TRIBUNPRIANGAN.COM - Menjadi pribadi yang teduh dan disenangi perawainya oleh sesama manusia, merupakan hal yang wajib dimiliki setiap muslim.
Sebab, dengan sifat rendah hati dan penyayang serta jujur, adalah hal yang terpuji dan menjadi gambaran jenis penghuni surga dalam banyak penjelasan Al-Quran maupun riwayat hadits.
Namun, tak jarang sifat tersebut kerap disalah gunakan bagi sebagain umat Muslim dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini kerap dikaitkan dengan mereka yang berdiam diri dan bangga atas sifat yang bersemayang tanpa disadari yang dikenal dengan istilah Ujub.
Ujub adalah salah satu sifat buruk yang dilarang dalam ajaran Islam.
Kehilangan akhlak mulia karena yang diajarkan Allah dan Rasul tersebut, tanpa disengaja kerap terlintas.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 12 Juni 2026: 3 Hal yang Selamatkan Mukmin dari Api Neraka
Sifat buruk ini harus dihindari oleh seorang muslim sebab akan membawa pada sikap sombong dan riya.
Orang yang ujub selalu meremehkan atas perbuatan dosa yang dilakukan dan selalu memperbanyak perbuatan dosa itu. Orang yang ujub cenderung mengurangi rasa takutnya kepada Allah SWT dan meningkatkan rasa kesombongan terhadap-Nya.
Untuk itu, topik penyampaian Khutbah Jumat esok hari sangat tepat untuk membahasa tema ini.
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْدُ:
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Pada kesempatan yang sangat berharga ini, mari kita panjatkan lantunan syukur kita atas segala nikmat Allah ‘Azza wa Jalla yang dikaruniakan kepada kita semua. Dengan memperbanyak syukur, semoga kita selalu dimudahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk senantiasa taat dan menjalankan syariat Islam dalam setiap kondisi dan situasi.
Kemudian, mari kita perbanyak shalawat kepada baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta keluarganya, para sahabat, dan seluruh orang shalih yang senantiasa sabar dan istiqamah berpegang teguh pada kemurnian risalah Islam yang dibawanya.
Kami wasiatkan kepada diri kami dan kepada jamaah sekalian untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan jalan melazimi berbagai amalan wajib dan amalan sunnah, serta menjauhi sejauh-jauhnya berbagai perbuatan keji dan mungkar, berbagai penyakit hati dan sifat tercela yang dapat mengantarkan kita ke depan pintu neraka Jahannam.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Allah ‘Azza wa Jalla bekali manusia dengan akal. Allah ‘Azza wa Jalla bekali manusia dengan hati dan perasaan. Dua anugerah yang tak diberikan Allah ‘Azza wa Jalla kepada tumbuhan dan binatang yang ada di muka bumi ini.
Di antara manusia ada yang ditakdirkan Allah ‘Azza wa Jalla memiliki kelebihan dari manusia yang lain. Kelebihan kecerdasan yang lebih tinggi dari lainnya. Kelebihan kekuatan fisik yang lebih kuat dari lainnya. Kelebihan kemampuan manajerial lebih baik dari lainnya. Kelebihan keterampilan tangan yang lebih baik dari lainnya. Dan lain sebagainya.
Namun, bukan kelebihan-kelebihan itu yang menjadi poin penilaian Allah ‘Azza wa Jalla. Karena Allah ‘Azza wa Jalla hanya akan melihat kualitas dan tingkat ketakwaan manusia ketika yaumul hisab kelak.
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Salah satu penyakit yang menyerang hamba-hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang memiliki kelebihan dibanding sesamanya adalah penyakit ujub.
Ujub adalah kondisi ketika seseorang memiliki beberapa kelebihan dibanding orang lain, lalu ia bersikap angkuh dan bangga diri secara berlebihan.
Orang ujub adalah orang yang merasa mampu melakukan sesuatu karena kelebihan yang ia miliki. Di waktu bersamaan ia lupa, bahwa hanya Allah ‘Azza wa Jalla saja Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Imam Ibnul Mubarak rahimahullah pernah ditanya tentang apa itu ujub. Beliau menjawab,
أَنْ تَرَى أَنَّ عِنْدَكَ شَيْئًا لَيْسَ عِنْدَ غَيْرِكَ، وَلَا أَعْلَمُ فِي الْمُصَلِّينَ شَيْئًا شَرًّا مِنَ الْعُجْبِ
“Ujub adalah ketika engkau melihat ada kelebihan pada dirimu yang tidak dimiliki orang lain. Dan aku tidak mengetahui keburukan pada orang-orang yang shalat kecuali penyakit ujub.” (Syu’ab al-Iman, Imam al-Baihaqi, No. 7910)
Imam Ibnu Abdis Salam rahimahullah berkata,
الْعُجْبُ فَرْحَةٌ فِي النَّفْسِ بِإِضَافَةِ الْعَمَل إِلَيْهَا وَحَمْدِهَا عَلَيْهِ، مَعَ نِسْيَانِ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى هُوَ الْمُنْعِمُ بِهِ
“Ujub adalah berbangga diri dan menyanjung-sanjung diri atas keberhasilan yang ia capai, dengan melupakan bahwa Allah lah yang telah memberikan kenikmatan itu.” (Bada-i’ as-Suluk, Muhammad bin al-Azraq al-Andalusi, 1/495)
Baca juga: Naskah Sunda Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Meunang Ganjaran Surga dina Bulan Muharam
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Ujub adalah penyakit hati. ujub adalah sifat yang tercela dan buruk. Karena ujub adalah salah satu bentuk perbuatan syirik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itu, ujub dihukumi haram dan dikategorikan sebagai salah satu bentuk dosa besar.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَّيَوْمَ حُنَيْنٍۙ اِذْ اَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْـًٔا
“…dan (ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi (jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu.” (QS. At-Tawbah: 25)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ
“Ada tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan; sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang dituruti, takjub terhadap diri sendiri (ujub).” (HR. Al-Bazzar dalam kitab Kasyfu al-Astar, Al-Haitsami, 1/60. Diriwayatkan dari banyak sahabat; Anas bin Malik, Abdullah bin Abbas, Abu Hurairah, Ibnu Abi Aufa, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum)Baca Juga: Menyambut Seruan Allah dan Rasul-Nya, Wajib!
Dalam riwayat lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
لَوْ لَمْ تَكُونُوا تُذْنِبُونَ لَخَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ: الْعُجْبَ الْعُجْبَ
“Jika pun kalian tidak memiliki dosa maksiat, sungguh aku takut kalian terjebak pada yang lebih besar dari itu: ujub, ujub.” (Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir, Al-Munawi, No. 9434, 5/331. Hadits ini hasan menurut Syaikh al-Albani)
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut penyakit ujub itu lebih besar dosanya dari dosa perbuatan maksiat?
Karena orang yang melakukan kemaksiatan itu masih bisa disadarkan bahwa perbuatan yang ia lakukan adalah perbuatan maksiat, perbuatan yang buruk, perbuatan yang dampaknya negatif, sehingga ada harapan besar untuk mau bertobat.
Sedangkan orang yang terjangkiti penyakit ujub, perbuatan yang ia lakukan adalah perbuatan baik, amalan kebaikan, namun ia merasa paling dan lebih dari yang lain, dia maghrur, angkuh, takabur, sombong, merasa diri paling bisa, merasa diri paling benar. Ia terjebak ke dalam syubhat keangkuhan diri. Sehingga sulit harapan untuk mau dinasehati agar bertobat.
Sebagaimana digambarkan dalam al-Quran,
وَهُمْ يَحْسَبُوْنَ اَنَّهُمْ يُحْسِنُوْنَ صُنْعًا
“Mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 104)
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Mari waspadai penyakit ujub ini. Penyakit ujub dapat tumbuh melalui apa saja yang ada pada diri kita.
Penyakit ujub bisa menyerang orang yang memiliki kelebihan pada fisiknya. Merasa paling kuat, merasa paling tampan atau paling cantik, merasa paling cakap bicaranya, dan sebagainya.
Penyakit ujub juga dapat menimpa seseorang yang memiliki kelebihan pada akalnya. Merasa paling cerdas. Merasa paling maju cara berpikirnya. Merasa paling visioner ide-idenya. Merasa paling bisa mengatasi permasalahan. Merasa paling hebat dalam urusan manajerial. Dan semisalnya.
Orang yang memiliki jalur nasab yang mulia di masyarakat juga dapat terserang penyakit ini. Merasa paling bangsawan. Merasa paling terhormat karena keturunan raja. Merasa paling hebat karena keturunan jenderal. Merasa paling banyak harta karena keturunan konglomerat. Dan semisalnya.
Bagi kita yang memiliki popularitas di kalangan tertentu; para ustadz, para da’i, para tokoh publik, waspadalah, penyakit ujub sangat mudah menyerang dalam kondisi seperti ini. Merasa memiliki pengikut yang paling banyak. Merasa dakwahnya paling berhasil dan paling banyak fans-nya. Ini semua adalah bentuk penyakit ujub yang sangat berbahaya.
Dalam al-Quran disebutkan,
وَّكَانَ لَهٗ ثَمَرٌۚ فَقَالَ لِصَاحِبِهٖ وَهُوَ يُحَاوِرُهٗٓ اَنَا۠ اَكْثَرُ مِنْكَ مَالًا وَّاَعَزُّ نَفَرًا
“Dan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikutku lebih kuat.” (QS. Al-Kahfi: 34)
Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Oleh sebab itu, merupakan hal yang sangat baik ketika kita setiap hari mengevaluasi diri kita. Kita hitung kesalahan-kesalahan diri kita di waktu sepertiga malam saat shalat tahajud. Sudah berbuat dosa apa kita sepanjang hari ini. Penyakit apa yang menyerang hati kita pada hari ini.
Selain itu, jangan segan-segan untuk selalu dekat dengan para ulama dan ahli ilmu. Jangan segan-segan untuk selalu meminta nasehat dari mereka. Meminta penilaian mereka terhadap diri kita. Barangkali mereka lebih mampu melihat kekurangan diri kita yang tak mampu kita lihat sendiri.
Ikuti nasehat para ulama. Taati ulama selama berada di atas kebaikan dan kebenaran. Sembari kita terus berusaha meningkatkan penguasaan ilmu Islam, mengasah ilmu adab dan akhlak. Menajamkan bashirah, melembutkan hati, dan menjernihkan pikiran.
Semoga kita dimudahkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam menempuh jalan kebenaran hingga berpungkas di Jannahnya Allah ‘Azza wa Jalla.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Usir Sifat Sombong dan Merasa Hebat Sendiri
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ.
وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. اَمَّا بَعْدُ.
فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى.
وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ
.وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَممْوَاتِ اللَّهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ االدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ رَبَّنَا تَـقَـبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَا مَنَا وَرُكُوْ عَنَا وَسُجُوْدَنَا وَقُعُوْدَنَا وَتَضَرُّ عَنَا وَتَخَشُّوْ عَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَ نَا يَا اَلله يَا رَبَّ الْعَا لَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. لَّآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار
. عِبَادَاللَّهِ:
اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ