Demi Bongkar Mega Korupsi MBG, Eks Waka BGN Siap Mati, Ogah Jadi Kambing Hitam
Noval Andriansyah June 10, 2026 09:19 PM

Tribunlampung.co.id, Jakarta - Di balik dinginnya jeruji besi ruang tahanan, satu keputusan besar diambil oleh mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional ( BGN ), Sony Sonjaya.

Baca juga: Bukti Chat Eks Waka BGN dengan 26 Tokoh Elite Dibongkar, Rebutan Titik Dapur MBG

Di tengah gempuran opini publik yang menyudutkannya, Sony memilih tidak tinggal diam. Ia menolak dengan keras diposisikan sebagai tumbal atau kambing hitam tunggal dalam sengkarut mega korupsi Proyek Strategis Nasional (PSN) Makan Bergizi Gratis ( MBG ).

Langkah berani pun diayunkan. Melalui tim kuasa hukumnya, Sony resmi mengajukan diri sebagai justice collaborator (JC) kepada Kejaksaan Agung dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Sebuah pertaruhan hidup dan mati demi membongkar kotak pandora, mengungkap siapa saja para mafia berdasi yang sebenarnya menangguk untung di balik program pemenuhan gizi anak-anak bangsa.

"Pak Sony menegaskan dia menolak dijadikan kambing hitam. Beliau tidak pernah melakukan transaksi jual beli titik dapur gizi, tugasnya hanya mengelola sistem pemetaan digital."

Bisikan Emosional di Balik Jeruji Rutan

Keputusan untuk bernyanyi dan menyeret nama-nama besar tentu bukan perkara mudah. Ada tekanan psikologis teramat berat dan rasa mencekam yang membayangi Sony serta keluarganya.

Elza mengisahkan, ada momen emosional yang menggetarkan hati saat ia mengunjungi kliennya di dalam rumah tahanan baru-baru ini.

Di tengah keputusasaan dan ketegangan yang memuncak, Sony mendekat dan membisikkan satu kalimat yang menandakan bahwa dirinya sudah sampai pada titik tidak akan mundur selangkah pun.

"Pak Sony sempat berbisik kepada saya, 'Bu Elza, saya siap mati untuk membuka semua ini'. Mendengar itu, saya langsung meminta beliau untuk tenang."

"Saya ingatkan bahwa ucapan adalah doa, dan dia harus tetap hidup untuk berjuang membongkar kebenaran melalui jalur justice collaborator ini," kenang Elza dengan nada bergetar.

Menyeret 26 Nama Tokoh Penting

Nyanyian Sony bukan sekadar gertakan sambal. Sebagai bukti keseriusannya membantu penegak hukum, pada proses pemeriksaan awal, Sony dilaporkan telah menyodorkan dokumen berisi 26 nama tokoh penting di negeri ini.

Mereka yang masuk dalam daftar tersebut diduga kuat merupakan pihak yang secara aktif menitipkan "atensi" dan pengaruh politiknya demi menguasai proyek pendirian Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) di berbagai wilayah daerah.

Elza meyakini, daftar 26 nama ini barulah permulaan atau puncak gunung es. Berkas digital dan rekam jejak percakapan yang dikantongi kliennya berpotensi menyeret lebih banyak figur publik seiring bergulirnya penyidikan di Kejaksaan Agung.

Mengingat skala kasus yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan melibatkan lingkaran kekuasaan, Elza mengaku faktor keselamatan kliennya menjadi prioritas utama saat ini.

Surat permohonan perlindungan fisik maupun hukum telah dilayangkan secara resmi ke kantor LPSK.

Kini, bola panas mega korupsi proyek makan gratis berada di tangan penyidik.

Keberanian Sony Sonjaya untuk menjadi saksi pelaku yang bekerja sama, diharapkan tidak hanya membersihkan nama baiknya secara hukum, melainkan juga menyelamatkan program mulia negara dari tangan-tangan koruptor yang tega merampas hak gizi anak-anak Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.