Harga Pupuk Naik, Petani Sawit di Batang Hari Keluhkan Biaya Produksi
Heri Prihartono June 11, 2026 03:11 PM

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BULIAN - Harga pupuk yang digunakan petani kelapa sawit di Kabupaten Batang Hari mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir, Kamis (11/6/2026).


Kenaikan tersebut dikeluhkan petani karena berdampak pada meningkatnya biaya produksi, sementara pendapatan dinilai belum mengalami peningkatan yang signifikan.


Petani sawit di Desa Terusan, Kecamatan Maro Sebo Ilir, Kabupaten Batang Hari, Zuhdi, mengatakan harga pupuk saat ini mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya.


"Urea sekarang sudah Rp500 ribu, sebelumnya Rp460.000. KCL dari Rp430.000 naik jadi Rp450.00 NPK juga naik dari Rp730.000 menjadi sekira Rp750.000 sampai Rp850.000," katanya saat dihubungi via WhatsApp.


Menurutnya, ia belum mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga pupuk tersebut. Namun, ia menduga kondisi ekonomi dan nilai tukar rupiah turut berpengaruh terhadap harga pupuk di pasaran.


"Menurut pemahaman saya sebagai orang awam, kenaikan pupuk ini mungkin akibat turunnya nilai tukar rupiah. Bisa juga karena harga sawit naik sehingga harga pupuk ikut naik, tetapi ketika harga sawit turun harga pupuk tidak ikut turun," jelasnya.


Ia juga menjelaskan kenaikan harga pupuk tersebut, berdampak langsung terhadap pengeluaran petani. Selain harga pupuk, biaya kebutuhan lain seperti bahan bakar minyak (BBM) juga mengalami kenaikan.


"Dampaknya mungkin harga pokok dan harga BBM naik sehingga memperbesar pengeluaran kami, sementara pemasukan kami stagnan," ungkapnya.


Meski demikian, ia mengaku harga tandan buah segar (TBS) sawit yang dijualnya saat ini berada di angka Rp2.850 per kilogram.


Dalam melakukan pemupukan, ia menerapkan pola pemupukan rutin dua kali dalam setahun. Pada periode Januari hingga April, setiap pohon sawit mendapatkan pupuk NPK, Urea, KCL, Dolomit, Borat, dan RP dengan dosis tertentu.


"NPK 1 kilogram per pohon, Urea 1 kilogram, KCL 1 kilogram, Dolomit 1 kilogram, Borat 2 ons, dan RP 1 kilogram per pohon. Itu pemupukan rutin dari bulan Januari sampai April, kemudian diulang lagi bulan Juli sampai Oktober," ujarnya.

Baca juga: Pertamax Naik, Masyarakat Batang Hari Mengeluh dan Beralih ke Pertalite


Untuk menekan biaya akibat kenaikan harga pupuk, ia menerapkan metode pengocoran dalam pemberian pupuk kepada tanaman sawit.


"Sistemnya dikocor. Urea 3 kilogram dicampur dengan 10 liter air dan bisa digunakan untuk 10 pohon. Begitu juga dengan pupuk yang lain," jelasnya.


Terkait ketersediaan pupuk, ia menyebut stok pupuk di sejumlah toko pertanian di wilayah Batang Hari masih tersedia dan mudah diperoleh petani.


"Kalau beli banyak tempat. Di toko-toko pertanian masih banyak stok," pungkasnya.

Baca juga: Bupati Batang Hari Hadiri Rakor Penyusunan Rencana Kerja Cetak Sawah 2026

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.