Oleh : Anzelia Anggrahini
Respons kekhawatiran ini terlihat dari komentar para netizen di salah satu akun dokter muda sekaligus konten kreator edukasi terkait kesehatan @ikhsanqthii & @aymanalatas seperti “gamau antri buat vaksin lagi pliiiiissss” kata akun @Li*******, “ jangan pandemi weh, akhir tahun mau liburan, mau nonton konser juga”, kata akun @Sa*******, “semoga kejadian ini enggak buat kita kembali ke jaman covid lagi” kata akun @ko*****, “ Ya Allah jangan pandemi dong, Konoha baru mode survival, masih menghadapi pandemi juga takut banget”, kata akun @Ak******, “ gak mau pake pake masker tali 4 ☹☹” kata akun @Re***.
Dari komentar tersebut terlihat bukan kepanikan akan Hantavirus, melainkan kepanikan atas memori yang sebelumnya pernah dilewati. Perhatikan polanya, hampir tidak ada yang menanyakan “apa itu Hantavirus?”atau “bagaimana penularannya”.
Dari kata-kata ini, lagi-lagi bukan tentang Hantavirus, melainkan tentang Covid-19 yang belum selesai, tentang beberapa usaha yang harus gulung tikar kala itu, tentang wisuda yang harus ditutup, antrean vaksin yang memakan waktu berbulan-bulan dan akhirnya berujung liburan panjang yang tidak pernah terbayangkan bagi jutaan orang.
Pandemi bukan hanya sebuah peristiwa kesehatan, bagi sebagian orang peristiwa tersebut adalah luka ekonomi, sosial dan psikologi yang belum benar benar hilang dalam pikiran.
Perhatian terhadap virus ini meningkat ketika muncul laporan kematian penumpang kapal pesiar MV Hondius akibat infeksi Hantavirus jenis Andes Virus. Umumnya Andes Virus ditemukan di Amerika Serikat dan menjadi penyebab utama adanya Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan sangat mematikan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia mencatat sebanyak 23 kasus Hantavirus dalam 3 tahun terakhir, tersebar di 9 provinsi. Dari jumlah tersebut, 3 di antaranya meninggal dunia. Yang penting untuk diketahui bahwa Hantavirus yang ditemukan di Indonesia berbeda dengan Hantavirus yang memicu outbreak di kapal pesiar MV Hondius.
Jenis virus yang ditemukan di Indonesia adalah seoul virus yang memicu Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS) dan hanya menular apabila kontak dengan tikus atau celurut ataupun terpapar ekskresi dan sekresinya.
Masa inkubasi 1-2 minggu, dengan tingkat kematian 5-15 persen atau lebih rendah daripada tipe HPS. Secara epidiemologis, angka itu kecil, tapi mengapa respons publik jauh lebih melampauinya?
Ini merupakan sebuah bukti dimana fakta mengenai Covid-19 lalu sudah dicabut, namun dunia belum benar-benar terbebas dari memori Covid-19. Pandemi Covid-19 adalah trauma kolektif dengan skala yang mungkin belum pernah dialami oleh satu generasi masyarakat Indonesia secara bersamaan.
Memori tersebut merupakan bagian dari luka yang mendalam. Ada sebuah konsep yang menjelaskan perihal ini, konsep tersebut dinamakan “Trauma Kolektif”. Trauma ini bukan dialami oleh satu orang saja, melainkan dimiliki bersama yang meliputi komunitas besar.
Dalam hal ini, seluruh masyarakat Indonesia yang melewati pandemi bersama sama. Sosiolog yang Bernama Kai Erikson menyebutkan bahwa trauma kolektif ini sebagai kerusakan pada jaringan komunitas. Ibaratnya, yang awalnya jaringan tersebut bersatu seperti sel-sel di dalam tubuh, namun akibat sebuah trauma akhirnya tubuh sosial menjadi waspada secara permanen.
Hantavirus bukan dibaca dan dimaknai sebagai informasi baru, melainkan otak kolektif kita membaca kata tersebut sebagai akan ada pengulangan kembali (Covid-19). Setiap curahan yang dilayangkan netizen dalam kolom komentar tersebut bukan hal yang lebay, melainkan trauma kolektif yang berbicara.
Disinilah hal yang perlu kita ketahui bersama, kesalahpahaman yang paling sering terjadi adalah ketika orang mengira trauma kolektif akan berakhir ketika peristiwanya berakhir. Padahal kenyataaanya justru sebaliknya.
Menurut salah satu sosiolog yang juga mengembangkan konsep trauma kolektif ini, Jeffrey Alexander, menyatakan bahwa justru trauma kolektif ini baru selesai dikonstruksi setelah peristiwanya berlalu.
Trauma tersebut akan tetap terus ada diperbincangkan, respons yang terus berulang dan kewaspadaan yang tidak akan pernah padam. Komentar komentar para netizen itu merupakan bukti konstruksi trauma kolektif yang sedang berlangsung secara real-time.
Ekosistem media digital yang beroperasi dengan engagement dan berlomba-lomba dalam kecepatan, sehingga tidak memiliki mekanisme untuk memperlambat diri demi memberi ruang bagi konteks dan proporsisi.
Tetapi dibalik beberapa komentar yang mengandung trauma kolektif ada juga @in*** yang memilih untuk tidak panik, melainkan peduli secara konkret dengan narasi “Semoga ini ga jadi wabah, kasian yang kerja dimall, tempat wisata, kasian para pedagang, jaga kebersihan ya guys, sehat sehat kalian, semoga selalu dalam lindungan Allah”.
Kepedulian ini merupakan bentuk ketahanan kolektif yang paling dasar dan ketahan inilah yang bisa menjadi sebuah contoh untuk menghadapi krisis kesehatan berikutnya. Bukan hanya mempersiapkan stok masker, obat dan vaksin, melainkan kapasitas komunitas untuk saling menjaga.
Jika yang dirasakan adalah kepanikan, maka yang dibutuhkan bukan lebih banyak informasi tentang virus, melainkan memilih untuk mengakui memori lama itu masih ada dan hal ini wajar.
Hal ini bisa menjadi pengetahuan untuk orang lain ketika ingin meneruskan informasi atau mengetik pendapat di kolom komentar.
Penulis adalah Nahasiswa Magister, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran