TRIBUN-SULBAR.COM - Sebanyak 48 tim dengan total 104 pertandingan, akan menghiasi gelaran Piala Dunia 2026 yang dilaksanakan di tiga negara yakni Kanada, Amerika Serikat dan Meksiko.
Ajang empat tahunan ini selalu dituunggu-tunggu para penggemar bola, termasuk di Mamuju. Ketua Askab PSSI Mamuju, Febrianto Wijaya ikut mengulas format baru hingga siapa saja tim kuda hitam ang akan memberi kejutan di ajang ini, seperti apa pemaparan Febrianto? simak melalui wawancara khusus kami bersamanya di Bawah ini.
Baca juga: Piala Dunia 2026 Panggung Terakhir Mega Bintang Hingga Kejutan Tim Kuda Hitam
Baca juga: Febrianto Jagokan Portugal Juara Piala Dunia Jadi Panggung Terakhir Cristiano Ronaldo
HOST: Jadi hari ini, tribuners, kita akan membahas tema kita terkait Piala Dunia, yaitu format baru drama baru, dan siapa tim Kuda Hitam
Nah, hari ini Bung Febrianto Wijaya akan berbicara banyak prediksi-prediksinya ke depan seperti apa. Nah, hari ini yang spesial juga beliau memakai jersey Portugal ini Portugal Kita mau tahu dulu nih, pertama, sebelum kita masuk ke tema mungkin tim jagoannya di Piala Dunia siapa sih?
FEBRIANTO: Terima kasih, Bro Ilham, hari ini saya sengaja pakai baju Portugal karena ini kemungkinan juga menjadi last chance dari Cristiano Ronaldo yang dia salah satu favorit saya juga. Tapi di dalam Piala Dunia kali ini, saya menjagokan empat tim sesungguhnya. Ada satu dari Amerika Latin, dua dari Eropa, dan satu dari Asia.
Dari Amerika Latin itu tentu Argentina. Dari kecil itu kan saya senang sama namanya Gabriel Omar Batistuta, dia yang membuat saya menjadi atlet Jadi sampai sekarang saya masih senang dengan Argentina. Terus di Eropa ada Perancis dan Portugal tentunya. Terus di Asia saya menjagokan Jepang. Saya sangat menjagokan Jepang karena banyak hal yang saya lihat di Jepang memungkinkanlah untuk kemudian dia menjadi Kuda Hitam kali ini.
HOST: Tadi sempat disebut Argentina apakah karena di Argentina juga ada Lionel Messi yang last chance-nya juga di Piala Dunia kali ini?
FEBRIANTO: Pertama memang dalam budayanya di Argentina sama dengan Brazil, sepak bola itu mungkin bagian salah satu yang dianggap agama di sana sejak munculnya Diego Armando Maradona sampai eranya Caniago Batistuta, Crespo, sampai hari ini di Lionel Messi.
Itu memang budaya sepakbolanya sangat kental sama dengan Brazil. Nah, mungkin juga bagian daripada dua panggung pemain besar ini, si Messi dan Ronaldo yang bisa saja menjadi last chance-nya mereka. Nah, ini sayang sekali sebenarnya kalau kita tidak nonton mereka di Piala Dunia yang bisa saja ini yang terakhir kita mau nonton mereka.
Terus timnas Brazil tidak masuk radar, saya menjagokan Brazil menjadi Kuda Hitam sebenarnya. Walaupun dia salah satu, bukan nomor satu pemilik Piala Dunia terbanyak. Tapi di beberapa tahun terakhir ini bukan saja tentang bagaimana Brazil bermain tim nasionalnya, tapi pemain-pemain yang main di liga-liga top ini kayaknya belum terlalu, apa namanya belum terlalu nonjol untuk menjadi salah satu kandidat favorit.
Walaupun ada faktor Ancelotti di situ yang faktor pelatih yang luar biasa
di mata saya. Tapi kan kalau berarti bisa dibilang ini eranya timnas Brazil ini terakhir itu era 2000-an.
Ketika mereka juara Piala Dunia 2002, saat itu masih ada Ronaldinho, Ronaldo, Rivaldo, ya Ketika itu yang Marco Scavull Jadi Brazil sebenarnya itu, apapun dia dia punya budaya sepak bola dan sejarah panjang di Piala Dunia.
Mohon maaf kalau penggemarnya Brazil saya menempatkan salah satu Brazil ini menjadi kuda hitam karena dulu kalau kita mundur ke belakang yang menghiasi jajaran pemain terbaik di dunia itu semuanya rata-rata dari Brazil dan bermain di Liga-Liga top seperti kita ketahui di era 90-an itu Liga topnya Liga Itali.
Pemain yang paling banyak main di situ pemain bintangnya dari Brazil kita tahu itu Ronaldo, ada Cafu, ada banyak Dida. Akhirnya Kalau nggak salah 2002 atau 2002, ya. Terakhir Brazil 2002, terakhir Piala Dunia Jepang, Korsel Jadi waktu itu pemain timnasnya dihuni dengan pemain-pemain yang memang di atas rata-rata dan bermain di Liga Top terbaik pada saat itu.
Nah, di sekarang, Brazil kita bisa lihat lah dan kita mengadu komposisinya dengan tim-tim lain, kita bisa lihat nanti berdasarkan statistik permainan satu, dua tahun terakhir, bagaimana dia bermain, prestasi apa yang dia dapatkan.
Bahkan key player-nya kayak Neymar. Neymar kan dengan talenta yang luar biasa bisa juga menjadi last chance yang hari ini. Bisa saja kan dengan usianya, Neymar yang kita harapkan, tapi dia belum mencapai
top perform waktu kita kenal Neymar waktu main di PSG, main di Barcelona dan main di mana? Di Santos.
Jadi ya. Saya menempatkan Brazil di kuda, kuda hitam. Jadi bukan favorit untuk saat ini.
HOST: Walaupun mereka sudah lima kali juara Piala Dunia?
FEBRIANTO : Iya. Itu yang saya mau mulaiinnya dengan dia punya sejarah panjang di Piala Dunia. Dan itu modalnya mereka. Modal mereka, apalagi yang main di Amerika kan, suporternya dekat untuk melihat mereka support.
HOST: Nah, Bang, Piala Dunia kali ini melibatkan tiga negara sebagai tuan rumah, ada Kanada, Amerika Serikat, kemudian Meksiko. Dengan total format yang berubah juga. Dulunya 32 tim, sekarang 48 tim. Ada perbedaan yang sangat jauh sekali, Bang, dengan jumlah peserta yang lebih banyak dan total pertandingan 104 laga. 104 laga, ya? 104 laga. Bagaimana, Bang, melihat ini, persaingan-persaingan antar grup?
FEBRIANTO: Wah, ini memang agak unik ya, karena dari 48 tim ini kita akan mendapatkan 12 juara grup, 12 runner up dan delapan runner up tiga terbaik dari 12 grup. Saya pikir ini kesempatan buat negara-negara yang, apa namanya, yang belum terlalu tinggi levelnya untuk menjadi bagian di 32 besar nanti karena ada komposisi delapan tiga terbaik dan ini menguntungkan sesungguhnya.
Kalau kita di wilayah Asia menguntungkan di negara-negara yang yang
ini, yang benua-benua sepak bolanya masih kalah dengan Eropa. Sebenernya sangat menguntungkan. Karena pertama kuotanya semakin banyak. Yang kedua, peluang kita lolos ke fase selanjutnya itu juga semakin besar dan ini akan semakin menarik menurut saya.
Karena biar bagaimanapun, Piala Dunia ini event empat tahun yang kita tunggu. Sayang sekali kalau dimainkan hanya 32 negara. Makanya mungkin FIFA berpikir bahwa kenapa tidak untuk membukanya ini ke lebih banyak negara agar kemudian bisa dinikmati di seluruh dunia. Dan ini kesempatan baik buat negara-negara yang saya maksud tadi.
HOST: Kemudian ini ada 4 debutan, Bang. Di Piala Dunia kali ini ada Uzbekistan, Yordania, Tanjung Verde dan Kirgistan. Menurut Abang, ini 4 tim debutan bisa menjadi kuda hitam seperti Brazil juga nggak, Bang?
FEBRIANTO : Kalau digabung ini, jumlah penduduknya lebih banyak Indonesia. Tapi ya namanya debutan tentu euforianya akan berbeda.
Jadi, bermain di level Piala Dunia itu tentu levelnya yang sangat tinggi. Seluruh pemain dan negara-negara pasti mempersiapkan timnya dengan baik. Kalau saya melihat empat negara ini yang bikin saya justru melihat ada salah satu dari Asia juga yang mungkin ada potensi untuk berbicara lebih jauh.
Yaitu Uzbekistan. Dan kita lihat juga bagaimana dia melakoni pra kualifikasi sampai dengan uji cobanya. Kalau dia bermain dengan tim-tim selevel Asia, dia juga bisa saling mengalahkan. Begitu juga kalau dia uji coba di tim Afrika, negara Afrika ataupun di negara Eropa. Dia juga kalau kalah juga kalahnya tidak terlalu banyak.
Nah menurut saya dari empat negara itu menarik sekali untuk mulai di Uzbekistan. Nah, sampai bagaimana nanti kita lihat. Mungkin saya masih harus mempelajari lebih dalam tentang siapa key player-nya. Kayaknya ada dua pemain yang main di Manchester City kayaknya ya? Iya. Yang saya lupa namanya.
Pokoknya ada dua pemain yang bermain di Manchester City. Dan ini menunjukkan bahwa Uzbekistan ini sudah berbenah. Kalau kita pikir Uzbekistan dibanding negara-negara yang lain kan, kita nggak terlalu mengenal apalagi di level Asia sesungguhnya. Tapi Uzbekistan sekarang agak menarik juga untuk kita kaji nanti.
HOST: Artinya dengan format baru ini Bang, 48 tim. Selama ini kan kita selalu berpatokan pada negara-negara yang istilahnya kiblat Piala Dunia, Perancis, Italia, Brazil. Tapi kali ini tidak begitu sekarang banyak. Artinya sekarang sudah banyak tim-tim yang sudah bagus termasuk Bang. Ini orang lagi melihat ini, Norwegia.
Dengan Erling Haaland-nya. Saka sama Odegaard. Mereka berangkat ke Piala Dunia 2026 ini dengan semangat Viking, Bang. Semangat seorang Viking yang mereka berangkat ke sana. Kira-kira Norwegia ini bisa menjadi kuda hitam juga Bang disana, Memberi kejutan untuk tim-tim besar itu?
FEBRIANTO: Nah, buat saya secara pribadi berwilhamnya sebenarnya kalau kita menonton sepak bola secara umum, bahkan kita di Indonesia, permainan kita itu sangat pesat. Yang menentukan adalah bagaimana ketenangan kita dalam menyelesaikan pertandingan. Bagaimana
kemudian strategi pelatih yang dia akan maksimalkan sebelum pertandingan.
Makanya untuk kali ini, Piala Dunia ini saya yakin akan banyak sekali kejutan seperti yang Anda ucapkan tadi. Norwegia itu kalau dikatakan salah satu kejutan yang paling luar biasa, iya. Karena di dalam pra kualifikasinya dia mendapatkan kalau nggak salah dalam 8 kemenangan 37 gol. Kombinasi Haaland lagi fit, Saka lagi fit, Odegaard lagi fit.
Dengan semangat supporter yang luar biasa. Termasuk juga kayak di Piala Dunia 2022. Sama-sama finalisnya Maroko. Jadi saya juga masih menganggap bahwa Maroko ini dengan pemain-pemain yang ada modal juara Piala Afrika kemarinnya juga bisa menjadi kuda hitam.
Dan yang terakhir juga bisa menjadi kuda hitam yang luar biasa itu Jepang. Jepang itu kalau kita merentet setiap tahun, tim Eropa itu sudah dikalahkan. Bahkan waktu tahun 2000-2001. Tahun 2022 dia sudah mengelakkan Jerman juga di Piala Dunia. Dan dia sudah terbiasa bermain di Piala Dunia. Yang membedakan nanti itu tadi, strategi pelatih kemudian bagaimana kesiapan tim dan ketenangan tim menghadapi Piala Dunia ini. Piala Dunia.
HOST: Kemudian juga Bang, Argentina sebagai juara bertahan. Lainnya misinya masih ada juga bahkan main tahun ini. Kemudian ini apakah Argentina ini masih sangat favorit untuk menjadi juara? Artinya tadi kita berkaca dari kedalaman skuad juga ya. Di Amerika Latin berbenah, di Eropa pun begitu Bang. Tadi disebutkan Norwegia dengan semangatnya begitu membara juga akan datang ke Piala Dunia ini. Kira-kira ini Argentina masih sangat favorit atau bagaimana mereka
mempertahankan gelar juaranya?
FEBRIANTO: Iya. Seperti pepatah mengatakan, mempertahankan jauh lebih sulit daripada merebut. Tentu akan bebannya berbeda. Tapi kalau kita lihat dari kedalaman skuadnya, Argentina itu tidak banyak berubah loh.
Hanya mungkin. Kalau komposisi yang tahun lalu, eh 2022 sama tahun ini, dari tahun 2026 itu komposisinya 70-30 persen pemain barunya. Pemain lamanya 70 persen, pemain barunya 30 persen yang juga perform di klub. Misalkan di Copa, di Copa kan perform di Copa.
Messi juga masih perform, ada siapa lagi? Ada Alvarez kan masih perform juga. Terus keepernya Martinez juga masih perform. Kayaknya kemarin juara European League kalau nggak salah ya, Aston Villa. Jadi saya pikir Argentina ini, apa namanya, walaupun bukan unggulan utama,
tapi akan selalu juga bisa memberikan kejutan. Apalagi saya ulangi, ini bermain di Amerika, bermain di Meksiko dan bermain di Kanada yang notabene pasti akan lebih banyak supporter yang bisa turun langsung untuk mendukung tim kesayangannya.
HOST: Tadi disebutkan nama-nama besar, bang. Ada Messi, Ronaldo, kemudian juga dari Brazil ada Casemiro. Kemudian juga di Jerman ada Manuel Neuer, itu kiper yang usianya sudah 40 tapi kembali tampil di Piala Dunia. Ini seakan-akan menjadi last chance, panggung terakhir bagi pemain-pemain hebat ini, bang.
Kira-kira menurut pandangan Abang sendiri, bagaimana mungkin mereka ini ketika nanti akan tampil di panggung terakhir ini, Bang? Karena kita mungkin tidak akan melihat lagi Messi lalu di 4 tahun akan datang.
FEBRIANTO: Kalau saya jadi mereka, saya pasti kasih 200 persen. Tapi saya lihat di beberapa pemain yang top level, yang masih bermain di Piala Dunia ini memang pemain-pemain yang konsisten. Konsisten bukan cuma 1-2 tahun, tapi 15 tahun ke belakang. Kayak Messi, Ronaldo, Neuer. Masih pilihan utama bahkan menjadi kapten tim di tim yang masih dia bela. Jadi kalau saya jadi mereka dan saya menjadi penonton, saya jadi mereka, saya akan kerja untuk memaksimalkan saya terakhir di Piala Dunia dan untuk para penikmat sepak bola ini.
Sangat sayang kalau kita tidak menonton mereka. Karena tadi seperti kamu bilang bahwa ini bisa jadi panggung terakhir. Kemampuan yang terbaik dari zaman dulu. Rivalitasnya, saya masih ingat dulu Bang, ketika mereka masih main di lantai. Rivalitas Barcelona, Real Madrid ini luar biasa sekali. 10, 1 dekade terakhir itu persaingan mereka sangat. Iya, hampir malas kita nonton liga lain, kira-kira. Iya, malas ya.
Jadi kalau El Clasico kita nonton waktu zaman itu, kayaknya liga lain sudah lewat semua. Padahal kalau kita berkaca mungkin 20 tahun yang lalu, Italia sangat memiliki Serie A, kemudian Juventus. Tapi ketika Ronaldo Messi muncul, sudah, La Liga semua kita selesai. Iya makanya saya menjagokan Portugal karena saya melihat Portugal itu selain dari kedalaman skuadnya yang sangat bagus, saya melihat seperti Argentina di tahun 2022. Argentina 2022, semuanya pemain bekerja untuk Messi. Pelatih, pemain, semuanya, bahkan supporter itu bekerja untuk Messi. Untuk mendukung Messi mendapatkan Piala Dunia.
Bisa kita lihat kan? Performnya pokoknya, Messi aja disentuh sedikit, semuanya akan cover si Messi kan. Nasib melihat itu ada di Portugal hari ini. Seolah-olah bukan cuma kedalaman skuadnya, tapi auranya seperti itu, semua ingin bekerja untuk Ronaldo, untuk sukses mendapatkan Piala Dunia.
Walaupun Portugal, Argentina bukan unggulan utama. Mungkin masuk lima besar atau bahkan tujuh besar unggulan untuk mendapatkan World Cup tahun ini. Tapi dengan kebersamaan timnya, kedalaman skuadnya, dan bagaimana dia bermain di tahun terakhir, itu bisa kita jagokan. Apalagi pemainnya Portugal itu, coba kita lihat kedalaman skuadnya.
Kayaknya ini kedalaman skuad paling bagus dibanding pelatih-pelatih yang ada mereka main.
HOST: Salah satu juga titel yang belum didapatkan Ronaldo kan, Piala Dunia. Iya betul, Piala Dunia. Kalau Messi sudah, Bang? Iya, kalau Messi sudah selesai. Messi sudah sampai di puncak lah. Sudah sampai puncak, sisa dia mengejar mungkin rekornya Pele. Oh iya. Juara berapa kali Piala Dunia kan? Iya betul. Pele sama Maradona ya?
FEBRIANTO: Maradona kayaknya dua kali juara Piala Dunia. Dia juga legenda Maradona.
HOST: Nah kemudian, Bang, ini di prediksi pertandingan ini akan sangat panjang. Kira-kira bagi pemain, Bang, yang tentunya juga ditargetkan tinggi oleh supporter-nya, oleh pelatihnya, apakah ini akan sangat menguras fisik?
FEBRIANTO: Sebagai mantan pemain, jangankan bermain di level Piala Dunia, bermain di level Liga Nasional saja. Bermain di level, jangan kan itu, kompetisi nasional saja atau kompetisi tingkat provinsi saja, ya,
dalam waktu 1-2 minggu ke depan misalkan itu stresnya tinggi. Nah gitu. Tapi saya kan pemain Indonesia, mereka pemain Eropa yang terbiasa dengan kompetisi yang begitu padat.
Jadi tergantung yang saya kembali tadi, kalau kondisi timnya kondusif, kemudian pelatihnya dan manajemennya mampu memanage kondisi stres pemain dengan baik. Saya pikir satu bulan ini, satu bulan lebih kalau mencapai final bukan hal yang sulit untuk dilewati, walaupun stresnya akan tinggi.
Kemarin sempat juga viral di media sosial itu, ada timnas dari Eropa. Itu mereka beradaptasi dengan cuaca panas. Cuaca panas di Amerika sendiri terbangnya. Jadi pomelinya dijemur semua, sampai ada yang pakai es batu segala macam. Kira-kira cuaca ini sangat mempengaruhi sekali kalau kita seorang atlet.
Cuaca itu sangat mempengaruhi mood kita. Sekali kalau kamu terbiasa dengan cuaca dingin, lalu kamu kepanasan, itu adaptasinya memang agak butuh waktu. Itu waktunya tidak mudah juga. Makanya pasti setiap tim nasional akan menggunakan banyak teknologi, bagaimana caranya supaya pemainnya cepat untuk bisa beradaptasi. Dan cuaca itu salah satu faktor pendukung juga. Makanya saya katakan tadi, Jepang itu menjadi kuda hitam karena mereka sudah terbiasa. Cuma, kayanya sudah terbiasa. Cuaca dingin biasa, cuaca panas biasa. Lebih terbiasa. Kecuali kalau di Eropa, macam mungkin Norway, Sweden, yang gue bilang. Ah, itu semua itu yang butuh penyelesaian. Iya. Betul. Pekerjaannya juga sangat menentu.
HOST: Jadi sangat mengurus fisik juga itu ternyata.
FEBRIANTO: Pasti, pasti. Tapi lagi-lagi, teknologi di sepak bola kan sudah semakin maju. Dokter tim, ahli gizinya itu udah menghitung kadar dehidrasi dan lain-lain. Jadi sehingga itu pasti akan, walaupun sulit akan bisa dihadapi sama setiap negara.
HOST: Bang, dari 48 tim yang akan berlaga di Piala Dunia ini, ada satu tim, Timnas Iran. Ini Timnas Iran, tim dari Timur Tengah. Seperti kita tahu, ini kan di Timur Tengah sering ada gejolak. Peperangan antara Iran dengan Amerika dan Israel. Mereka ke Amerika dengan tekad kuat untuk bisa bersaing di sana. Tapi kemarin dapat isu saya, Bang. Dapat kabar bahwasannya Timnas Iran yang harusnya awalnya bermarkas di Arizona, Amerika Serikat, itu akhirnya pindah ke Tijuana, Meksiko.
Bermarkas karena faktor itu tadi, peperangan. Mereka kesulitan dapat visa. Dan juga kemarin saya dapat kabar bahwasannya Timnas Iran ketika misalnya mereka bertanding fase grup di Amerika Serikat, pada hari yang sama mereka juga harus meninggalkan negara itu kembali ke Meksiko.
Jadi dilarang menginap, Bang. Jadi Iran main di Amerika? Ini di Amerika atau di Kanada? Di Amerika. Fase grupnya.
FEBRIANTO: Saya kalau menilainya sebenarnya, buat saya ya, sepak bola itu bukan cuma permainan. Bisa saja juga menjadi ajang perdamaian. Siapa tahu dengan adanya dan mainnya Timnas Iran di Amerika ini bisa membuka secercah harapan agar kemudian perang antara Amerika dan Iran ini bisa segera selesai. Dan kalau memang begitu adanya bahwa
tidak bisa menginap kalau bermain di negara bagian dari Amerika, saya
pikir itu salah satu upaya dari FIFA juga untuk bagaimana meningkatkan keamanan daripada setiap negara. Tapi yang saya sangat harapkan dan kita berdoa bersama-sama, semoga ajang World Cup ini bukan cuma pertandingan antara setiap negara untuk memperebutkan piala, tapi juga menjadi ajang perdamaian terhadap seluruh hal yang ada di dunia ini.
HOST: Nah, Bang, tadi kita sudah banyak bicara soal timnas negara lainnya. Kita bergeser lagi sedikit ke timnas negara kita sendiri, di Indonesia. Dengan format 48 tim ini, adakah secercah, walaupun kecil secercah harapan, cahaya harapan untuk Timnas Indonesia mungkin 4 tahun akan datang atau 8 tahun akan datang itu bisa tampil juga di tim rebutan di Piala Dunia seperti Yordania, Kirgistan, Kazakhstan dan lain-lain.
FEBRIANTO: Sebenarnya di tahun kemarin kita hampir masuk sampai fase ketiga ya, kalau nggak salah untuk menuju playoff atau langsung dapat tiket langsung ke World Cup. Dan jika saya bilang ya, kalau diucapkan tadi secara harapan, menurut saya harapan kita sangat besar dengan 48 tim ini. Sangat besar, apalagi tim nasional kita ini setiap tahun grade-nya sudah mulai agak tinggi. Terbukti juga peringkat FIFA juga kita mulai membaik. Hanya kan kalau saya cara memandangnya, PSSI kita tahun ini, di dua tahun terakhir ini masih rencana jangka pendek semua.
Namun jika kita mempersiapkannya per hari ini, menuju ke tahun 2030 dengan mempunyai konsep pembangunan sepak bola yang inklusif, lalu kemudian yang progresif. Saya yakin itu bukan hal yang bukan hal yang susah untuk kita dapatkan. Terbukti misalkan, Kurakaw bisa. Usbek bisa. Tanjung Verde bisa. Lalu kemudian apa tadi satu yang kita sebutkan? Yordania bisa.
Kan kalau kita mengacunya dari peringkat FIFA, dia di atas kita nggak jauh-jauh amat. Berbeda kalau kita ucapkan bahwa kita mau leveling Indonesia dengan Belanda, misalkan. Iya. Satu digit, satu digit kan peringkatnya. Nah, kita masih bisa pesimis.
Ada yang bahkan dua digit, dua digit besar peringkat FIFA-nya. Dan saya masih sangat optimis sebenarnya, Bro. Yang penting itu tadi. Kita sudah mulai mempersiapkan rencana jangka panjang, menengah sampai dengan rencana jangka pendeknya untuk kita persiapkan di tahun 2030.
HOST: Yang akan dimulai di tahun 2029 kali ya? Karena prakualifikasinya di situ kan? Jadi masih ada tiga tahun untuk bagaimana mengangkat level liga kita. Ya kan? Mengangkat level pelatih kita, mengangkat level pemain kita. Kalau problem terbesar kita kan sebenarnya. Apa ya?
FEBRIANTO: Buat saya ya, problem terbesar kita itu masalah mentalitas. Berulang kali saya ucapkan, pemain Indonesia itu kakinya bagus. Kau mau latih dia, kau mau kasih dia latihan fisik, latihan skills, pasti dia bisa ikuti. Apalagi kalau dengan kurikulum yang benar. Tapi kadang mentalitas kepalanya yang perlu juga kita perkuat. Menghadapi tim yang lebih besar, menghadapi kalau saya jadi pemain bintang, menghadapi kalau saya terpuruk. Kita kadang masih gagal di wilayah-wilayah situ. Nah, itu yang mengakibatkan perform pemain Indonesia tidak pernah mencapai level yang sesungguhnya, menurut saya.
Contoh misalkan ada legenda Portugal, Eusebio, Eusebio kan, yang di Portugal itu. Itu kan menjadi legenda di Real Madrid. Tapi dia lahir dari negara, kalau saya nggak salah itu, di salah satu negara kecil juga di Afrika dia lahirnya di situ. Bahwa tidak membuktikan bahwa kita lahir di
Indonesia, kita tidak bisa menjadi legenda di kelompok besar di Eropa.
Makanya saya selalu bicara di depan publik bahwa orang biasa mengatakan bahwa saya terlalu tinggi untuk berangan-angan, terlalu ini, tapi tidak. Sejauh ini karena sudah ada nih contoh-contoh yang bisa kita lihat.
Saya selalu katakan, jangan pemain hanya bermimpi menjadi pemain tingkat provinsi atau tingkat nasional. Kita harus bermimpi jadi tingkat dunia. Banyak yang kritik saya karena saya selalu ucapkan itu. Tapi nggak berhenti saya ucapkan, karena saya ingin menggapai mimpi-mimpi para atlet ini. Jika bukan hanya jadi legenda di Indonesia saja, tapi bisa legenda di dunia.
Ada dulu kita kenal, Ramang kan? Yang kita begitu dihargai. Betul. Anwar Ramang. Kenapa dia tidak ada lagi? Setelah saya diskusi dengan teman-teman yang lebih mengerti dan senior-senior yang lebih paham sepak bola, salah satu faktornya itu tadi. Mentalitas kita.
HOST: Makin teknis, Bang ya. Kemudian ini masih saya kitan itu juga. Apakah dengan saat ini, tadi disebutkan program jangka pendek.
Apakah program jangka pendek itu yang saat ini sedang dijalankan oleh PSSI, naturalisasi pemain yang sedang gencar dilakukan di berbagai timn0as kelompok usia, Bang. Itu pemain yang bermain di Eropa, kemudian dia naturalisasi karena ada faktor keturunannya Indonesia. Apakah itu akan jadi penghambat untuk pembinaan pemain muda kita ini, Bang? Kira-kira, peluang pandangan Abang.
FEBRIANTO: Buat saya, saya tidak alergi dengan hal begitu karena biar
bagaimanapun setiap orang yang punya potensi menjadi warga negara Indonesia, baik dia punya keturunan atau tidak. Kan kalau kita bicara tentang naturalisasi, acuannya kan undang-undang.
Kalau selama di aturan undang-undangnya ini memperbolehkan kita untuk naturalisasi, saya tidak alergi dengan itu. Tapi juga tidak terlalu mengalowit. tidak terlalu ingin bahwa itu menjadi senjata utama kita dalam membangun sebuah tim nasional. Dan juga tidak membuat saya pesimis untuk membina di usia muda. Justru saya jadikan itu scaling, supaya level pembinaan kita jauh lebih tinggi.
Saya selalu mengambil efek positif dari itu semua. Semoga juga teman-teman bisa melakukan itu. Jadi kalau kita ngapain kita ngeluain sedikit-sedikit naturalisasi, apa kita gunanya ini membina anak-anak justru harusnya kembalikan ke diri kita bagaimana caranya kita membina.
Jadi, kita harus meng-scaling bahwa, Eh, tambah kuat ini sainganmu, bos. Bukan cuma di dalam negeri sendiri, di luar negeri ini bisa jadi saingan juga. Jadi, kita harus mempersiapkannya dari awal dan saya yakin banyak orang di luar sana yang akan melakukan hal yang sama.
Ngapain kita mengutuk kegelapan, tau? Mending kita menyalakan lilin saja karena inilah kondisi negara kita hari ini. Dan banyak juga negara besar, bahkan selevel Itali juga naturalisasi pemain juga. Nah itu tergantung dari kondisi kita yang ada di setiap negara. Iya.
Jadi, ini tadi setiap-tiapinnya kayak bagaimana mungkin nanti ke depannya ini impian timnas. Iya, saya masih sangat optimis. Masih sangat optimis.
HOST: Bang, tadi saya mau singgung soal pembinaan juga nih, Bang. Nah bagaimana di Sulawesi Barat, Bang?
FEBRIANTO: Sulawesi Barat buat saya, kita masih banyak butuh pembenahan. Dari aspek internal organisasi PSSI itu sendiri sampai metode kita sendiri untuk bahkan filosofi sepak bola Sulbar itu sendiri, kita harus segera bentuk supaya kita bisa mencapai level yang kita inginkan. Ya kemudian kita mengupayakan bagaimana caranya kita juga punya klub yang bisa pelan-pelan merangkak seperti Como, kan, dari liga 3, seri D sampai seri A, supaya anak-anak yang ada di provinsi Sulawesi Barat ini bisa mempunyai mimpi dan dekat dengan mimpinya untuk menjadi pemain profesional. Itu yang pertama.
Yang kedua, leveling kita pengurus, misalkan, atau pembina, atau pelatih, atau supporter itu levelingnya juga harus naik. Cara berpikir kita harus berubah terhadap sepak bola. Cara memandang sepak bola kita harus berubah. Jangan lagi cara-cara yang lama kita memandang sepak bola.
Cara memandang sepak bola ini sekarang sangat ilmiah, sangat matematik. Misalkan kalau menjalankan. Nggak apa-apa kita memasang target, tapi targetnya harus realistis yang bisa kita pasang. Misalkan target kita memang dengan komposisi yang harus ada dan kita bisa juara, kenapa kalau kita tidak juara?
Tapi begitu juga kebalikannya, gitu. Walaupun di setiap sepak bola itu ada faktor luck, tapi itu sekian persen dari faktor luck itu sendiri. Cara saya memandang sepak bola. Terus yang paling terakhir, kepada para
atlet juga ini yang utama.
Jadi kalau buat saya, kalau 100 persen ini, bro, kita untuk… Saya seorang atlet untuk sukses. Kalau misalkan kita skala 100 persen, kan? Peran dari asosiasi itu hanya 20 persen. Peran pelatih juga mungkin 30 persen, tapi 50 persennya dari anaknya sendiri.
Bagaimana mentalitasnya, caranya berpikir, caranya mengelola stresnya, dan bagaimana caranya dia berlatih. Banyak anak-anak kita dia berlatih aja terus. Tapi apakah dia latihannya keras? Tapi apakah latihannya tepat sasaran? Belum tentu.
Nah, itu yang harus dipikirkan. Dan juga banyak anak-anak kita hari ini yang mimpinya terlalu disitu-situ saja, gitu maksudnya. Mimpinya masih disitu-situ saja. Nah, sekarang saya ingin mengajak kepada mimpinya. Kita ayo kita sama-sama bermimpi dan menggapai mimpi itu untuk kita bisa lebih optimis membangun sepak bola Sulawesi Barat. Jadi mental pemain ini mereka cuma impikan main tingkat provinsi atau main tingkat ini aja. Saya tidak mau begitu lagi, maksud saya. Ini yang banyak terjadi. Saya tidak menuduh, cuma terlihat dari sikapnya.
Terlihat dari sikapnya. Kita itu bisa rasa kalau orang di instansi sepak bola itu tahu ini anak, Oh, besar kepala mi nih. Oh, ini lagi down nih. Kita bisa rasa dari caranya dia bersikap, berlatih. Saya ingin cara-cara lama itu kita ubah untuk kemudian kita bisa wujudkan apa yang menjadi mimpi kita bersama.
HOST: Jadi intinya sepak bola Sulbar ini harus berbenah total, Bang? Total. Intinya itu tadi, Bang, ya?
FEBRIANTO: Iya, harus berbenah total dari A sampai Z.
HOST: Bang. Boleh dari internal, kepelatihan rusak, harus berbenah semua, ya. Sampai ke tingkat bawahnya semua. Nggak ada waktu untuk santai.
FEBRIANTO: Gak ada waktu untuk santai lagi untuk membangun sepak bola di Sulbar. Terlalu lama kita ketinggalan. Bahkan tingkat Sulawesi pun kita ini sangat tertinggal. Jadi harus bangkitlah.
HOST: Bang, Ini sudah di penghujung, Bang. Penghujung podcast kita hari ini. Tapi satu pertanyaan terakhir, Bang. Siapa juara Piala Dunia?
Prediksi ya, Bang.
FEBRIANTO: Timnas Portugal akan mengangkat profil pilihan dunia. sebelum saya datang ke sini tadi, saya dititip sama anakku, Kenji bilang kalau ditanya siapa juara, bilang Portugal, Papa.
Walaupun sebenarnya menjagokan tim lain. / Ada empat yang menjagokannya. Semoga Portugal juara ya. Menjadi last dance atau pertunjukan terakhir dari Cristiano Ronaldo dan juga pemain-pemain hebat lainnya di Piala Dunia tiga negara ini. (*)