TRIBUNNEWSMAKER.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat terkait keberadaan pasukan militernya di wilayah tersebut.
Teheran secara tegas meminta Washington menarik seluruh kekuatan militernya dari Timur Tengah atau bersiap menghadapi serangan balasan dalam skala besar yang diklaim telah dipersiapkan.
Pernyataan itu muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan sejumlah negara sekutu di kawasan Teluk.
Pejabat militer Iran menegaskan bahwa pangkalan-pangkalan militer AS di Timur Tengah dapat menjadi target jika ketegangan terus meningkat.
Ancaman tersebut disampaikan setelah serangkaian aksi saling serang antara kedua pihak yang memicu kekhawatiran akan pecahnya konflik regional yang lebih luas.
Iran bahkan memperingatkan bahwa seluruh fasilitas militer Amerika di kawasan tidak akan aman apabila Washington tetap mempertahankan tekanan maupun operasi militernya.
Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan akan tetap melindungi kepentingan dan personelnya di Timur Tengah di tengah situasi yang semakin tidak menentu.
Peringatan terbaru dari Teheran ini memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi perang terbuka yang dapat mengguncang stabilitas kawasan serta mengganggu pasokan energi global.
Sejumlah negara dan organisasi internasional pun menyerukan penahanan diri agar konflik tidak berkembang menjadi konfrontasi besar yang berdampak luas bagi dunia.
Baca juga: Donald Trump-Netanyahu Tak Akur, Iran Manfaatkan Celah dan Ambil Alih Kendali Meja Perundingan
Seperti diketahui, Iran memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap serangan atau ancaman terhadap negaranya akan mendapat respons, setelah laporan mengenai serangan AS terhadap sejumlah target militer Iran.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga mendesak pasukan asing di kawasan tersebut untuk meninggalkan Timur Tengah demi mengurangi risiko konflik yang semakin meluas.
Pernyataan Araghchi muncul pada Selasa (9/6/2026) setelah Amerika Serikat menyatakan telah menyelesaikan serangkaian serangan terhadap Iran, yang kemudian dibalas dengan peluncuran drone dan rudal oleh Teheran.
Araghchi mengatakan, Iran tidak akan membiarkan serangan maupun ancaman terhadap negaranya tanpa balasan.
Melalui unggahan di X, ia menilai Amerika Serikat telah memilih untuk menguji tekad Iran meski menghadapi kekalahan di medan perang.
“Terlepas dari kekalahannya di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami,” tulis Araghchi.
“Angkatan Bersenjata kami yang kuat tidak akan membiarkan serangan atau ancaman apa pun tanpa jawaban,” lanjutnya.
Ia juga memperingatkan pasukan Amerika Serikat yang berada di kawasan Timur Tengah.
“Tinggalkan wilayah kami jika Anda ingin tetap aman,” ujar Araghchi.
Araghchi menambahkan bahwa sejarah Teluk Persia memiliki “banyak bab tentang nasib buruk para pihak luar yang masuk tanpa izin”.
Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di Timur Tengah. Sejumlah pejabat Angkatan Laut AS menyebut hampir 20.000 pelaut dan marinir saat ini berada di laut untuk mendukung operasi di kawasan tersebut.
Pengerahan itu mencakup kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS George HW Bush, 18 kapal perusak berpeluru kendali, Unit Ekspedisi Marinir ke-31, serta lebih dari selusin skuadron udara yang dikerahkan di kapal.
Pasukan tersebut menjadi bagian dari sekitar 50.000 personel militer AS yang kini berada di Timur Tengah, termasuk tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 dan penerbang yang menjalankan misi dari pangkalan-pangkalan di kawasan.
Araghchi kembali menyampaikan peringatan kepada pasukan asing yang beroperasi dekat wilayah Iran.
Ia mengatakan, keberadaan mereka membuat risiko meningkat, baik karena kesalahan manusia, kecelakaan, maupun kemungkinan terjebak dalam baku tembak.
“Pasukan asing yang berada dekat dengan wilayah kami berada dalam risiko terus-menerus akibat kesalahan manusia mereka sendiri, kecelakaan biasa, atau berpotensi terkena baku tembak,” tulis Araghchi.
“Untuk mengurangi risiko, solusi terbaik adalah mereka pergi,” tambahnya.
Ia juga mengatakan, Iran lebih memilih jalur diplomasi, tetapi tetap memiliki pilihan lain.
“Kami lebih memilih bahasa diplomasi, tetapi kami juga berbicara bahasa lain,” ujarnya.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengeluarkan peringatan serupa dan meminta Amerika Serikat tidak melanggar komitmennya.
Amerika Serikat sebelumnya menyebut serangannya terhadap Iran menargetkan sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan radar sebagai respons atas jatuhnya sebuah helikopter Apache milik AS.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, jet tempur Amerika menyerang target-target pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, dan radar pengawasan di dekat Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan serangan terhadap 21 target di pangkalan AS di kawasan, termasuk satu di Bahrain dan satu di Yordania. Militer Kuwait juga mengatakan bahwa mereka mencegat sebuah serangan.
AS menyebut tindakannya sebagai “respons yang proporsional” atas jatuhnya helikopter tersebut, sementara IRGC menggambarkan serangan AS sebagai tindakan “kejam”.
Ketegangan ini terjadi setelah dua awak helikopter yang jatuh berhasil diselamatkan oleh drone laut milik AS pada Senin.
Menurut pejabat AS, Iran menggunakan drone dalam serangan terhadap helikopter itu, meski belum jelas apakah drone tersebut memang sengaja menyerang. Media semi-resmi Iran, Mehr News Agency, melaporkan Iran belum mengklaim bertanggung jawab atas jatuhnya pesawat tersebut.
(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)