Jeritan Warga soal Harga Pertamax Jadi Rp16.250: Gaji Stagnan, Harga Bensin Sadis
Tribun-video June 11, 2026 04:42 PM

PT Pertamina Patra Niaga menjelaskan kenaikan harga BBM non-subsidi dilakukan setelah berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator dan melalui mekanisme evaluasi berkala.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan penyesuaian harga mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

Menurutnya, langkah tersebut diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.

Roberth menyatakan  Pertamina Patra Niaga senantiasa berupaya menjaga ketersediaan dan kualitas produk BBM di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.

Selain Pertamax, Pertamax Green 95 (RON 95) menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp 12.900 per liter.

Sedangkan untuk BBM bersubsidi yakni Pertalite dan Biosolar, harga jual kedua produk tersebut tidak mengalami kenaikan, Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.

Pertamina Patra Niaga memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina.

Sementara itu, Kenaikan harga BBM ini, memicu keluhan warga pengguna sepeda motor yang merasa terlalu mahal.

Oleh karena itu, warga berharap harga BBM bisa diturunkan kembali.

Antrean panjang mengular di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di Ciledug, Tangerang, Rabu pagi (10/6/2026). Panjangnya antrean terpantau dominan di mesin pompa bensin jenis Pertalite. 

Namun tetap ada antrean di mesin pompa Pertamax meski hanya hitungan jari.

Dominasi antrean Pertalite ini tak lepas dari kenaikan harga BBM jenis Pertamax 92 dan Pertamax Green. 

Kurniawan, pengemudi motor yang rampung mengisi BBM jenis Pertamax 92 di SPBU Petamina, Jalan HOS Cokroaminoto, Ciledug, Tangerang, mengatakan kenaikan Pertamax sebenarnya tidak membuat dirinya heran atau kaget. 

Tapi ia menyayangkan keputusan pemerintah yang menaikkan harga BBM nonsubsidi itu terlalu signifikan.

Beda selisih dari sebelum dan sesudah kenaikan hampir Rp4.000 per liter untuk jenis Pertamax 92.

Soal beralih ke Pertalite yang harganya tetap dipertahankan Rp10.000 per liter, Kurniawan mengaku belum memikirkan hal itu.

Sebab pertimbangannya adalah mesin kendaraannya yang terbiasa menggunakan bensin oktan tinggi. 

Kurniawan menyebut dirinya juga memiliki mobil di rumah dengan konsumsi bensin Pertamax 92.

Perihal kenaikan ini, ia akan tetap menggunakan Pertamax karena alasan pemakaian mobil yang jarang, karena hanya dioperasikan saat akhir pekan.

Sementara Solahul, pengguna Pertamax Green mengaku di 'prank' oleh pemerintah atas kenaikan harga BBM ini. 

Sebab ia adalah pengguna BBM jenis V-Power dari Shell. Ketika stok Shell kosong, ia beralih ke Pertamax Green milik Pertamina. Namun, ketika terbiasa memakai Pertamax Green, harganya malah naik dengan selisih Rp4.100.

Anto, warga Kemang Utara, Jakarta Selatan yang mengaku rela antre untuk mengisi bahan bakar Pertalite untuk sepeda motornya di SPBU di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.

Ia mengaku sudah menggunakan BBM jenis Pertamax sejak lama. Sehingga ia kaget dan mengeluh soal kenaikan harga yang cukup tinggi dari harga sebelumnya.

Sehingga, ia meminta kepada Pemerintah untuk segera mencarikan solusi atas kenaikan harga BBM non-subsidi ini.

Sementara itu pemandangan berbeda terlihat di alat dispenser bahan bakar Pertamax. Tak terlihat adanya antrean kendaraan yang panjang selama kurang lebih 30 menit pantauan.

Kenaikan harga yang cukup signifikan tersebut membuat sejumlah masyarakat yang menggunakan BBM jenis itu mengeluh lantaran tidak diiringi dengan penghasilan bulanan.

Kenaikan harga yang cukup signifikan tersebut membuat sejumlah masyarakat yang menggunakan BBM jenis itu mengeluh lantaran tidak diiringi dengan penghasilan bulanan dari bekerja di sebuah restoran.

"Aduh, ini Pertamax naiknya sadis banget sih ya. Udah berapa persen sendiri itu, dari 12.300 sampai sekarang ke 16.250 ya. Ini makin menjerit nih rakyat nih," kata Ari Kurniawan saat ditemu Tribunnews.com di SPBU Pertamina kawasan Kemang, Jakarta Selatan, Rabu pagi. 

Apalagi, salah satu sepeda motor miliknya memang sudah menggunakan BBM non-subsidi sejak lama. Hal ini mengingat kompresi kendaraannya yang cukup tinggi.

Namun karena ada kenaikan harga yang cukup tinggi, Ari mengaku terpaksa untuk beralih mengisi BBM kendaraannya ke Pertalite meski ia khawatir mesin sepeda motornya akan mendapatkan masalah.

"Kalau untuk saat ini kayaknya bakal pindah ke Pertalite dulu deh. Pertalite dulu," ucapnya terpaksa.

Saksikan LIVE UPDATE selengkapnya hanya di YouTube Tribunnews!

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.