TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR REBO - Para tunanetra di Jakarta Timur turut terdampak efek melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan naiknya harga BBM non subsidi.
Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) DPC Jakarta Timur menyatakan akibat pelemahan nilai tukar rupiah dan naiknya harga Pertamax, pemasukan tunanetra pekerja sektor informal anjlok drastis.
Mayoritas tunanetra anggota Pertuni DPC Jakarta Timur yang mencari nafkah dengan bekerja menjajakan kerupuk, dan menjadi tukang pijat kini kesulitan mendapatkan pelanggan.
"Sepanjang dollar meningkat ini banyak teman-teman yang terdampak akibat ekonomi, saya bilang sih (ekonomi) morat-marit," kata Ketua Pertuni DPC Jakarta Timur, Mulyawan, Kamis (11/6/2026).
Sebelum nilai tukar rupiah terhadap dollar AS menguat, para tunanetra anggota Pertuni yang setiap harinya menjajakan kerupuk dapat menjual 15-20 bungkus kerupuk per harinya.
Tapi setelah pelemahan rupiah para tunanetra kesulitan menjual kerupuk, rata-rata per harinya mereka hanya dapat 10 bungkus kerupuk per hari meski sudah seharian berkeliling.
Nasib serupa juga dirasakan tunanetra anggota Pertuni DPC Jakarta Timur yang mencari nafkah dengan menjadi tukang pijat, pemasukan mereka merosot sebanyak 50 persen.
"Ditambah lagi sekarang tiba-tiba bensin yaitu Pertamax itu tiba-tiba naik lagi. Wah, ini sudah makin morat-marit lagi. Kalau yang biasa dapat tiga sehari, ini satu pun saja susah," ujarnya.
Mulyawan menuturkan para penyandang disabilitas tunanetra memang tidak secara langsung merasakan kenaikan harga BBM non subsidi jenis Pertamax yang kini dipatok Rp16.250.
Namun mereka turut merasakan efek kenaikan, karena mayoritas pelanggan pijat merupakan kelas pekerja menengah yang umumnya menggunakan bahan bakar non subsidi Pertamax.
Sehingga ketika harga Pertamax naik mayoritas pengguna jasa tunanetra akan mengurangi pengeluarannya, hal ini mengakibatkan pemasukan pemijat tunanetra berkurang.
"Jadi sekarang itu para pekerja dan para hobi-hobi pijat itu mulai irit-iritlah untuk ke situ. Karena mereka juga kan kerja dengan menggunakan kendaraan. Jadi yang menggunakan Pertamax," tuturnya.
Dalam penyesuaian terbaru, harga Pertamax mengalami kenaikan cukup signifikan dari sebelumnya Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter.
Sementara Pertamax Green 95 juga naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
Di sisi lain, Pertamina memastikan harga BBM subsidi tidak berubah. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter, sedangkan Biosolar masih dipatok Rp6.800 per liter.
Menurut Roberth, Pertamina tetap berkomitmen menjaga ketersediaan pasokan BBM di seluruh wilayah Indonesia meski terjadi penyesuaian harga pada sejumlah produk non subsidi.
“Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina,” jelasnya.
Pertamax Series
Pertamax (RON 92): Rp16.250 per liter (sebelumnya Rp12.300)
Pertamax Green 95 (RON 95): Rp17.000 per liter (sebelumnya Rp12.900)
Pertamax Turbo (RON 98): Rp20.750 per liter (tetap)
Dex Series
Dexlite (CN 51): Rp23.000 per liter (tetap)
Pertamina Dex (CN 53): Rp24.800 per liter (tetap)
BBM Bersubsidi
Pertalite: Rp10.000 per liter (tetap)
Biosolar: Rp6.800 per liter (tetap)
Baca juga: Kecelakaan di Deli Serdang: Truk Fuso Tabrak Jembatan dan Seruduk Bocah SD yang Mau Sekolah
Baca juga: Depok dan Bogor Gelap Bersamaan, Listrik Padam Bikin Aktivitas Warga Ternganggu, PLN Ungkap Pemicu
Baca juga: Cuaca Jakarta Hari Ini Rabu 10 Juni 2026: Langit Berawan Seharian, Jaksel-Jaktim Capai 34 Derajat