Pedagang Sembako Pasar Tenguyun Tarakan Sebut Harga Merangkak Naik, Beras 20 Kilogram Rp 320 Ribu 
Junisah June 11, 2026 03:14 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TARAKAN – Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, para pedagang sembako di Pasar Tenguyun, Tarakan, Kalimantan Utara, kembali menghadapi tantangan baru. 

Harga sejumlah kebutuhan pokok mulai dari beras, minyak goreng, tepung hingga bawang perlahan terus mengalami kenaikan.

Seperti pengakuan Sudirman, pedagang sembako yang sudah sekitar 20 tahun berjualan di Pasar Tenguyun, kenaikan harga bukan lagi hal baru. Namun dalam beberapa waktu terakhir, hampir seluruh komoditas yang dijualnya mengalami penyesuaian harga.

Pria yang sudah merasakan pasang surut perdagangan sembako sejak masih berjualan di pasar lama itu mengatakan kenaikan terjadi pada berbagai jenis beras yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.

Salah satu yang mengalami kenaikan adalah beras merek Satap asal Sidrap, Sulawesi Selatan.

"Dari yang biasanya Rp317 ribu, sekarang Rp320 ribu untuk  beras ukuran 20 kilogram," ujarnya.

Baca juga: Dolar AS Menguat, Harga Kerupuk di Tarakan Naik Rp 5.000, Agen Sebut Terjadi Sejak Maret 2026

Menurut Sudirman, kenaikan memang tidak terlalu besar, sekitar Rp3.000 per karung. Namun hampir semua jenis beras mengalami kondisi serupa.

"Iya, naik. Kenaikannya sekitar Rp3 ribu," katanya.

Tak hanya ukuran 20 kilogram, beras kemasan kecil juga mengalami penyesuaian harga.

"Kalau yang ukuran 5 kg sekarang Rp90 ribu. Sebelumnya sekitar Rp87 ribu sampai Rp88 ribu," ujarnya.

Meski demikian, ia mengaku beras asal Sulawesi masih menjadi pilihan sebagian besar pelanggannya dibanding beras dari daerah lain.

"Bagusnya yang ini yang suka orang. Karena dia tidak terlalu poles," katanya sambil menunjukkan karung beras yang dijual di tokonya.

Selain beras, kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng. Sudirman menjelaskan harga minyak goreng kemasan dua liter yang dijual di tokonya saat ini berada di kisaran Rp43 ribu hingga Rp45 ribu per kemasan.

Namun di balik harga jual tersebut, ia mengaku pedagang juga menghadapi tantangan saat membeli barang dari distributor. Menurutnya, pembelian minyak goreng sering kali harus disertai produk lain yang kurang diminati pasar.

Baca juga: Antisipasi Lonjakan Harga Beras, Bupati Bulungan Tekankan Pengawasan Distribusi dan Ketersediaan

"Kita ada gandengannya. Kadang kopi yang kurang laku, kadang terigu, kadang obat nyamuk. Mau tidak mau harus ikut dibeli," katanya.

Ia mencontohkan, ketika membeli dua dus minyak goreng, pedagang diwajibkan mengambil satu dus produk lain sebagai paket pembelian.

Kondisi tersebut membuat pedagang harus menghitung kembali biaya tambahan ke dalam harga jual barang.

"Kita nanti harus kasih masuk di harga minyak, karena barang yang ikut itu kadang tidak laku," katanya.

Kenaikan harga juga dirasakan pada produk tepung yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Sudirman menyebut tepung terigu merek Segitiga Biru yang sebelumnya dijual sekitar Rp14 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp16 ribu.

Kemudian  tepung Dua Pedang juga mengalami kenaikan. Dulu Rp10 ribu, sekarang sudah Rp11 ribu. Namun menurutnya, komoditas yang mengalami kenaikan paling terasa justru tepung ketan.

Ia mengatakan harga tepung ketan yang sebelumnya berkisar Rp12 ribu kini telah mencapai Rp15 ribu per kilogram. Kenaikan harga juga terjadi pada tepung ketan merek Lencana Merah yang banyak digunakan masyarakat untuk kebutuhan membuat kue.

"Kalau dulu sekitar Rp12 ribu, sekarang sudah Rp15 ribu juga," ujarnya.

Tak berhenti di situ, komoditas bawang yang menjadi bumbu pokok rumah tangga juga mengalami fluktuasi harga yang cukup tinggi. Menurut Sudirman, harga bawang merah saat ini berada di kisaran Rp60 ribu per kilogram.

"Kalau bawang merah sekarang Rp60 ribu," katanya.

Meski begitu, harga bawang merah sangat bergantung pada kondisi pasokan dari daerah penghasil. Ia mengaku pernah mengalami masa ketika harga bawang merah melonjak hingga menembus angka fantastis.

"Pernah sampai Rp100 ribu, bahkan Rp150 ribu waktu bawang Bima tidak masuk dan gagal panen," ujarnya.

Sudirman menjelaskan harga bawang merah sangat dipengaruhi kondisi produksi di daerah asal. Produksi saat ininada dari Surabaya dan Sulaweasi.

SEMBAKO ALAMI KENAIKAN - Sudirman, pedagang sembako yang memiliki kios di Pasar Tenguyun Kota Tarakan.
SEMBAKO ALAMI KENAIKAN - Sudirman, pedagang sembako yang memiliki kios di Pasar Tenguyun Kota Tarakan. (TribunKaltara.com/Andi Pausiah)

Bahkan ia memperkirakan harga bawang merah masih berpotensi mengalami kenaikan ketika pasokan berikutnya tiba di Tarakan.

"Nanti kapal datang naik lagi," ujarnya.

Untuk bawang putih, harga saat ini juga mengalami kenaikan dibanding sebelumnya. Harganya Rp38 ribu per kg.
Menurut Sudirman, kenaikan terjadi karena faktor nilai tukar dan harga dari daerah pemasok.

"Sekarang tukaran ringgit naik. Dulu Rp4 ribu, sekarang mau Rp5 ribu sudah," ujarnya.

Ia menjelaskan sebagian bawang putih yang dijual berasal dari Tawau, Malaysia, karena kualitasnya dinilai lebih baik dibanding bawang yang datang melalui Surabaya.

"Kalau Tawau keras, bagus. Kalau dari Surabaya banyak yang lembek," katanya.

Selama dua dekade berjualan sembako, Sudirman mengaku sudah terbiasa menghadapi naik turunnya harga barang kebutuhan pokok. Namun menurutnya, dalam beberapa waktu terakhir hampir seluruh komoditas mengalami kenaikan secara bersamaan.

Mulai dari beras, minyak goreng, tepung hingga bawang mengalami penyesuaian harga yang akhirnya ikut dirasakan pedagang maupun pembeli.

"Kalau barang banyak masuk biasanya harga turun. Tapi kalau pasokan kurang, pasti ikut naik lagi," pungkasnya.

(*)

Penulis: Andi Pausiah

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.