Tepuk Tangan Panjang untuk Saman di Geoje, Pulau Terindah di Korea Selatan
Sri Widya Rahma June 10, 2026 04:54 PM

Laporan Wartawan Tribun Gayo Fikar W Eda | Korea Selatan

TribunGayo.com, BUSAN - Setelah empat hari tampil di berbagai panggung Busan International Dance Festival (BIDF) 2026, tim Tari Saman dari Indonesia akhirnya menuntaskan seluruh rangkaian pertunjukannya di Geoje Arts Center, dengan tepuk tangan panjang yang seolah menjadi penutup yang sempurna, Selasa (9/6/2026).

Panggung megah yang berdiri di Pulau Geoje itu menjadi tempat terakhir bagi delegasi Aceh mempersembahkan Tari Saman dan puisi "Seribu Saman" kepada publik Korea Selatan.

Geoje bukan tempat sembarangan. Pulau yang dikenal sebagai salah satu kawasan terindah di Korea Selatan itu memiliki bentang alam laut yang memukau dan kehidupan masyarakat pesisir yang kuat.

Sebagian besar penonton malam itu merupakan nelayan dan warga setempat yang datang untuk menyaksikan pertunjukan penutup festival.

Baca juga: Saman Masuk Sekolah di Busan: Anak-anak Korea Selatan Belajar Kebersamaan dari Tanah Gayo

Saman Memikat Penonton dan Delegasi Mancanegara

Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang menghadirkan banyak delegasi, pada sesi Geoje hanya lima negara yang tampil, yakni Indonesia, Denmark, Quebec (Kanada), Prancis, dan Korea Selatan.

Dalam suasana yang lebih intim itulah Saman kembali menunjukkan daya magisnya.

Seperti dua penampilan sebelumnya di Haeundae Beach Stage, Busan, pertunjukan diawali dengan pembacaan puisi "Seribu Saman" oleh penyair Aceh Fikar W Eda sebelum para penari mengambil alih panggung.

Gerak yang kompak, tempo yang semakin cepat, serta harmoni suara para penari membuat penonton larut hingga pertunjukan berakhir.

Ketika salam penutup dikumandangkan, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.

Banyak penonton bertahan beberapa saat setelah acara usai. Sebagian mendekati para peserta untuk berfoto, sebagian lain menyampaikan kekaguman mereka secara langsung.

Menurut Aminnulah Adnan, CEO Duta Saman Institute, apresiasi yang diterima tim selama festival berlangsung sangat luar biasa.

"Kebanyakan mereka kagum dengan penampilan Saman. Tidak hanya gerakannya, tetapi juga warna-warni kostum yang kami kenakan.

Ada peserta dari Kanada yang mengatakan penampilan Indonesia sangat memikat karena energinya kuat dan kostumnya sangat indah," kata Aminnulah waratawan TribunGayo.com, Fikar W Eda, Rabu (10/6/2026).

Bagi para peserta internasional, Saman bukan sekadar tarian. Mereka melihatnya sebagai pertunjukan budaya yang utuh, menghadirkan musik tubuh, syair, puisi, kostum, dan semangat kebersamaan dalam satu panggung.

M. Aris dari Lembaga Seni Budaya Gayo Aceh juga merasakan hal yang sama.

Menurutnya, sambutan yang diterima menunjukkan bahwa budaya yang lahir dari dataran tinggi Gayo memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan masyarakat dunia tanpa harus melalui banyak terjemahan.

Bahasa gerak ternyata cukup untuk menjelaskan segalanya.

Baca juga: Sekda Aceh Apresiasi Delegasi Tari Saman di Busan: Wow, Mantap Saman Kita Keren!

Belajar Budaya dan Membangun Persahabatan

Namun, perjalanan ke Korea Selatan bukan hanya soal tampil di atas panggung.

Bagi para anggota tim yang sebagian besar masih berusia muda, BIDF menjadi ruang belajar yang sangat berharga.

Mereka tidak hanya memperkenalkan budaya Aceh kepada dunia, tetapi juga mengenal budaya bangsa lain dari dekat.

Said Ahmad, salah seorang pemain Saman, mengaku membawa pulang pengalaman yang tak ternilai.

Selama ini Korea Selatan hanya ia kenal melalui media sosial, televisi, dan berbagai tayangan digital.

Namun, berada langsung di negeri tersebut memberinya pengalaman yang sama sekali berbeda.

"Saya sangat puas dengan seluruh kegiatan yang kami jalani. Kami mendapat banyak pengalaman baru. Selama ini saya hanya mendengar dan melihat Korea Selatan dari media, sekarang bisa melihat langsung kehidupan masyarakatnya," ujar Said.

Bagi Said dan rekan-rekannya, perjalanan ini bukan hanya tentang pertunjukan, melainkan juga tentang perjumpaan. Mereka berinteraksi dengan seniman dari berbagai negara, berbagi cerita, bertukar kontak, hingga saling mengenalkan budaya masing-masing.

Di luar panggung, persahabatan tumbuh. Di dalam panggung, kebudayaan berbicara. Karena itu, pujian yang datang dari sesama peserta maupun panitia terasa sangat bermakna.

"Terima kasih. Kalian hebat."

Kalimat sederhana itu berkali-kali mereka dengar sepanjang festival berlangsung.

Mungkin itulah hadiah paling berharga yang dibawa pulang oleh delegasi Aceh dari Korea Selatan. Bukan sekadar tepuk tangan, melainkan pengakuan bahwa Tari Saman tetap memiliki daya hidup yang kuat di hadapan masyarakat dunia.

Dari Haeundae yang menghadap Laut Jepang hingga Geoje yang dikelilingi panorama pesisir Korea, Saman telah menuntaskan perjalanannya dengan baik.

Ia datang dari pegunungan Gayo, menyeberangi lautan, lalu menemukan penonton baru yang menyambutnya dengan kekaguman.

Dan ketika lampu panggung Geoje Arts Center akhirnya padam, yang tersisa bukan hanya kenangan sebuah pertunjukan, melainkan jejak persahabatan yang dibangun melalui kebudayaan. (*) 

Baca juga: Dari Pasir Tripe Jaya ke Panggung Dunia Busan: Jejak Said Ahmad Menjaga Warisan Saman

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.