Penerbangan Perintis, Topang Perekonomian Warga di Wilayah Pedalaman dan Perbatasan di Malinau
Junisah June 11, 2026 04:37 PM

TRIBUNKALTARA.COM, MALINAU - Penguatan jaringan rute penerbangan perintis di wilayah pedalaman dan perbatasan kini menjadi prioritas utama penataan konektivitas udara di Kabupaten Malinau. Kalimantan Utara. Langkah ini difokuskan pada optimalisasi operasional rute-rute di wilayah terluar guna menjamin mobilitas warga serta perputaran ekonomi lokal.

Kebijakan peningkatan pelayanan untuk area terisolasi tersebut mencuat sebagai poin penting dalam pembahasan evaluasi rute udara dan pemanfaatan aset bersama tim ahli serta lintas sektor terkait di Malinau.

Wakil Bupati Malinau, Jakaria menjelaskan ketergantungan terhadap jalur udara tidak dapat dihindari mengingat kondisi geografis wilayah yang sangat luas dan didominasi oleh tantangan alam yang berat. Bagi masyarakat pedalaman, pesawat perintis menjadi satu-satunya pilihan aksesibilitas yang realistis.

"Kondisi geografisnya sangat sulit, sehingga satu-satunya mode transportasi yang bisa mempermudah masyarakat untuk mengembangkan perekonomian untuk bisa terhubung dengan daerah-daerah lain hanya melalui udara," ujar Jakaria, Kamis (11/6/2026).

Baca juga: Penerbangan Perintis Tanjung Selor–Long Apung Beroperasi Hari Ini, Tarif Tiket Masih Sama

Penerbangan perintis yang menghubungkan pusat wilayah dengan titik-titik perbatasan langsung dilaporkan telah berjalan. Jalur perintis yang menjadi tumpuan utama masyarakat di garda terdepan ini mencakup wilayah Long Ampung, Binuang, Long Pala, Long Sule, dan Long Alango.

Keberlanjutan operasional di lima wilayah perbatasan tersebut sangat bergantung pada intervensi anggaran bersama, yakni melalui perpaduan skema subsidi anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) serta anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

Kepala Kantor Bandara Robert Atty Bessing, Handoko Budi Waluyo menyebut pembiayaan rute perbatasan ditopang oleh kolaborasi dua sumber anggaran publik.

"Itu kan ada dua skema pembiayaan, satu subsidi dari pemerintah daerah (APBD), kemudian subsidi dari pemerintah pusat atau melalui APBN. Dan sekarang semua sudah berjalan," ucap Handoko Budi Waluyo.

Mengingat operasional penerbangan ini menggunakan dana subsidi publik, manajemen maskapai penerbangan yang menjadi mitra diminta untuk terus menjaga kualitas pelayanan. Pihak maskapai diingatkan agar memberikan kemudahan akses operasional di lapangan serta tidak mempersulit warga lokal yang membutuhkan tiket perjalanan.

Baca juga: SOA Udara Malinau Kaltara Naik 27,5 Persen Tahun 2025, Subsidi Penerbangan Perintis Capai Rp 44,9 M

Disisi lain, Otoritas Bandara saat ini sedang merencanakan perluasan rute tambahan baru ke luar daerah. Mulai dari reaktivasi rute Malinau ke Tarakan, dan opsi tujuan Balikpapan dan Samarinda.

Seluruh dinamika pelayanan transportasi perbatasan, penundaan rute ke ibu kota provinsi, hingga rencana inisiasi rute luar daerah ini diungkapkan dalam forum evaluasi pelayanan angkutan udara perintis di Kabupaten Malinau.

(*)

Penulis : Mohammad Supri

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.