TRIBUNJAKARTA.COM, PASAR REBO - Pelemahan nilai tukar rupiah dan kenaikan harga BBM non-subsidi mulai dirasakan dampaknya oleh kelompok rentan di Jakarta Timur, salah satunya para penyandang disabilitas tunanetra yang menggantungkan hidup dari pekerjaan sektor informal.
Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) DPC Jakarta Timur mengungkapkan, pendapatan para anggotanya yang bekerja sebagai pedagang kerupuk hingga tukang pijat mengalami penurunan drastis dalam dua bulan terakhir.
Ketua Pertuni DPC Jakarta Timur, Mulyawan, menyebut omzet sebagian tunanetra bahkan merosot hingga 50 persen dibandingkan sebelumnya.
Menurut dia, kondisi tersebut semakin berat setelah harga Pertamax kembali mengalami kenaikan.
"Ditambah lagi sekarang tiba-tiba bensin yaitu Pertamax itu tiba-tiba naik lagi. Wah, ini sudah makin morat-marit lagi," kata Mulyawan, Kamis (11/6/2026).
Mulyawan menuturkan, mayoritas penyandang disabilitas yang bekerja sebagai pedagang dan terapis pijat tidak memiliki penghasilan tetap.
Karena itu, ketika masyarakat mulai menekan pengeluaran dan mengurangi belanja kebutuhan sekunder, dampaknya langsung dirasakan oleh para tunanetra.
Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh penyandang disabilitas yang membuka jasa pijat. Pasalnya, sebagian besar pelanggan mereka berasal dari kalangan pekerja kelas menengah yang kini juga terdampak tekanan ekonomi.
Akibatnya, jumlah pelanggan menurun dan pendapatan ikut tergerus.
Di sisi lain, kesempatan kerja bagi penyandang disabilitas masih belum sepenuhnya setara dengan masyarakat umum.
Situasi itu membuat kelompok rentan seperti tunanetra semakin kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
"Kalau untuk teman-teman yang seperti pedagang, pijat masih kesulitan. Kita masih mencari cara yang bisa membuat teman-teman menambah income untuk biaya tambahan hidup," ujarnya.
Atas kondisi tersebut, Pertuni DPC Jakarta Timur berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga stabilitas ekonomi, termasuk mengendalikan harga kebutuhan masyarakat.
Mulyawan menilai, kebijakan ekonomi yang diambil pemerintah seharusnya juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas.
Ia berharap daya beli masyarakat dapat kembali pulih sehingga aktivitas ekonomi para tunanetra juga ikut membaik.
"Harapan saya sih di tengah ekonomi sulit ini untuk pemerintah tolonglah distabilkan kembali ekonomi yang saat ini sudah morat-marit yang enggak karuan inilah. Stabilkan semua harga," tuturnya.