TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, LANDAK - Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, tidak pernah kehabisan cerita tentang hamparan tanahnya yang subur.
Di balik riuh pertumbuhan ekonominya, Kecamatan Jelimpo hadir sebagai salah satu wilayah yang memegang peranan krusial.
Bukan sekadar pelengkap peta administratif, data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Jelimpo adalah motor penggerak hijau yang menyimpan potensi sekaligus tantangan geografis yang dinamis.
Berikut adalah bedah profil dan potensi Kecamatan Jelimpo yang dikemas dalam tiga tema besar.
Secara topografi, Jelimpo bukanlah wilayah yang kecil. Dengan total luas wilayah mencapai 843,80 kilometer persegi, kecamatan ini membawahi 13 desa mandiri, mulai dari Desa Jelimpo sebagai pusat administrasi, hingga desa-desa penyangga seperti Tubang Raeng, Sekais, dan Kersik Belantian.
Posisi Jelimpo sangat strategis karena menjadi jembatan penghubung yang berbatasan langsung dengan beberapa titik penting:
Utara: Kecamatan Kuala Behe dan Air Besar
Selatan: Kabupaten Sanggau
Barat: Kecamatan Ngabang
Timur: Kabupaten Sanggau
Luasnya wilayah ini menuntut tata kelola infrastruktur yang kuat, mengingat jarak antar-desa yang cukup menantang dan karakteristik lahan yang bervariasi.
Siapa motor penggerak Jelimpo, Jawabannya ada pada profil penduduknya.
Berdasarkan catatan BPS, Jelimpo dihuni oleh lebih dari 26.000 jiwa.
Baca juga: Harapan Bupati Landak Cegah Putus Sekolah : Pendidikan adalah Modal Penting Masa Depan
Ada satu poin menarik yang ditangkap oleh radar editor dari data demografi Jelimpo, Rasio Jenis Kelamin (Sex Ratio) yang konsisten di atas angka 100.
Artinya, jumlah penduduk laki-laki di kecamatan ini lebih banyak dibandingkan penduduk perempuan.
Dalam kacamata ekonomi pembangunan daerah, struktur demografi seperti ini menempatkan Jelimpo pada posisi diuntungkan untuk sektor-sektor yang membutuhkan kapasitas fisik besar.
Seperti pembukaan lahan, pengelolaan perkebunan, dan sektor pertanian intensif yang selama ini menjadi urat nadi masyarakat setempat.
Membedah Jelimpo tidak akan lengkap tanpa melihat apa yang tumbuh di atas tanahnya.
Sektor agraris, khususnya pemanfaatan lahan kering untuk tanaman pangan dan hortikultura—tetap menjadi primadona utama.
Sektor Pertanian: Ribuan hektar lahan di Jelimpo dioptimalkan untuk budidaya padi sawah dan padi ladang.
Tanah subur di kawasan ini juga menjadi rumah yang ramah bagi tanaman hortikultura dan perkebunan karet serta kelapa sawit rakyat.
Tantangan Mitigasi Bencana: Namun, alam selalu memiliki dua sisi mata uang. Data BPS juga menggarisbawahi bahwa dengan curah hujan yang relatif tinggi dan keberadaan aliran sungai, beberapa desa di Jelimpo memiliki kerentanan terhadap bencana banjir musiman.
Tantangan Jelimpo ke depan adalah bagaimana mengonversi keunggulan jumlah tenaga kerja produktif dan luasnya lahan kering menjadi hilirisasi produk pertanian yang bernilai jual tinggi.
Jika konektivitas infrastruktur antar-13 desa dapat ditingkatkan dan mitigasi banjir mampu ditekan, Jelimpo bukan tidak mungkin akan menjelma menjadi lumbung pangan utama bagi Kabupaten Landak di masa depan. (*)