TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Ketua DPRD Kabupaten Cilacap, Taufik Nurhidayat, menilai lonjakan nilai tukar dolar AS dan kenaikan harga BBM non-subsidi mulai memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat, terutama melalui naiknya harga kebutuhan pokok dan menurunnya daya beli warga.
Hal itu disampaikan Taufik saat ditanyai isu terkini, seusai menjadi saksi dalam sidang dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan terdakwa Ahmad Yazid Basyaiban alias Gus Yazid dan Andi Nurul Huda di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (11/6/2026) kemarin.
Taufik mengaku menerima banyak keluhan dari masyarakat terkait kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan hasil pertemuannya dengan warga di berbagai daerah, dampak tekanan ekonomi mulai dirasakan secara langsung di tingkat rumah tangga.
"Kalau menurut warga yang saya ketemu, itu berdampak sekali karena banyak sekali kebutuhan pokok yang naik," kata dia.
Meski demikian, dia menilai situasi sosial di masyarakat masih relatif kondusif dan belum menimbulkan gejolak yang berarti.
Menurut dia, pemerintah perlu bergerak cepat menjaga stabilitas ekonomi dan merespons berbagai peringatan yang telah disampaikan sejumlah lembaga ekonomi maupun otoritas keuangan.
"Masyarakat masih kondusif, kita harapkan pemerintah segera mengambil langkah.
Kalau ada peringatan dari BI, jangan dijadikan olok-olok, tetapi dijadikan penyemangat untuk segera memperbaiki keadaan," katanya.
Kondisi ekonomi saat ini, lanjut dia, tidak bisa dilepaskan dari tingginya ketergantungan terhadap barang impor.
Baca juga: Suparman Pembunuh Bilqis Bocah Sragen Ternyata Juga Pernah Bunuh Perempuan dan Waria
Ketika kurs dolar menguat terhadap rupiah, berbagai komoditas dan kebutuhan masyarakat berpotensi mengalami kenaikan harga.
"Kalau diimpornya banyak, berarti banyak sekali barang-barang yang harganya akan naik.
Yang kedua, daya beli masyarakat," ujarnya.
Sebagai wakil rakyat, Taufik mengajak semua pihak melihat persoalan ekonomi secara lebih konstruktif.
Dia menilai kritik terhadap pemerintah tetap diperlukan, tetapi harus dibarengi dengan upaya mencari solusi bersama, bukan sekadar saling menyalahkan.
"Saya ingin menyampaikan ini PR kita semua, mari kita kritisi pemerintah, tapi jangan dihujat.
Mari kita berikan jalan keluar bareng-bareng. Tidak ada orang yang lebih pintar atau lebih hebat.
Kalau kita kerja sama, tujuannya agar ekonomi membaik dan nilai dolar bisa kembali turun," katanya.
Taufik juga menanggapi kenaikan harga BBM non-subsidi yang mulai berlaku sejak 10 Juni 2026 kemarin.
Menurut dia, kebijakan tersebut merupakan konsekuensi dari berbagai faktor global yang saling berkaitan, mulai dari kenaikan harga minyak dunia hingga pelemahan nilai tukar rupiah.
Dia mencontohkan industri migas nasional yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Ketika dolar menguat, biaya produksi dan pengadaan energi otomatis ikut meningkat.
"Kalau kilang-kilang minyak kita bahan bakunya dari luar negeri, tentu akan berimbas.
Itu tidak bisa ditahan begitu saja, kecuali subsidinya diperbesar.
Tetapi kondisi ekonomi hari ini juga tidak memungkinkan untuk terus menambah subsidi," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, harga BBM non-subsidi mengalami penyesuaian cukup signifikan.
Harga Pertamax yang sebelumnya Rp12.300 per liter naik menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Untuk harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan pemerintah.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini berada di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.036 per dolar AS.
Tekanan tersebut dipengaruhi berbagai faktor global, termasuk konflik geopolitik dan kebijakan suku bunga tinggi Amerika Serikat.
Kombinasi melemahnya rupiah dan naiknya harga BBM diperkirakan memicu kenaikan biaya transportasi, logistik, serta harga berbagai barang kebutuhan masyarakat.
Karena itu, Taufik kembali mengingatkan pentingnya menjaga suasana tetap kondusif di tengah tekanan ekonomi yang sedang dihadapi.
"Yang penting hari ini jangan hanya hobi mengkritik atau menghujat siapa pun.
Mari sama-sama mencari jalan keluar agar kondisi ekonomi bisa segera membaik," pungkasnya.