TRIBUNNEWS.COM - Mantan pelatih fisik Timnas Voli Indonesia, Dicky Gunawan Suwarna, menyoroti bagaimana cuaca ekstrem pada penyelenggaraan Piala Dunia 2026, bisa berimbas kepada performa pemain.
Di sisi lain, kebutuhan waktu adaptasi yang cukup, juga sangat diperlukan bagi setiap pemain untuk bisa tampil di top performa pada pesta sejagat sepak bola empat tahunan ini.
Perubahan iklim yang disebabkan oleh aktivitas manusia diprediksi akan meningkatkan frekuensi cuaca panas ekstrem, yang berpotensi memengaruhi kinerja pemain dan tempo pertandingan dalam banyak laga Piala Dunia yang akan datang.
Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, yang akan digulirkan 12 Juni mendatang, dinyatakan berisiko menghadapi suhu ekstrem yang tidak hanya mengancam keselamatan pemain dan penonton, tetapi juga dapat menurunkan kualitas pertandingan yang berlangsung.
Kondisi panas yang ekstrem dapat menyebabkan penurunan intensitas permainan, pengurangan sprint, serta berkurangnya peluang untuk mencetak gol.
Dalam penjelasan Dicky Gunawan Suwarna, yang juga lulusan Leichtathletik Diplom Johannes Gutenberg University, Jerman, cuaca ekstrem pada Piala Dunia 2026, akan merepotkan pemain, khususnya mereka yang sudah terbiasa dengan iklim Eropa.
"Cuaca ekstrem akan menjadi masalah bagi pemain, khususnya bagi timnas yang dari Eropa. Paling jelas dari dampak (cuaca ekstrem-red) adalah pemain bisa dehidrasi," ujar Dicky Gunawan ketika dihubungi Tribunnews, Rabu (10/6) malam WIB.
"Ketika panas, memiliki dampak terhadap kemampuan sprint, pemulihan, dan intensitas secara keseluruhan, hal itu mengubah cara sepak bola dimainkan," ucap pria berusia 48 tahun ini.
Beberapa cara bisa dilakukan untuk mengatasi masalah non-teknis tersebut. Mulai dari kecukupan waktu adaptasi hingga nutrisi yang terpenuhi.
"Tetapi saya yakin dengan setiap timnas, bahwa mereka memiliki aspek penunjang yang mumpuni, dalam bahasa sekarang sport science, mereka memiliki ahli gizi yang menentukan kualitas nutrisi pemain," sambungnya.
"Kalau adaptasi cuaca, dua minggu itu waktu yang normal dan cukup. Tidak bisa dalam hitungan hari saja."
Baca juga: Piala Dunia 2026 Belum Mulai, Kekacauan Malah Terus Terjadi: Kebijakan Visa hingga Penarikan Tiket
Sekalipun pemain memiliki jam terbang mumpuni di berbagai pertandingan, adaptasi terhadap cuaca menjadi faktor krusial yang tak bisa dikesampingkan.
Imbas dari kesulitan beradaptasi dengan lingkungan baru, tidak menutup kemungkinan pemain bisa mengalami cedera.
Ditambahkan Dicky Gunawan, yang dalam profesinya pernah menjadi pelatih fisik tim Proliga hingga Timnas Voli Indonesia, cuaca ekstrem bisa bermuara kepada cedera seorang pemain.
"Risiko cedera? Pasti ada, tetapi cedera seperti apa dulu. Misal, cedera hamstring, sepengalaman saya pemain sudah tidak bisa (melanjutkan pertandingan-red). Itu sakitnya luar bisa seperti meledak."
"Hamstring itu ada tingkatannya. Jika memaksa, dalam kadar cedera hamstring ringan, mungkin tapping (perban-red) itu bisa, asal harus kencang. Itupun pemain masih harus menahan sakit. Ini untuk case dipaksakan main."
"Tetapi bagaimanapun tingkatan cedera hamstring, pemain biasanya tak bisa melanjutkan pertandingan. Recovery-nya pun tak bisa hitungan hari, minimal 1 bulan."
"Saya enggak bisa membayangkan bagaimana (pemain-red) yang mengalami hamstring dipaksakan bermain. Itu akan sangat sulit," ujar Dicky Gunawan yang kini mengemban tugas sebagai pelatih fisik di Pelatnas Badminton Indonesia.
"Beda kalau cedera otot, itu satu dua hari bisa sembuh," pungkas Dicky Gunawan yang memiliki hobi gowes bersepeda.
(Tribunnews.com/Giri)