Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sulvi Sofiana
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA – Melemahnya daya beli masyarakat serta meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) masih lebarnya kesenjangan sosial dinilai menjadi pengingat bahwa cita-cita keadilan sosial yang diperjuangkan Presiden pertama Republik Indonesia, Bung Karno, belum sepenuhnya terwujud.
Menjelang peringatan wafat Bung Karno pada 21 Juni mendatang, Wakil Rektor II Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Supangat, mengajak masyarakat menjadikan momentum tersebut sebagai bahan refleksi terhadap perjalanan bangsa dalam mewujudkan kesejahteraan yang merata.
“Setiap tanggal 21 Juni kita bukan hanya mengenang wafatnya Bung Karno, tetapi juga merefleksikan apakah cita-cita kemerdekaan yang beliau perjuangkan sudah benar-benar dirasakan seluruh rakyat Indonesia. Pertanyaan itu masih sangat relevan hingga hari ini,” ujar Supangat, Rabu (10/6/2026).
Menurut Supangat, Bung Karno sejak awal menempatkan kemerdekaan sebagai sarana untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.
Berbagai pemikiran yang dituangkan dalam karya-karyanya menegaskan bahwa kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan, tetapi juga harus mampu menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.
Baca juga: Soekarno Trip 2026, Gen Z Diajak Mengenal Jejak Perjuangan Bung Karno di Surabaya
“Beliau tidak pernah memaknai kemerdekaan hanya sebagai terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan harus mampu menghadirkan kesejahteraan, keadilan, dan kesempatan yang sama bagi seluruh rakyat,” katanya.
Pandangan tersebut, menurutnya, tetap relevan di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih dihadapi masyarakat saat ini.
Supangat menilai gagasan Marhaen yang diperkenalkan Bung Karno pada era 1930-an masih memiliki relevansi kuat dalam konteks Indonesia modern.
Ia menjelaskan bahwa kelompok pekerja informal, pengemudi transportasi daring, pekerja lepas, hingga pelaku usaha mikro saat ini menghadapi persoalan yang tidak jauh berbeda dengan kaum Marhaen pada masa lalu.
Mereka memiliki kemampuan untuk bekerja dan berusaha, namun masih menghadapi keterbatasan akibat sistem ekonomi yang belum sepenuhnya memberikan kesempatan yang setara.
“Marhaen hari ini mungkin tidak lagi identik dengan petani kecil seperti pada masa kolonial. Bentuknya berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi substansi persoalannya masih sama, yaitu bagaimana negara memastikan masyarakat memperoleh kesempatan yang adil untuk hidup sejahtera,” jelasnya.
Selain konsep Marhaen, Supangat juga menyoroti pemikiran Bung Karno mengenai sosio-demokrasi. Menurutnya, demokrasi tidak boleh berhenti pada pelaksanaan pemilu semata, melainkan harus diwujudkan melalui pemerataan kesejahteraan dan perlindungan sosial.
Ia menyebut akses pendidikan yang setara, perlindungan tenaga kerja, hingga penegakan hukum yang berkeadilan merupakan bagian penting dari demokrasi yang sesungguhnya.
“Demokrasi akan kehilangan makna apabila hanya berhenti pada hak memilih. Demokrasi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari masyarakat melalui keadilan sosial yang nyata. Itulah pesan yang diwariskan Bung Karno,” tuturnya.
Di tengah dinamika pembangunan nasional, Supangat menilai semangat berdikari yang diperjuangkan Bung Karno tetap penting untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan meningkatkan perlindungan terhadap kelompok masyarakat rentan.
Menurutnya, pembangunan harus selalu berorientasi pada manusia dan memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Bung Karno telah meletakkan fondasi berpikir bahwa pembangunan harus berorientasi pada manusia. Selama masih ada kesenjangan sosial dan ekonomi, maka pemikiran beliau tetap menjadi pengingat bahwa kemerdekaan harus terus diperjuangkan melalui kerja nyata,” pungkasnya.
Bagi Supangat, peringatan wafat Bung Karno pada 21 Juni mendatang tidak sekadar menjadi agenda mengenang jasa sang proklamator. Lebih dari itu, momentum tersebut perlu dimanfaatkan untuk meneguhkan kembali komitmen seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan berkeadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam Pancasila.
Di tengah tantangan ekonomi, ketenagakerjaan, dan ketimpangan sosial yang masih terjadi, refleksi terhadap pemikiran Bung Karno dinilai penting agar arah pembangunan nasional tetap berpihak pada kesejahteraan rakyat dan penguatan keadilan sosial bagi seluruh warga negara.
Momen peringatan Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni dimanfaatkan ratusan anak muda Surabaya untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan bangsa.
Sekitar 100 peserta dari kalangan Generasi Z (Gen Z) mengikuti kegiatan Soekarno Trip 2026 dengan mengunjungi sejumlah situs bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan hidup Sang Proklamator di Kota Pahlawan, Sabtu (6/6/2026).
Kegiatan yang diinisiasi DPC PDI Perjuangan Surabaya tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Bung Karno 2026.
Para peserta diajak menyusuri jejak perjuangan Bung Karno mulai dari tempat kelahirannya hingga lokasi yang menjadi bagian penting dalam pembentukan pemikiran dan karakter kebangsaannya.
Selain mengenalkan sejarah, kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air di kalangan generasi muda.
Peserta Soekarno Trip berasal dari 31 kecamatan di Kota Surabaya. Mereka mengunjungi sejumlah lokasi bersejarah, antara lain Museum Dr Soetomo, SD Sulung, Rumah Kelahiran Bung Karno di Peneleh, hingga Rumah HOS Tjokroaminoto yang menjadi tempat Bung Karno menimba ilmu semasa muda.
Ketua Panitia Soekarno Trip, Khusnul Khotimah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda dalam rangkaian Bulan Bung Karno yang juga diisi dengan gowes kebangsaan, doa bersama, dan berbagai kegiatan lainnya.
“Tempat-tempat ini bukan sekadar bangunan. Ini saksi bisu lahirnya pemikiran besar, semangat nasionalisme, dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kami ingin anak-anak muda memahami bagaimana para tokoh membangun karakter, semangat juang, dan kecintaan terhadap tanah air," kata Khusnul.
Menurutnya, perjuangan tidak selalu diwujudkan melalui perlawanan fisik, tetapi juga melalui pendidikan, gagasan, serta keberanian menyuarakan kebenaran.
Wakil Ketua Bidang Pariwisata, Pemuda dan Olahraga DPC PDI Perjuangan Surabaya itu menilai generasi muda saat ini memiliki kepedulian terhadap berbagai isu bangsa yang kerap mereka sampaikan melalui media sosial.
Karena itu, mereka perlu dibekali pemahaman sejarah yang kuat agar mampu memahami akar perjuangan para pendiri bangsa.
“Anak-anak muda ini bukan generasi yang apatis. Mereka berani bersuara di media sosial. Nah, kegiatan ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar bangsa juga lahir dari gagasan-gagasan besar para pendiri bangsa,” ujarnya.
Konsep wisata sejarah yang dikemas secara santai dan edukatif tersebut mendapat respons positif dari peserta.
"Saya tahu rumah lahir Bung Karno dari buku," kata Satrio Bagus Irwana, pelajar SMA Negeri 15 Surabaya asal Kecamatan Gayungan.
Menurutnya, Bung Karno merupakan sosok yang bijaksana, cerdas, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat.
“Ternyata di sini kita bisa healing sambil dapat ilmu. Penjelasannya mudah dipahami dan bikin enjoy,” ujar peserta lainnya.
Untuk meningkatkan partisipasi peserta, panitia juga menggelar lomba konten kreator dengan mengajak seluruh peserta mengabadikan pengalaman selama mengikuti Soekarno Trip melalui media sosial.