Harga Pertamax Naik 32 Persen, Akademisi Sebut Daya Beli Masyarakat Bangka Belitung Melemah
M Zulkodri June 11, 2026 04:03 PM

 

BANGKAPOS.COM, PANGKALPINANG--Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter mulai memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi rumah tangga masyarakat di Bangka Belitung.

Lonjakan harga yang mencapai sekitar 32 persen dinilai berpotensi menekan daya beli warga karena tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan yang diterima masyarakat setiap tahun.

Akademisi ekonomi dari Universitas Pertiba, Dr. Jauhari, SE, MM, mengatakan kenaikan harga Pertamax terjadi ketika peningkatan pendapatan masyarakat masih relatif terbatas.

Menurutnya, dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan upah maupun pendapatan masyarakat Bangka Belitung hanya berkisar antara 5 hingga 7 persen per tahun.

Angka tersebut jauh di bawah laju kenaikan harga Pertamax yang mencapai lebih dari 30 persen.

“Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.600 ke Rp16.650 mencapai sekitar 32 persen, sementara kenaikan pendapatan atau upah masyarakat Babel dalam setahun umumnya hanya berkisar 5 hingga 7 persen. Artinya, laju kenaikan biaya BBM jauh lebih cepat dibanding pertumbuhan pendapatan sehingga berpotensi menekan daya beli masyarakat,” ujar Jauhari, Rabu (10/6/2026).

Ia menjelaskan, ketidakseimbangan antara kenaikan biaya hidup dan pertumbuhan pendapatan akan membuat masyarakat harus mengalokasikan pengeluaran lebih besar untuk kebutuhan transportasi.

Kondisi tersebut berpotensi mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan lainnya.

Kenaikan UMP Dinilai Tak Mampu Mengimbangi

Jauhari menilai kondisi tersebut juga tercermin dari perkembangan Upah Minimum Provinsi (UMP) Bangka Belitung yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami kenaikan relatif terbatas.

Menurutnya, kenaikan UMP rata-rata hanya berada pada kisaran Rp100 ribu hingga Rp400 ribu per tahun.

Sementara itu, harga berbagai kebutuhan pokok dan biaya hidup terus bergerak naik.

“Di satu sisi kenaikan pendapatan relatif kecil, sementara di sisi lain harga barang dan kebutuhan hidup naik lebih cepat. Kondisi ini tentu menambah beban masyarakat,” katanya.

Ia memperkirakan dampak paling cepat akan dirasakan oleh masyarakat yang selama ini menggunakan Pertamax untuk kendaraan pribadi maupun aktivitas usaha sehari-hari.

Pengeluaran Rumah Tangga Berpotensi Berubah

Kenaikan harga BBM, kata Jauhari, hampir selalu diikuti perubahan pola pengeluaran masyarakat.

Saat biaya transportasi meningkat, masyarakat biasanya akan memangkas anggaran pada pos pengeluaran lain yang dianggap tidak terlalu mendesak.

“Kalau biaya BBM naik sementara pendapatan tidak bertambah, masyarakat pasti melakukan penyesuaian. Bisa jadi mereka mengurangi pengeluaran untuk rekreasi, wisata, hiburan, atau kebutuhan lain yang tidak terlalu mendesak,” ujarnya.

Menurut dia, kelompok yang paling terdampak bukan hanya pemilik kendaraan pribadi, tetapi juga pelaku usaha yang bergantung pada mobilitas kendaraan.

Mulai dari perusahaan yang memiliki armada operasional, usaha rental mobil, jasa travel, layanan pengiriman barang, hingga sektor transportasi diperkirakan akan merasakan dampak langsung dari kenaikan harga Pertamax.

“Dampak yang paling langsung tentu dirasakan pengguna Pertamax karena biaya perjalanan dan transportasi mereka meningkat,” katanya.

Baca juga: Mantan Drummer Dewa 19 Tyo Nugros Dicegah ke Malaysia, Paspor Kini Ditahan Imigrasi

Pengguna Diprediksi Beralih ke Pertalite

Selain memengaruhi daya beli, kenaikan harga Pertamax juga diperkirakan akan mengubah pola konsumsi BBM masyarakat.

Selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite dinilai dapat mendorong sebagian pengguna beralih ke BBM bersubsidi.

“Kalau melihat selisih harga yang cukup jauh, kemungkinan besar akan ada pengguna Pertamax yang beralih ke Pertalite. Itu sangat mungkin terjadi,” ujar Jauhari.

Fenomena perpindahan konsumen tersebut berpotensi meningkatkan antrean di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), khususnya pada dispenser Pertalite.

Menurutnya, jika jumlah pengguna Pertalite bertambah sementara pasokan dan kuota tidak mengalami perubahan, antrean kendaraan dapat menjadi lebih panjang dibandingkan biasanya.

“Antrean Pertalite kemungkinan akan lebih panjang dibanding biasanya karena ada tambahan konsumen dari pengguna Pertamax,” katanya.

Kuota Pertalite Bisa Lebih Cepat Habis

Jauhari juga mengingatkan adanya risiko meningkatnya penyerapan kuota BBM subsidi apabila banyak pengguna Pertamax beralih ke Pertalite.

Dalam kondisi tersebut, stok Pertalite berpotensi lebih cepat habis di sejumlah SPBU.

Jika itu terjadi, masyarakat akan kembali dihadapkan pada pilihan membeli Pertamax dengan harga yang jauh lebih tinggi.

“Kalau permintaan Pertalite meningkat sementara kuota tetap, stok bisa lebih cepat habis. Pada akhirnya masyarakat terpaksa membeli Pertamax karena kendaraan tetap harus digunakan,” ujarnya.

Kondisi tersebut, menurutnya, perlu menjadi perhatian karena dapat memunculkan tekanan baru bagi masyarakat yang bergantung pada kendaraan untuk aktivitas sehari-hari maupun pekerjaan.

Ada Dampak Positif di Balik Kenaikan Harga

Meski banyak menimbulkan tantangan, Jauhari menilai kenaikan harga BBM juga dapat memberikan efek positif dalam jangka panjang.

Ia melihat kondisi tersebut dapat mendorong masyarakat menjadi lebih hemat dan bijak dalam menggunakan kendaraan maupun mengatur konsumsi bahan bakar.

“Dampak positifnya, masyarakat bisa lebih hemat dalam menggunakan kendaraan dan bahan bakar. Pengeluaran yang bertambah membuat orang lebih berhati-hati dalam menggunakan BBM,” katanya.

Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mulai menata kembali kondisi keuangan rumah tangga agar mampu menghadapi kenaikan biaya hidup yang terjadi.

Warga Diminta Cari Sumber Penghasilan Tambahan

Untuk menjaga stabilitas keuangan keluarga, Jauhari menyarankan masyarakat mulai melakukan berbagai langkah penyesuaian, termasuk mencari sumber pendapatan tambahan apabila memungkinkan.

Menurutnya, ketergantungan pada satu sumber penghasilan akan semakin rentan ketika biaya hidup terus meningkat.

“Kalau pendapatan tetap sementara pengeluaran bertambah, tentu harus ada penyesuaian. Bisa dengan mencari penghasilan tambahan, usaha sampingan, atau melakukan penghematan pada pengeluaran yang tidak terlalu penting,” ujarnya.

Ia menegaskan kemampuan masyarakat beradaptasi terhadap kenaikan biaya hidup akan menjadi faktor penting dalam menjaga daya tahan ekonomi rumah tangga di tengah meningkatnya beban pengeluaran, khususnya pada sektor transportasi.

“Ke depan, kemampuan mengelola pengeluaran dan mencari peluang tambahan pendapatan akan menjadi kunci agar ekonomi keluarga tetap stabil meskipun biaya hidup terus meningkat,” kata Jauhari.

Harga Pertamax Melonjak, Pengemudi Grab Bandara Pangkalpinang Keluhkan Pendapatan Kian Tergerus

Ilustrasi Armada Grab Car
Ilustrasi Armada Grab Car (TRIBUN IMAGES)

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.650 per liter mulai dirasakan para pengemudi transportasi online di Bangka Belitung.

Lonjakan harga tersebut membuat biaya operasional harian meningkat, sementara pendapatan para pengemudi tidak mengalami penyesuaian.

Salah satu yang merasakan dampaknya adalah Harry, pengemudi Grab yang mangkal di kawasan Bandara Depati Amir Pangkalpinang.

Bagi Harry, kenaikan harga Pertamax bukan sekadar persoalan bertambahnya biaya isi bahan bakar, tetapi juga menggerus keuntungan yang diperoleh dari setiap perjalanan.

“Kalau kami ini serba salah. Harga BBM naik, biaya servis naik, tapi tarif tidak bisa kami naikkan sendiri. Semua sudah diatur aplikasi. Kalau dipaksa naik, penumpang bisa kabur,” ujar Harry, Rabu (10/6/2026).

Sebagai pengemudi yang mengandalkan mobil pribadi untuk mencari nafkah, Harry mengaku harus cermat mengatur penggunaan BBM setiap harinya.

Ia biasanya mengombinasikan penggunaan Pertalite dan Pertamax sesuai kondisi di lapangan.

Dalam sepekan, sekitar empat hari ia menggunakan Pertalite dan tiga hari menggunakan Pertamax.

Menurutnya, penggunaan Pertamax sering kali tidak bisa dihindari, terutama saat aktivitas penerbangan sedang padat.

Pada kondisi tersebut, antrean kendaraan di dispenser Pertalite kerap mengular sehingga berisiko membuat pengemudi kehilangan calon penumpang.

“Saya biasanya empat hari pakai Pertalite dan tiga hari pakai Pertamax. Kalau hari ramai penumpang, kami tidak sempat antre Pertalite yang panjang. Penumpang bisa marah kalau terlalu lama menunggu. Selain itu Pertamax juga membuat performa mesin lebih ringan dan lebih awet dipakai,” katanya.

Keuntungan Semakin Menipis

Harry mengungkapkan, sebelum harga Pertamax mengalami kenaikan, pengisian BBM senilai Rp200 ribu masih cukup untuk menunjang operasional kendaraan dalam beberapa perjalanan. Namun kini jumlah liter yang diperoleh jauh lebih sedikit.

Akibatnya, margin keuntungan yang diperoleh dari setiap perjalanan ikut tergerus.

Ia mencontohkan perjalanan dari Bandara Depati Amir menuju Sungailiat yang sebelumnya masih memberikan keuntungan cukup besar.

Kini keuntungan bersih yang didapat semakin kecil karena biaya bahan bakar meningkat.

“Kalau dulu isi Rp200 ribu masih terasa cukup. Dari bandara ke Sungailiat kami masih bisa dapat sekitar Rp50 ribu bersih. Sekarang jumlah liter yang didapat jauh berkurang. Mau tidak mau biaya harian bertambah dan keuntungan turun, bahkan kadang tinggal sekitar Rp30 ribu,” ujarnya.

Menurut Harry, kendaraan yang digunakannya rata-rata menempuh perjalanan sekitar 100 kilometer setiap hari.

Untuk operasional dalam Kota Pangkalpinang saja, kebutuhan BBM bisa mencapai sekitar 13 liter per hari.

Jika mendapat order menuju wilayah luar kota seperti Sungailiat, Toboali, Mentok, atau daerah lain di Bangka Belitung, kebutuhan bahan bakar otomatis meningkat.

“Kalau hanya dalam kota mungkin habis sekitar Rp150 ribu per hari dengan harga sekarang. Tapi kalau sudah antar ke kabupaten atau luar kota bisa mencapai Rp200 ribu sampai Rp300 ribu,” katanya.

Biaya Perawatan Ikut Membengkak

Selain bahan bakar, Harry juga harus menanggung berbagai biaya operasional lain yang terus mengalami kenaikan. Sebagai kendaraan yang digunakan setiap hari, mobilnya membutuhkan perawatan rutin agar tetap layak dan nyaman digunakan penumpang.

Mulai dari penggantian oli, perawatan mesin, hingga penggantian ban harus dilakukan secara berkala.

“Mobil ini jalan terus. Oli harus rutin diganti setiap 10 ribu kilometer atau sekitar sebulan sekali. Harga oli naik hingga Rp40 ribu, belum lagi ban. Semua itu keluar dari kantong kami sendiri,” ujarnya.

Menurut Harry, banyak masyarakat yang mengira pendapatan pengemudi transportasi online cukup besar karena melihat tarif yang tertera di aplikasi. Padahal, dari tarif tersebut masih ada potongan komisi aplikator serta biaya operasional kendaraan yang harus ditanggung sendiri.

Ia mencontohkan perjalanan dari Bandara Depati Amir menuju pusat Kota Pangkalpinang yang tarifnya bisa mencapai sekitar Rp60 ribu. Namun jumlah yang diterima pengemudi jauh lebih kecil setelah dipotong berbagai biaya.

“Orang lihat tarifnya mungkin Rp60 ribu lebih. Padahal yang masuk ke pengemudi tidak sebesar itu. Setelah dipotong aplikasi, bensin, dan biaya operasional lainnya, kadang bersihnya hanya sekitar Rp25 ribu,” katanya.

Penumpang Belum Pulih

Di tengah meningkatnya biaya operasional, Harry juga menghadapi tantangan lain berupa menurunnya jumlah penumpang.

Menurutnya, kondisi tersebut mulai terasa sejak adanya kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang berdampak pada berkurangnya perjalanan dinas.

Sebagai pengemudi yang beroperasi di kawasan bandara, Harry merasakan langsung penurunan aktivitas penumpang yang sebelumnya didominasi oleh pelaku perjalanan dinas maupun tamu instansi pemerintah.

“Kalau kunjungan dinas berkurang, tamu hotel juga berkurang. Hotel sepi, UMKM sepi, penjual oleh-oleh ikut terdampak. Kami yang di bandara merasakan langsung karena jumlah penumpang berkurang,” ujarnya.

Ia menilai dampak perlambatan aktivitas perjalanan tersebut tidak hanya dirasakan pengemudi transportasi online, tetapi juga berbagai sektor usaha lain yang bergantung pada mobilitas wisatawan maupun tamu dari luar daerah.

“Sebelum ada efisiensi anggaran, perjalanan dinas itu salah satu sumber penumpang terbesar kami. Sekarang jauh berkurang, sementara biaya operasional terus naik,” katanya.

Menjadi Tulang Punggung Keluarga

Beban yang dihadapi Harry semakin berat karena pekerjaan sebagai pengemudi Grab merupakan sumber penghasilan utama keluarganya.

Ia harus memenuhi kebutuhan rumah tangga bersama istri dan dua anak yang saat ini memasuki usia sekolah.

Anak pertamanya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, sementara anak keduanya bersiap masuk sekolah dasar.

Di saat yang sama, berbagai kebutuhan pokok juga terus mengalami kenaikan harga.

“Anak pertama mau masuk SMP, yang kedua mau masuk SD. Biaya sekolah harus dipersiapkan. Sekarang apa-apa naik, termasuk bensin,” katanya.

Untuk menyiasati kondisi tersebut, Harry mulai melakukan berbagai langkah penghematan. Salah satunya dengan membawa bekal makanan dari rumah agar tidak perlu membeli makan siang saat bekerja.

“Kalau sekarang lebih banyak berhemat. Makan siang sering bawa dari rumah supaya bisa mengurangi pengeluaran harian,” ujarnya.

Berharap Ada Ruang Napas

Meski menghadapi tekanan biaya operasional dan penurunan jumlah penumpang, Harry mengaku tetap berusaha bertahan karena pekerjaan tersebut menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarganya.

Ia berharap kondisi ekonomi segera membaik sehingga aktivitas penerbangan dan jumlah penumpang kembali meningkat.

“Kami ini full time. Tidak ada pekerjaan lain. Harapannya penumpang tetap ada supaya biaya operasional bisa tertutupi,” katanya.

Selain itu, Harry juga berharap pemerintah dapat merealisasikan kebijakan pembatasan potongan komisi aplikator yang selama ini diperjuangkan para pengemudi transportasi online.

Menurutnya, langkah tersebut setidaknya dapat membantu meringankan beban para pengemudi yang saat ini harus menghadapi kenaikan biaya operasional di berbagai sektor.

“Kalau potongan aplikator bisa ditekan dan aturan itu benar-benar dijalankan, setidaknya ada ruang napas bagi pengemudi. Sekarang biaya terus naik, tapi pendapatan kami tidak ikut naik,” ujarnya.

(Bangkapos.com/Erlangga)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.