Tribunlampung.co.id, Jakarta - Asap di dapur-dapur rumah tangga di Indonesia tampaknya harus mengepul dengan biaya yang jauh lebih mahal dalam waktu dekat.
Baca juga: Pertamax Naik Jadi Rp 16.650, Pengendara Motor di Lampung Tengah Beralih ke Pertalite
Belum juga reda rasa terkejut masyarakat setelah terpukul oleh lonjakan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax yang menyentuh Rp16.250 per liter, kini sebuah kabar pahit kembali datang menghampiri meja makan keluarga.
Pemerintah melalui Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memberikan sinyal kuat bahwa harga gas Liquefied Petroleum Gas (LPG) akan segera mengalami kenaikan.
Bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha mikro, kabar ini ibarat hantaman bertubi-tubi di tengah merosotnya nilai tukar rupiah yang kian mencekik daya beli.
Meski di satu sisi pemerintah menjamin bahwa tabung-tabung gas tidak akan langka di pasaran, ketenangan batin masyarakat tetap terusik.
Di balik jaminan "pasokan aman," ada kenyataan riil bahwa isi dompet warga akan kembali terkuras demi memenuhi kebutuhan paling mendasar, menyalakan kompor untuk menyambung hidup sehari-hari.
Dikutip dari Wartakotalive.com, kepastian yang menguji ketahanan emosional publik itu disampaikan oleh Bahlil Lahadalia saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Mantan Ketua Umum HIPMI ini menjelaskan dengan gamblang bahwa badai ekonomi yang terjadi di sektor energi saat ini murni dikarenakan tekanan pasar internasional yang sedang bergejolak.
"Pasokan gas kita aman. Yang terjadi sekarang adalah kenaikan harga," ungkap Bahlil dengan nada lugas, mempertegas posisi Indonesia yang tidak bisa mengelak dari rantai pasok global.
Bahlil memaparkan, tren meroketnya harga gas bukan hanya menjadi rapor merah bagi Indonesia. Berbagai negara di dunia saat ini tengah menghadapi nestapa serupa akibat ketegangan geopolitik internasional yang memicu ketidakpastian pasar.
Namun, bagi seorang ibu yang harus memikirkan menu makanan esok hari atau pedagang gorengan keliling di sudut kota, teori makroekonomi global tentu terasa jauh dari realitas jengkel di depan mata.
Kenaikan harga gas berarti berkurangnya porsi keuntungan usaha atau terpangkasnya anggaran belanja susu anak.
Pemerintah sendiri mengklaim terus berupaya menjaga keseimbangan yang sensitif ini, antara kelangsungan industri energi dan perlindungan terhadap isi dompet masyarakat.
Bahlil menegaskan, masyarakat setidaknya tidak perlu mengantre berjam-jam di agen atau pangkalan karena stok dalam negeri dipastikan melimpah.
"Pasokan tidak ada masalah. Yang menjadi tantangan hari ini adalah harga yang naik mengikuti perkembangan global," tambah Bahlil, mencoba menenangkan publik agar tidak terjadi kepanikan massal (panic buying).
Kini, bola panas kebijakan berada di tangan pemerintah untuk meminimalkan efek karambol negatif terhadap inflasi domestik.
Sementara regulasi digodok di ruangan-ruangan ber-AC di ibu kota, di luar sana, jutaan emak-emak harus kembali memutar otak sekencang mungkin, menyiasati pengeluaran harian, dan bertahan di tengah kepungan harga-harga yang terus merayap naik.