Harga Pupuk dan Racun Rumput di Kayong Utara Melonjak Hingga 50 Persen
Rivaldi Ade Musliadi June 11, 2026 02:45 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAYONG UTARA - Keluhan demi keluhan mulai bermunculan dari sektor pertanian di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. 

Pemilik Toko Pertanian Al-Hijrah di Desa Banyu Abang, Kecamatan Teluk Batang, mengeluhkan meroketnya harga pupuk dan herbisida (racun gulma) yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

Pemilik toko, Denes, mengungkapkan bahwa hampir seluruh jenis pupuk dan racun kimia mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan. 

Bahkan, menurutnya, beberapa produk andalan petani mengalami lonjakan hingga mendekati angka 50 persen.

"Kenaikannya cukup drastis. Pupuk naik, racun juga naik, hampir semuanya mengalami peningkatan kurang lebih 50 persen," ujar Denes saat dikonfirmasi, Kamis 11 Juni 2026 hari ini.

• Naik Drastis, Harga Pupuk serta Herbisida Meroket di Kayong Utara, Petani Paling Terdampak

Denes menilai, kondisi pelik ini dipengaruhi oleh terganggunya jalur distribusi sejak terjadinya kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM). 

Selain itu, merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ikut memicu melambungnya harga barang di pasaran.

"Semenjak minyak langka, kemudian ditambah dolar naik, harga pupuk dan racun ikut melonjak," keluhnya.

Intip Rincian Kenaikan Harga Pupuk di Teluk Batang

Kenaikan harga ini terjadi pada hampir seluruh varian pupuk karungan ukuran 50 kilogram. 

Berikut rincian lonjakan harga yang terjadi di Toko Al-Hijrah:

Pupuk Urea: Naik drastis dari harga semula Rp 400 ribu menjadi Rp 700 ribu per karung.

Pupuk NPK 13-6-27: Naik dari harga awal Rp 400 ribu menjadi Rp 585 ribu per karung.

Pupuk NPK 16-16-16: Meroket dari kisaran Rp 750 ribu menjadi Rp 970 ribu per karung.

Pupuk Dolomit: Naik dari kisaran Rp 80 ribu - Rp 90 ribu kini menyentuh Rp 100 ribu per karung.

Tak hanya pupuk, komoditas herbisida atau racun gulma juga tidak luput dari kenaikan harga. 

Denes menyebut rata-rata harga racun rumput merangkak naik sekitar Rp 10 ribu untuk setiap liternya.

Biaya Produksi Membengkak, Berdampak Nyata pada Petani Skala Kecil

Melihat situasi yang kian menyulitkan ini, Denes menaruh harapan besar agar pemerintah segera turun tangan menstabilkan harga seluruh kebutuhan pertanian dan perkebunan di tingkat bawah.

"Harapan kami, semua kebutuhan pertanian dan perkebunan bisa kembali normal, harganya bisa lebih murah lagi. Semoga nilai dolar cepat turun dan rupiah kembali stabil agar perekonomian di tingkat bawah bisa berjalan normal," harap Denes.

Menurutnya, tingginya harga Sarana Produksi Pertanian (Saprodi) seperti ini akan memberikan hantaman keras terhadap kelangsungan hidup para petani, khususnya mereka yang berada di skala usaha kecil atau tradisional.

"Kasihan para petani. Kalau saprodi pertanian dan perkebunan mahal, yang paling merasakan dampaknya adalah petani dan pekebun kecil karena biaya produksi mereka otomatis ikut meningkat tajam, sementara harga jual hasil panen belum tentu naik," pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.