Harga Pertamax Naik, Yadi Terpaksa Kandang­kan Fortuner dan Beralih ke Mobil yang Lebih Irit
Firmauli Sihaloho June 11, 2026 12:29 PM

TRIBUNPEKANBARU.COM, PEKANBARU - Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax di Pekanbaru menjadi Rp17.000 per liter mulai 10 Juni 2026 mulai dirasakan dampaknya oleh masyarakat.

Sejumlah pemilik kendaraan mengaku harus mengubah pola penggunaan kendaraan demi menekan pengeluaran harian.

Salah satunya Supriadi atau yang akrab disapa Yadi. Warga Cipta Karya Pekanbaru itu mengaku terpaksa mengandangkan mobil Toyota Fortuner miliknya setelah harga Pertamax mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Menurut Yadi, Fortuner yang selama ini digunakannya membutuhkan konsumsi bahan bakar yang relatif besar. Dengan harga Pertamax yang kini mencapai Rp17.000 per liter, biaya operasional kendaraan tersebut dinilai menjadi semakin berat untuk penggunaan sehari-hari.

"Kalau dipakai setiap hari tentu terasa sekali. Sekarang harga Pertamax sudah Rp17.000 per liter. Mau tidak mau saya kurangi pemakaian, jadi Fortuner untuk sementara dikandangkan dulu," ujar Yadi kepada Tribun, Rabu (10/6/2026).

Ia mengaku sebenarnya masih bisa menggunakan BBM bersubsidi seperti Pertalite.

Namun, menurutnya penggunaan BBM dengan nilai oktan yang lebih rendah dari rekomendasi pabrikan dalam jangka panjang dikhawatirkan dapat memengaruhi performa mesin, meningkatkan risiko timbulnya knocking atau pembakaran tidak sempurna, serta membuat konsumsi bahan bakar menjadi kurang optimal.

Baca juga: BREAKING NEWS: JPU KPK Hadirkan Saksi Ahli Perkuat Dakwaan Korupsi Abdul Wahid DKK, Ini Sosoknya

Baca juga: Antrian Kendaraan di Jalur Pengisian Pertamax Langsung Sepi di Pekanbaru Setelah Harga Naik

Karena itu, Yadi memilih menggunakan mobil Suzuki X-Over miliknya yang dinilai lebih hemat bahan bakar yang menggunakan BBM jenis Pertalite untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

Langkah itu menurutnya lebih rasional dibanding harus memaksakan penggunaan kendaraan berkapasitas mesin besar di tengah kenaikan harga Pertamax.

Keluhan serupa disampaikan warga Pekanbaru lainnya, Rudi Hartono. Pria yang sehari-hari menggunakan mobil Pajero itu mengaku harus menghitung ulang anggaran transportasi keluarganya setelah harga Pertamax naik. Jika sebelumnya biaya pengisian bahan bakar masih dapat ditoleransi, kini pengeluaran bulanan untuk BBM diperkirakan meningkat cukup besar.

"Biasanya isi penuh sudah lumayan mahal, sekarang naik lagi. Jadi harus lebih selektif menggunakan kendaraan. Kalau tidak ada keperluan penting, lebih baik ditunda atau cari alternatif yang lebih hemat," kata Hartono.

Sejumlah warga berharap kenaikan harga BBM non-subsidi tidak permanen dan bisa turun lagi. Mereka juga berharap ada stabilitas harga energi ke depan agar masyarakat dapat menyesuaikan kembali pengeluaran rumah tangga dan biaya transportasi sehari-hari. (Tribunpekanbaru.com/Alexander)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.