TRIBUNJAKARTA.COM, GROGOL PETAMBURAN - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta optimis pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tidak akan menggoyang aktivitas belanja masyarakat di pusat perbelanjaan atau mal.
Ketua APPBI DPD DKI Jakarta, Mualim Wijoyo menilai, karakter masyarakat Jakarta yang cenderung konsumtif menjadi salah satu faktor kuat mengapa sektor ritel diprediksi tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Hal itu disampaikannya menanggapi kondisi lesunya ekonomi saat seiring melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
"Kalau kita berpikir tentang dolar naik dan lain sebagainya, itu satu hal yang berbeda. Tapi masyarakat kita ini cukup, cukup konsumtif, ya, kalau saya boleh katakan," ujar Mualim di sela pembukaan Festival Jakarta Great Sale (FJGS) 2026 di Jakarta, Rabu (10/6/2026).
Mualim menegaskan, industri pusat perbelanjaan di Jakarta sudah kenyang pengalaman dalam menghadapi berbagai guncangan ekonomi.
Salah satu bukti ketahanan sektor ini terlihat saat masa pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
Meski sempat terpukul hebat akibat pembatasan aktivitas, sektor ritel dan mal di Jakarta terbukti mampu bangkit dengan cepat begitu situasi membaik.
"Kalau kita berbicara beberapa tahun yang lalu saat Covid, ya, begitu mal dibuka, langsung meledak itu ya," kata Mualim.
Karenanya, ia optimis target Rp 16 triliun nilai transaksi di FJGS 2026 bisa tercapai.
Terlebih, agenda belanja tahunan ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Begitu banyak masyarakat menyambut dengan antusias dan ini menjadi menarik, karena selama ini pemerintah sudah mensupport," tuturnya.
Ajang belanja tahunan dalam rangka perayaan HUT ke-499 Jakarta tersebut akan berlangsung hingga 22 Juli 2026 dan diikuti sekitar 104 pusat perbelanjaan yang tersebar di seluruh Jakarta.