TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -- Kepala Perwakilan BI Provinsi Sumatera Selatan, Bambang Pramono menyampaikan terkait perkembangan ekonomi terkini baik pada level global, nasional, maupun regional.
“Kami optimis dan akan all out memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter untuk mendukung upaya stabilisasi nilai tukar rupiah,” ujar Bambang, Kamis (11/6/2026).
Selain itu, Bambang juga memaparkan alasan di balik kenaikan BI Rate menjadi 5,50 % .
Ia menjelaskan bahwa Bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
Selain itu, untuk mendukung kebijakan kenaikan BI Rate tersebut, BI juga menempuh langkah-langkah strategis penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah dengan meningkatkan imbal hasil dan sejumlah insentif lain dalam operasi moneter bagi masuknya aliran investasi asing sebagai berikut:
Sementara itu, penguatan operasi moneter valuta asing terus dilakukan dengan meningkatkan intensitas intervensi baik melalui transaksi spot dan DNDF di pasar domestik maupun transaksi NDF di pasar luar negeri.
Dalam paparannya, Bambang Pramono turut menyampaikan bahwa di tengah berbagai tantangan global, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang baik.
Sumatera Selatan juga konsisten memperlihatkan kinerja ekonomi yang positif, tercermin dari pertumbuhan ekonominya pada triwulan I 2026 yang tumbuh sebesar 5,34 % (yoy), inflasi yang masih terjaga sesuai sasaran inflasi nasional, pertumbuhan DPK pada triwulan II 2026 sebesar 7,03 % (yoy) dan pertumbuhan kredit pada triwulan II 2026 sebesar 10,54 % (yoy), dan digitalisasi sistem pembayaran Sumatera Selatan yang terus menunjukkan kinerja yang positif.
Ekonomi Sumatera Selatan diproyeksikan tumbuh sebesar 5,00 % –5,80?ngan inflasi yang berkisar di rentang sasaran 2,5 +- 1 % pada 2026.
Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp TribunSumsel.com