TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Kickoff Piala Dunia 2026 dimulai Kamis (11/6/2026). Di Jambi, para pecinta bola memiliki jagoannya masiang-masing.
Pesta sepak bola empat tahunan ini hanya soal pertandingan, gol, dan perebutan trofi.
Bagi Sukendro, Dosen Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Universitas Jambi (Unja), Piala Dunia menyimpan pelajaran yang jauh lebih besar.
Pria yang telah 34 tahun mengabdikan diri sebagai dosen itu menilai sepak bola bukan sekadar olahraga.
Di dalamnya terdapat nilai sportivitas, kerja sama tim, kepemimpinan, hingga potensi ekonomi yang mampu menggerakkan masyarakat.
Dalam wawancara bersama Tribun Jambi, Sukendro bercerita tentang pengalamannya sebagai mantan pemain PSMS Junior, pandangannya terhadap peluang juara Piala Dunia, sosok pemain yang diidolakan dari era Pele hingga Kylian Mbappe, hingga harapannya terhadap perkembangan sepak bola Jambi setelah hadirnya Stadion Swarnabhumi.
Berikut petikan wawancara bersama Sukendro, bersama Host Tribun Jambi, M Ferry Fadli dan Tommy Kurniawan:
Tribun Jambi: Abang Sukendro sudah berapa lama menjadi dosen di Universitas Jambi?
Sukendro: Baru 34 tahun. Saya mulai mengajar sejak 1992 di Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan.
Tribun Jambi: Selama mengajar, ada alumni yang berhasil menjadi atlet nasional atau internasional?
Sukendro: Banyak. Salah satunya Hanip Wijaya, atlet panahan asal Kerinci yang pernah tampil di Olimpiade.
Sekarang beliau bertugas sebagai anggota TNI di Bogor. Selain itu banyak juga alumni kami yang berprestasi di cabang polo air, dayung, hingga petanque.
Tribun Jambi: Petanque masih terdengar asing bagi masyarakat. Seperti apa olahraga itu?
Sukendro: Petanque berasal dari Prancis. Permainannya menggunakan bola besi dan bola kayu kecil sebagai target. Tujuannya melempar bola besi sedekat mungkin ke bola kayu.
Cabang ini punya banyak nomor pertandingan dan medali. Bahkan pada SEA Games lalu, atlet-atlet Jambi berhasil menyumbangkan medali dari cabang ini.
Dari PSMS Junior hingga Menjadi Sprinter
Tribun Jambi: Sebelum menjadi dosen, Abang juga pernah menjadi atlet?
Sukendro: Saya dulu pemain sepak bola. Tahun 1983 saya bermain di PSMS Junior Medan. Posisi saya winger kiri, kadang juga striker.
Tribun Jambi: Kenapa akhirnya tidak melanjutkan karier di sepak bola?
Sukendro: Karena guru olahraga melihat kemampuan lari saya. Akhirnya saya beralih ke atletik dan menjadi sprinter.
Tribun Jambi: Secepat apa larinya waktu itu?
Sukendro: Catatan terbaik saya 10,6 detik untuk 100 meter. Itu lebih cepat dari Ruud Gullit yang pernah mencatat sekitar 10,9 detik.
Tribun Jambi: Kalau sekarang?
Sukendro: Kalau sekarang mungkin dua hari dua malam belum tentu selesai.
Euforia Piala Dunia Sudah Terasa
Tribun Jambi: Bagaimana antusiasme Piala Dunia di lingkungan kampus?
Sukendro: Di kampus biasa saja karena olahraga memang sudah menjadi keseharian kami. Tapi di lingkungan masyarakat dan RT justru mulai terasa.
Sudah ada yang merencanakan nonton bareng, memasang layar besar, bahkan membuat kegiatan bersama warga.
Tribun Jambi: Abang sendiri akan nonton bersama siapa?
Sukendro: Dengan cucu saya. Dia sekarang kelas awal SD dan sangat suka sepak bola. Bahkan pengetahuan bolanya kadang lebih hebat daripada saya.
Dari Pele ke Mbappe
Tribun Jambi: Tim favorit Abang di Piala Dunia nanti siapa?
Sukendro: Saya sebenarnya lebih mengidolakan pemain daripada negaranya. Dulu tentu Pele, sehingga saya ikut menyukai Brasil.
Tribun Jambi: Kalau sekarang?
Sukendro: Sekarang saya mulai melirik Prancis. Ada Kylian Mbappe yang menurut saya sedang memasuki masa emas.
Kalau ditanya peluang juara, mungkin 51 persen saya pilih Prancis, 49 persen Brasil.
Tribun Jambi: Kenapa Mbappe?
Sukendro: Karena era Messi dan Ronaldo perlahan mulai berakhir. Sekarang dunia sepak bola sedang mencari ikon baru, dan Mbappe salah satu kandidat terkuat.
Sepak Bola Mengajarkan Kehidupan dan Jambi
Tribun Jambi: Apa yang membuat sepak bola begitu istimewa?
Sukendro: Karena semua nilai kehidupan ada di sana. Ada sportivitas, kerja sama tim, menghargai orang lain, kepemimpinan, hingga kemampuan mengambil keputusan.
Kalau dalam pertandingan kita punya peluang mencetak gol 70 persen, tapi teman punya peluang 99 persen, kita harus mengoper bola.
Itu pelajaran tentang menghargai orang lain dan mengutamakan kepentingan tim.
Tribun Jambi: Jadi sepak bola bukan sekadar olahraga?
Sukendro: Betul. Di sepak bola ada unsur atletik, strategi, seni, bahkan drama. Karena itu sepak bola menjadi olahraga yang paling banyak ditonton di dunia.
Mahasiswa Wajib Mengikuti Piala Dunia
Tribun Jambi: Apakah Piala Dunia juga menjadi bahan pembelajaran di kampus?
Sukendro: Tentu. Mahasiswa olahraga harus mengikuti perkembangan olahraga dunia.
Biasanya kami minta mereka menganalisis pertandingan, strategi permainan, performa pemain, hingga sistem kompetisi.
Tribun Jambi: Jadi kalau mahasiswa tidak nonton?
Sukendro: Ya rugi. Karena itu termasuk pengetahuan umum olahraga. Masa mahasiswa olahraga tidak tahu pertandingan besar yang sedang berlangsung.
Stadion di Jambi Sudah Ada, Tinggal Pengelolaan
Tribun Jambi: Bagaimana pandangan Abang terhadap perkembangan sepak bola Jambi?
Sukendro: Saya melihat ada harapan baru. Setelah puluhan tahun, akhirnya Jambi memiliki stadion yang layak seperti Stadion Swarnabhumi.
Tribun Jambi: Apakah itu cukup untuk mendongkrak prestasi?
Sukendro: Stadion penting, tetapi yang lebih penting adalah pengelolaannya.
Sepak bola membutuhkan komitmen, manajemen yang baik, dan dukungan pembiayaan yang berkelanjutan.
Sepak Bola dan Industri Besar
Tribun Jambi: Mengapa banyak negara berlomba menjadi tuan rumah Piala Dunia?
Sukendro: Karena sepak bola adalah industri besar. Hotel penuh, tiket habis, restoran ramai, UMKM hidup. Dampaknya luar biasa terhadap perekonomian.
Tribun Jambi: Artinya Jambi juga bisa memanfaatkan momentum olahraga?
Sukendro: Sangat bisa. Nonton bareng, penjualan jersey, kuliner, hingga produk UMKM bisa tumbuh. Olahraga bukan hanya soal prestasi, tapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat.
Harapan untuk Sepak Bola Jambi
Tribun Jambi: Apa pesan Abang untuk sepak bola Jambi?
Sukendro: Kita harus belajar dari Piala Dunia. Belajar sportivitas, profesionalisme, dan manajemen pertandingan.
Jangan hanya melihat hasil akhirnya, tetapi lihat bagaimana negara-negara besar membangun sepak bola mereka.
Kalau sarana sudah membaik dan dukungan dari pemerintah, pengusaha, serta masyarakat terus meningkat, saya optimistis sepak bola Jambi bisa berkembang jauh lebih baik di masa depan.
Tribun Jambi: Terima kasih, Bang Sukendro.
Sukendro: Sama-sama. Semoga Piala Dunia kali ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Jambi untuk semakin mencintai olahraga. (Tribun Jambi/Asto)
Baca juga: Peta Dukungan Pejabat Jambi di Piala Dunia 2026 Terbagi 4 Negara
Baca juga: Piala Dunia 2026, Candi di Jambi dan Piramida Meksiko, hingga Homo Ludens Sepak Bola