TRIBUNJAMBI.COM – Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memanas setelah muncul laporan mengenai serangan rudal yang menghantam Pangkalan Udara Ramat David di wilayah utara Israel.
Serangan tersebut disebut sebagai bagian dari aksi balasan Iran atas operasi militer Israel yang sebelumnya menyasar kawasan pinggiran selatan Beirut, Lebanon.
Sejumlah laporan yang beredar menyebutkan rudal-rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan mengenai area strategis di pangkalan militer tersebut, termasuk kompleks hanggar yang digunakan untuk menyimpan jet tempur.
Citra satelit serta sejumlah kesaksian di lapangan memperlihatkan adanya kerusakan pada fasilitas militer yang menjadi salah satu pangkalan penting Angkatan Udara Israel itu.
Beberapa hanggar dilaporkan mengalami kerusakan berat setelah dihantam rudal balistik dalam rangkaian serangan terbaru yang terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik kawasan.
Berdasarkan foto satelit beresolusi rendah yang dirilis Soar pada Senin (8/6/2026), terlihat sejumlah titik gelap pada area yang sebelumnya menjadi lokasi hanggar pesawat tempur.
Laporan yang dikutip dari Middle East Monitor (MEMO), Kamis (11/6/2026), menyebut fasilitas militer tersebut diduga mengalami kerusakan akibat serangan rudal yang dilancarkan Iran.
Meski demikian, hingga kini belum ada informasi resmi yang dapat memastikan tingkat kerusakan sebenarnya maupun dampak operasional yang ditimbulkan terhadap pangkalan tersebut.
Baca juga: Tingkatkan Kesiapsiagaan Petugas, Lapas Muara Bulian Gelar Penguatan Jajaran Pengamanan
Israel Akui Ada Kerusakan
Di tengah beredarnya laporan tersebut, militer Israel atau Israel Defense Forces (IDF) mengakui adanya kerusakan pada pangkalan udara yang terkena serangan.
Namun, IDF menegaskan kerusakan tersebut tidak memengaruhi kemampuan tempur maupun kesiapan operasional armada udara mereka.
Menurut pihak militer Israel, aktivitas penerbangan jet tempur masih berlangsung normal dan tidak mengalami gangguan berarti meskipun beberapa fasilitas pendukung dilaporkan terdampak.
Pengakuan ini menjadi perhatian karena disebut sebagai salah satu kesempatan pertama Israel secara terbuka mengakui adanya kerusakan pada pangkalan udara akibat serangan rudal Iran.
Meski begitu, Israel tetap menegaskan bahwa kekuatan udara mereka tetap berada dalam kondisi siap tempur dan mampu menjalankan seluruh operasi militer yang telah direncanakan.
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
Sementara itu, ketegangan juga meningkat di jalur pelayaran internasional setelah Iran kembali melakukan penutupan Selat Hormuz.
Langkah tersebut dilakukan di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang kembali terlibat dalam aksi saling serang dalam beberapa hari terakhir.
Laporan menyebutkan Amerika Serikat terus menggencarkan operasi militer ke sejumlah wilayah di Iran bagian selatan, yang kemudian dibalas Teheran dengan serangan terhadap sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Penutupan Selat Hormuz membuat aktivitas pelayaran internasional menjadi terganggu.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bahkan dikabarkan melakukan tindakan terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar pembatasan pelayaran yang diterapkan di kawasan tersebut.
Dalam laporan terbaru, IRGC disebut telah menargetkan dua kapal yang mencoba melintasi jalur tersebut meski telah diberlakukan larangan.
Selain itu, Iran juga memperingatkan seluruh kapal yang berada di wilayah Laut Oman maupun Teluk Persia agar tidak meninggalkan area tambat tanpa izin.
Ancaman Krisis Energi Global
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia karena menjadi pintu utama distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Karena itu, setiap gangguan yang terjadi di jalur tersebut berpotensi memicu gejolak besar pada pasar energi global.
Penutupan Selat Hormuz yang sempat terjadi pada awal Maret lalu diketahui menyebabkan lonjakan harga minyak dunia secara signifikan.
Harga minyak mentah yang sebelumnya berada di kisaran 70 dolar AS per barel sempat melonjak hingga menyentuh rentang 80 hingga 116 dolar AS per barel.
Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga minyak dapat menembus level 100 hingga 126 dolar AS per barel apabila gangguan terhadap jalur distribusi energi itu berlangsung dalam jangka waktu lebih lama.
Kenaikan harga energi tersebut dikhawatirkan memicu dampak berantai berupa peningkatan inflasi global, kenaikan biaya logistik, hingga tekanan terhadap perekonomian berbagai negara.
Indonesia juga berpotensi terkena dampaknya, terutama terkait beban subsidi energi dan stabilitas harga bahan bakar minyak di dalam negeri apabila harga minyak dunia terus mengalami kenaikan.