
Warga berharap ada kebijakan yang dapat meringankan beban masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan hidup dan biaya operasional yang terus bertambah.
Pertamax (RON 92) Rp 16.250 per liter
Pertamax Green 95 (RON 95) Rp 17.000 per liter
Pertamax Turbo Rp 20.750 per liter
Dexlite Rp 23.000 per liter
Pertamina Dex Rp 24.800 liter
Solar Subsidi Rp 6.800 per liter
Pertalite(RON 90) Rp 10.000 per liter