TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAYONG UTARA – Kenaikan harga sarana produksi pertanian (saprodi) mulai dirasakan para petani dan pelaku usaha pertanian di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.
Dalam beberapa bulan terakhir, harga berbagai jenis pupuk dan herbisida mengalami lonjakan cukup signifikan, bahkan mencapai hampir 50 persen.
Kondisi tersebut dikeluhkan oleh Denes, pemilik Toko Pertanian Al-Hijrah di Desa Banyu Abang, Kecamatan Teluk Batang.
Baca juga: Gas Melon Langka, Harga Tembus Rp80 Ribu! Pemda Kapuas Hulu Turun Tangan Gelar Pasar Murah
Menurutnya, hampir seluruh produk kebutuhan pertanian yang dijual di tokonya mengalami kenaikan harga, mulai dari pupuk hingga racun gulma.
"Kenaikannya cukup drastis. Pupuk naik, racun juga naik, hampir semuanya mengalami peningkatan kurang lebih 50 persen," ujar Denes saat dikonfirmasi, Kamis, 11 Juni 2026.
Ia menjelaskan, lonjakan harga tersebut diduga dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya terganggunya distribusi barang sejak terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) serta kenaikan nilai tukar dolar yang berdampak langsung terhadap harga berbagai produk pertanian.
"Semenjak minyak langka, kemudian ditambah dolar naik, harga pupuk dan racun ikut melonjak," katanya.
Menurut Denes, kenaikan paling mencolok terjadi pada pupuk urea.
Jika sebelumnya pupuk urea ukuran 50 kilogram dijual sekitar Rp400 ribu per karung, kini harganya mencapai Rp700 ribu per karung.
Baca juga: Polda Kalbar Kawal Harga Sawit, Ditreskrimsus Instruksikan Pengawasan Pembelian TBS
Tak hanya pupuk urea, sejumlah jenis pupuk lainnya juga mengalami kenaikan yang cukup tinggi.
Pupuk NPK 13-6-27 yang sebelumnya berada di kisaran Rp400 ribu per karung kini naik menjadi Rp585 ribu.
Sementara pupuk NPK 16-16-16 yang sebelumnya dijual sekitar Rp750 ribu kini menembus harga Rp970 ribuan per karung.
Kenaikan harga juga terjadi pada pupuk dolomit yang banyak digunakan petani untuk memperbaiki kualitas tanah.
Harga pupuk dolomit yang sebelumnya berkisar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per karung kini naik menjadi sekitar Rp100 ribu per karung.
Selain pupuk, harga herbisida atau racun gulma juga mengalami kenaikan.
Denes menyebutkan rata-rata harga herbisida naik sekitar Rp10 ribu per liter dibandingkan harga sebelumnya.
Lonjakan harga tersebut membuat para petani dan pekebun harus mengeluarkan biaya produksi yang lebih besar.
Kondisi ini dikhawatirkan akan berdampak terhadap produktivitas pertanian, terutama bagi petani kecil yang memiliki modal terbatas.
Menurut Denes, kelompok petani kecil menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari mahalnya harga saprodi.
Pasalnya, biaya yang harus mereka keluarkan untuk perawatan tanaman semakin tinggi, sementara hasil panen belum tentu mengalami kenaikan harga yang sebanding.
"Kasihan para petani. Kalau saprodi pertanian dan perkebunan mahal, yang paling merasakan dampaknya adalah petani dan pekebun kecil karena biaya produksi mereka ikut meningkat," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mencari solusi agar harga kebutuhan pertanian kembali stabil.
Menurutnya, normalisasi harga sangat penting untuk menjaga keberlangsungan usaha para petani dan pekebun di daerah.
"Harapan kami, semua kebutuhan pertanian dan perkebunan bisa kembali normal, harganya bisa lebih murah lagi. Semoga nilai dolar cepat turun dan rupiah kembali stabil agar perekonomian di tingkat bawah bisa berjalan normal," harap Denes.