Zohran Kwame Mamdani terpilih sebagai walikota baru Kota New York pada 4 November, menandai kemenangan bersejarah bagi sejumlah kelompok yang selama ini kurang terwakili. Kemenangan tersebut merupakan pencapaian besar bagi kaum Sosialis Demokrat, partai yang telah diusung Mamdani sejak awal karier politiknya. Selain itu, kemenangan ini juga menjadi momen penting bagi komunitas minoritas, karena Mamdani menjadi walikota Muslim pertama sekaligus keturunan India-Uganda pertama di kota tersebut.
Namun di luar semua itu, kemenangan ini juga dirayakan oleh para penggemar sepak bola. Sebelum terjun ke dunia politik di New York, Mamdani sudah dikenal sebagai penggemar fanatik olahraga si kulit bundar.
Lahir di Kampala, Uganda, dari orang tua keturunan India, Mamdani pindah ke New York pada usia tujuh tahun. Di kota baru itu, ia menjadi pendukung setia Arsenal dan menyaksikan tim kesayangannya menorehkan sejarah sebagai juara Liga Premier Inggris tanpa kekalahan pada tahun 2004. Demi beradaptasi dan mendapatkan teman di lingkungan barunya, Mamdani menjadikan sepak bola sebagai jembatan sosialnya — baik saat bermain di lapangan beton atau rumput bersama tetangga, maupun saat bermain gim FIFA.
Sudah berapa lama Mamdani menjadi penggemar sepak bola sejati? Setidaknya 23 tahun. Dalam wawancara dengan majalah New York pada Desember 2002, Mamdani yang saat itu masih kecil menyebut dua keinginannya untuk Natal: FIFA 2003 dan SimCity 3000. Belakangan, ia mengakui bahwa dirinya “menghabiskan banyak hari masa mudanya” menonton acara Deadline Day di SkySports News.
Pada tahun 2012, Mamdani menulis di X (saat itu Twitter) bahwa ia membeli saham di klub Real Oviedo. Ketika itu, klub divisi tiga asal Spanyol tersebut membutuhkan £1,6 juta untuk menghindari kebangkrutan dan menjual saham seharga £9,50 per lembar. Mamdani menjadi salah satu dari lebih dari 20.000 orang yang ikut menyelamatkan klub tersebut. Tiga belas tahun kemudian, Oviedo kembali ke kasta tertinggi untuk pertama kalinya dalam seperempat abad.
Tentu saja itu bukan satu-satunya unggahan Mamdani yang berhubungan dengan sepak bola. Jika menelusuri akunnya, terlihat banyak postingan yang menonjolkan kebanggaannya sebagai penggemar Arsenal — mulai dari GIF Arsène Wenger, cuplikan dari Arsenal Fan TV, hingga komentar humor seperti, “Tak pernah terpikir aku akan lebih optimistis tentang sosialisme daripada Arsenal, tapi lihatlah kita sekarang.”
Perjalanan Mamdani di dunia politik New York dimulai sebagai manajer kampanye sebelum akhirnya mencalonkan diri untuk Majelis Negara Bagian New York pada tahun 2020. Ia berhasil mengalahkan petahana lima periode, Aravella Simotas, dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat, dan kemudian terpilih kembali tanpa lawan pada tahun 2022 dan 2024.
Setelah mewakili wilayah Astoria di Queens, Mamdani memutuskan untuk maju sebagai calon walikota New York City pada Oktober 2024.
Satu tahun kemudian, Mamdani menjadi tuan rumah turnamen sepak bola lima lawan lima bertajuk ‘Cost of Living Classic’ yang mempertemukan pemain dari kelima borough New York di Maimonides Park, Coney Island, pada 19 Oktober. Mirip seperti format Piala Dunia, turnamen ini menampilkan 32 tim yang bersaing melalui babak grup dan sistem gugur. Untuk memastikan penyelenggaraan yang sempurna, ia bekerja sama dengan NYC Footy guna menarik perhatian publik terhadap kebutuhan akan fasilitas sepak bola yang lebih terjangkau.
“Menyelenggarakan liga sepak bola di New York tidak pernah semudah ini,” jelas perwakilan NYC Footy. “Izin penggunaan lapangan sangat terbatas — dan keputusan-keputusan terbaru membuatnya semakin sulit diperoleh. Lampu penerangan banyak yang dicabut, anggaran dipotong, dan biaya sewa naik hingga 120%.”
“Selama 15 tahun, NYC Footy telah berjuang untuk meningkatkan dukungan kota terhadap sepak bola rekreasi — memperjuangkan akses yang lebih baik, pencahayaan yang memadai, dan kerja sama yang lebih kuat dengan Dinas Taman. Bahkan, kami baru-baru ini membantu mengamankan dana lebih dari $2 juta untuk perbaikan penerangan di Midtown Fields, meskipun kini ada kemungkinan besar proyek itu tidak akan terwujud,” tambah mereka.
Meski menghadapi berbagai kendala, mereka menegaskan akan terus memperjuangkan akses yang lebih baik di seluruh wilayah kota. “Jadi ketika ada pemimpin berpengaruh — baik dari dunia politik maupun tidak — meminta kami membantu mengadakan turnamen yang dapat meningkatkan perhatian publik dan sumber daya bagi olahraga ini, jawabannya selalu ya.”
Mamdani membangun kampanyenya dengan fokus pada isu keterjangkauan hidup bagi warga New York, mulai dari bus kota gratis, layanan penitipan anak universal, toko bahan pangan milik kota, upah minimum $30 per jam pada tahun 2030, pembekuan sewa untuk unit stabilisasi sewa, hingga perumahan yang lebih terjangkau. Kombinasi ini, ditambah dengan kehadirannya yang cerdas di media sosial, membuatnya naik daun dari tokoh yang nyaris tak dikenal menjadi fenomena politik baru.
Setelah mengalahkan mantan gubernur New York, Andrew Cuomo, dalam pemilihan pendahuluan Demokrat yang mengejutkan, Mamdani melanjutkan kemenangan atas Cuomo dan kandidat Partai Republik, Curtis Sliwa, dengan meraih 50,4% suara. Ia menjadi kandidat walikota pertama sejak 1969 yang mengantongi lebih dari satu juta suara dan juga walikota termuda sejak 1894.
Tahun 2026 akan menjadi tahun yang tak terlupakan bagi Mamdani, yang akan memulai masa jabatannya selama empat tahun pada 1 Januari. Selain memimpin kota terbesar kedua di Amerika Utara, ia juga berkesempatan menghadiri Piala Dunia FIFA pertamanya, di mana Stadion MetLife di East Rutherford, New Jersey, akan menjadi tuan rumah delapan pertandingan termasuk final.
Sampai saat ini, Mamdani berkomitmen untuk memastikan agar setiap warga New York memiliki kesempatan untuk menyaksikan turnamen olahraga terbesar di dunia tersebut. Pada bulan September, ia meluncurkan petisi “Game Over Greed” yang menuntut FIFA menghentikan sistem harga dinamis, membatasi harga tiket jual kembali, dan menyediakan 15% tiket untuk pendukung lokal.
Namun, kecil kemungkinan Mamdani dapat memengaruhi kebijakan harga tiket Piala Dunia mendatang. Tiket final dikabarkan dijual dengan harga antara $2.000 hingga $6.000, sementara biaya parkir untuk pertandingan fase grup bisa mencapai $175. Dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino yang sejalan dalam kebijakan tersebut, tampaknya para penggemar di seluruh Amerika Utara harus menerima kenyataan harga yang selangit ini.
Mamdani telah berhasil menaklukkan salah satu politisi paling berpengalaman di New York dan keluar sebagai pemenang — tapi apakah ia mampu menghadapi FIFA dan menjadikan Piala Dunia lebih terjangkau bagi para pendukung kelas menengah?