TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang kini menyentuh angka Rp 16.250 per liter menyisakan dilema berat bagi para pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta.
Para pejuang aspal ini kini dihadapkan pada dua pilihan sulit dengan menghabiskan waktu mengantre Pertalite yang sering habis, atau terpaksa merogoh kocek lebih dalam membeli Pertamax demi mengejar setoran.
Suryananta (63), seorang driver ojol asal Cengkareng Jakarta Barat, menceritakan keluh kesahnya saat ditemui di SPBU Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Bagi pria lanjut usia ini, harga Pertamax saat ini sudah terlalu tinggi untuk ukuran pendapatannya.
"Ya, saya juga merasa keberatan ya, dengan adanya Pertamax ya. Itu naiknya terlalu tinggi. Tiga ribu. Bayangkan aja," ujar Suryananta kepada Tribunnews, Kamis (11/6/2026).
Baca juga: Kenaikan BBM Bikin Selisih Harga Pertalite-Pertamax Makin Lebar, Ekonom: Picu Migrasi ke BBM Subsidi
Suryananta menjelaskan sebenarnya ia ingin beralih sepenuhnya ke Pertalite yang lebih murah. Namun, kenyataan di lapangan tidak semudah itu.
SPBU yang menyediakan Pertalite seringkali dipadati antrean yang mengular panjang, bahkanbtak jarang stoknya kosong atau gerainya ditutup sementara.
"Ya saya lari ke Pertalite. Ya tau sendiri kan Pertalite. Kalau Pertalite itu ngantre. Kadang-kadang tutup di pomnya kan. Pom tutup," keluhnya.
Kondisi inilah yang membuat Suryananta dan rekan sejawatnya merasa terjepit.
Saat stok Pertalite habis atau antrean sudah tidak masuk akal, mereka tidak punya pilihan lain selain membeli Pertamax agar tetap bisa menarik penumpang.
"Ya terpaksa, mau nggak mau, kami lari ke Pertamax," ungkap Suryananta dengan nada pasrah.
Pilihan membeli Pertamax tentu berdampak langsung pada keuangan para driver ojol.
Dengan rata-rata penghasilan harian yang tak menentu, biaya bensin kini memakan porsi yang sangat besar.
"Penghasilan saya sehari paling dapat seratus ribu. Itu juga kadang-kadang," tuturnya.
Ia menjelaskan dalam sehari, pengeluaran untuk bensin motor Yamaha NMAX miliknya bisa mencapai Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu, bahkan sebelum adanya kenaikan harga.
Kini, dengan harga Pertamax yang berada di kisaran Rp 16.250 per liter, margin keuntungan yang dibawa pulang ke rumah semakin menipis.
Suryananta berharap pemerintah bisa meninjau kembali kebijakan harga ini, mengingat tingginya ketergantungan rakyat kecil pada BBM.
"Negara mestinya harga Pertamax diturunkanlah. Pendapatan kami ya rakyat kecil begini ya repot," pungkasnya.