Pengakuan Warga Rejang Lebong Usai Pertamax Naik Jadi Rp16.250: Terpaksa Beralih ke Pertalite
Rita Lismini June 10, 2026 04:54 PM

Laporan Wartawan TribunBengkulu.com, M Rizki Wahyudi

TRIBUNBENGKULU.COM, REJANG LEBONG – Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis non subsidi kembali mengalami penyesuaian. Kenaikan harga terjadi pada sejumlah produk BBM non subsidi, termasuk Pertamax dan Pertamax Green 95.

Berdasarkan informasi yang terpasang di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), harga Pertamax naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.

Situasi SPBU Terpantau Normal

Pantauan TribunBengkulu.com di sejumlah SPBU di Kabupaten Rejang Lebong pada Selasa (9/6/2026), aktivitas pengisian BBM masih berlangsung normal. Kenaikan harga BBM non subsidi tersebut belum memicu peningkatan antrean kendaraan.

Baik pada jalur pengisian Pertalite maupun Pertamax, jumlah kendaraan yang mengantre terpantau tidak jauh berbeda dibandingkan hari-hari sebelumnya. Kondisi serupa juga terlihat di kawasan sekitar SPBU yang tetap beraktivitas seperti biasa.

Saat TribunBengkulu.com mencoba meminta keterangan resmi dari pihak pengelola SPBU, kantor pengawas maupun manajer SPBU dalam keadaan kosong sehingga belum dapat memberikan tanggapan terkait dampak kenaikan harga tersebut.

Salah seorang pegawai SPBU Simpang Korem yang enggan disebutkan namanya mengatakan jumlah pembeli BBM sejak pagi masih dalam kondisi normal.

Menurutnya, hingga siang hari belum terlihat adanya lonjakan kendaraan yang melakukan pengisian BBM akibat kenaikan harga.

"Masih normal saja, Pak. Hari ini belum ada terjadi peningkatan antrean,"ungkapnya.

Ia menjelaskan, konsumen yang menggunakan Pertamax juga masih cukup banyak meskipun harga BBM tersebut mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

"Masih banyak juga tadi yang mengisi Pertamax pak,"tambahnya. 

Selisih Harga Dinilai Terlalu Jauh

Di sisi lain, sejumlah masyarakat mengaku mulai mempertimbangkan kembali penggunaan BBM non subsidi setelah adanya kenaikan harga terbaru.

Edo (30), salah seorang warga Rejang Lebong, mengaku untuk sementara waktu memilih menggunakan Pertalite dibandingkan Pertamax.

Menurutnya, selisih harga antara kedua jenis BBM tersebut kini semakin terasa dibandingkan sebelumnya.

"Kalau sekarang saya pilih Pertalite dulu. Selisih harganya sudah cukup jauh, jadi lebih terasa pengeluarannya,"ungkap Edo.

Hal serupa disampaikan Nicko (29). Ia mengaku sementara waktu akan beralih menggunakan Pertalite karena harga Pertamax saat ini dinilai cukup tinggi.

Menurutnya, kenaikan harga sekitar Rp 4.000 per liter menjadi pertimbangan utama dalam menentukan jenis BBM yang akan digunakan.

"Sementara pakai Pertalite dulu. Kenaikannya cukup besar, jadi harus menyesuaikan dengan kondisi pengeluaran,"ujarnya.

Meski demikian, hingga hari pertama penerapan harga baru, aktivitas masyarakat dan kondisi di SPBU di Kabupaten Rejang Lebong masih berlangsung normal tanpa adanya lonjakan antrean maupun aksi pembelian dalam jumlah besar.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.