Naik Drastis, Harga Pupuk serta Herbisida Meroket di Kayong Utara, Petani Paling Terdampak
Madrosid June 11, 2026 02:45 PM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAYONG UTARA - Kenaikan harga sarana produksi pertanian (saprodi) mulai dirasakan petani dan pekebun di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga pupuk dan herbisida mengalami lonjakan yang cukup signifikan, bahkan untuk beberapa jenis pupuk kenaikannya mencapai puluhan persen.

Kondisi tersebut dikeluhkan Denes, pemilik Toko Pertanian Al-Hijrah di Desa Banyu Abang, Kecamatan Teluk Batang.

Menurutnya, hampir seluruh jenis pupuk dan racun gulma yang dijual mengalami kenaikan harga.

"Kenaikannya cukup drastis. Pupuk naik, racun juga naik. Hampir semua jenis mengalami peningkatan harga yang cukup besar," ujar Denes saat dikonfirmasi, Kamis 11 Juni 2026.

Ia menilai kenaikan harga dipengaruhi oleh beberapa faktor, mulai dari terganggunya distribusi barang akibat kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) hingga melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

"Semenjak terjadi kelangkaan BBM, distribusi barang menjadi terganggu. Ditambah lagi nilai dolar naik, sehingga harga pupuk dan racun ikut melonjak," katanya.

Naik Rp 300 Ribu Perkarung

Menurut Denes, kenaikan paling mencolok terjadi pada pupuk urea. Jika sebelumnya pupuk urea ukuran 50 kilogram dijual sekitar Rp400 ribu per karung, kini harganya mencapai Rp700 ribu per karung atau naik sekitar 75 persen.

Selain itu, pupuk NPK 13-6-27 yang sebelumnya berada di kisaran Rp400 ribu per karung kini naik menjadi Rp585 ribu.

Sementara pupuk NPK 16-16-16 mengalami kenaikan dari sekitar Rp750 ribu menjadi Rp970 ribu per karung.

Harga pupuk dolomit juga ikut mengalami penyesuaian. Dari sebelumnya berkisar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per karung, kini naik menjadi sekitar Rp100 ribu per karung.

Tidak hanya pupuk, harga herbisida atau racun gulma juga mengalami kenaikan. Denes menyebut rata-rata harga herbisida naik sekitar Rp10 ribu per liter dibandingkan sebelumnya.

Menurutnya, kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian dan perkebunan yang pada akhirnya akan memberatkan petani, khususnya petani dan pekebun skala kecil.

"Kalau harga saprodi terus naik, yang paling merasakan dampaknya adalah petani dan pekebun kecil. Biaya produksi mereka semakin tinggi, sementara hasil panen belum tentu ikut naik," ujarnya.

Denes berharap pemerintah dapat mencari solusi agar harga kebutuhan pertanian kembali stabil sehingga tidak semakin membebani masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan.

"Harapan kami, kebutuhan pertanian dan perkebunan bisa kembali normal dan harganya lebih terjangkau. Semoga nilai tukar rupiah kembali stabil sehingga perekonomian masyarakat, khususnya di tingkat bawah, bisa berjalan lebih baik," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.