Laporan Wartawan Tribunnews.com, Chrysnha Pradipha
TRIBUNNEWS.COM, BOYOLALI - Telepon itu terus menempel di telinga seorang perempuan paruh baya saat ia melangkah tergesa memasuki Anugerah Cell di Ngargorejo, Kecamatan Ngemplak, Boyolali.
Raut wajahnya terlihat tegang, sesekali ia mengangguk mengikuti arahan seseorang dalam sambungan telepon. Tangannya yang gemetar kemudian menyerahkan sejumlah uang untuk ditransfer ke rekening yang disebutkan melalui telepon.
Di tengah proses transaksi, perempuan itu berkali-kali menanyakan apakah uang yang dikirim benar-benar akan membuat hadiah yang dijanjikan segera cair.
Dari balik meja pelayanan, Ida Kuntalasari (46) langsung merasa ada yang tidak beres.
Pengalamannya selama bertahun-tahun melayani transaksi warga membuat pemilik Anugerah Cell sekaligus agen BRILink itu hafal dengan pola semacam itu.
Orang yang datang dengan wajah panik, terus berbicara melalui telepon, lalu terburu-buru meminta transfer ke rekening tertentu hampir selalu berakhir sebagai korban penipuan.
"Saya kasihan sama mereka, habis hampir satu juta rupiah dalam beberapa jam," ujar Ida, Selasa (9/6/2026).
Peristiwa serupa bukan sekali dua kali terjadi bagi Ida melayani pelanggan di kawasan sekitar Waduk Cengklik. Berbagai modus penipuan kerap menyasar warga, terutama mereka yang kurang memahami cara kerja transaksi digital maupun modus kejahatan yang berkembang belakangan ini.
Salah satu yang paling sering ditemui Ida adalah modus telepon berhadiah.
Baca juga: Tak Sekadar Berwirausaha, UMKM Dbroo Kitchen Temani Siswa TK hingga Mahasiswa Berkarya
Korban dihubungi seseorang yang mengaku mewakili perusahaan atau penyelenggara undian tertentu.
Setelah diyakinkan bahwa dirinya memenangkan hadiah bernilai besar, korban diminta mengirim sejumlah uang dengan alasan biaya administrasi, pajak, atau proses pencairan hadiah.
"Korban diiming-imingi hadiah besar, tapi harus kirim uang dulu transfer ke rekening. Nah itu dipandu lewat telepon," tutur Ida.
Tak jarang, ia berusaha menghentikan transaksi yang dicurigai sebagai penipuan. Beberapa kali bahkan Ida meminta telepon genggam pelanggan dan mencoba berbicara langsung dengan orang yang berada di balik sambungan tersebut.
"Pernah saat itu si penipu langsung mematikan sambungan telepon, jadi pelanggan saya selamat. Tapi ada juga pelanggan dikasih tahu malah nekat, yaudah tertipu saya tak bisa apa-apa," ungkapnya.
Pengalaman-pengalaman semacam itulah yang membuat Ida semakin peka terhadap persoalan yang dihadapi pelanggannya. Bukan hanya penipuan berkedok hadiah, tetapi juga jeratan pinjaman online yang belakangan kerap ditemuinya.
Menurut dia, kemudahan akses pinjaman digital sering kali menjadi jebakan bagi masyarakat yang belum memahami risiko di baliknya. Tak sedikit warga yang awalnya tergiur proses pencairan cepat, tetapi kemudian kesulitan memenuhi kewajiban pembayaran karena bunga dan denda yang terus bertambah.
Kelompok yang paling sering menjadi korban, kata Ida, adalah ibu rumah tangga dan warga lanjut usia yang belum terbiasa dengan teknologi digital.
"Di situlah saya merasa kasihan, makanya saya sering mengimbau ibu-ibu terutama orang tua (lansia) agar terhindar dari penipuan, pinjol, dan lainnya," ujarnya.
Kepedulian itu tumbuh seiring intensitas pertemuannya dengan masyarakat setiap hari. Bagi Ida, menjadi agen BRILink bukan sekadar melayani transaksi keuangan. Ia juga kerap menjadi tempat bertanya warga yang kebingungan menghadapi berbagai persoalan layanan digital.
Karena itu, keramahan menjadi prinsip yang selalu dijaganya sejak pertama membuka layanan BRILink.
Ia masih mengingat cerita seorang pelanggan yang memilih kembali bertransaksi di tempatnya setelah merasa kurang nyaman saat mengunjungi agen BRILink lain.
"Ada cerita pelanggan agen BRILink di sana judes, kalau saya pokoknya keramahan nomor satu. Kita bantu customer, apapun kesulitannya kita bantu. Termasuk lansia banyak yang ke sini, mereka kan gaptek, jadi kita sebagai agen harus membantu," paparnya.
Setiap hari, berbagai kebutuhan transaksi masyarakat dilayani di Anugerah Cell. Mulai dari setor dan tarik tunai, transfer antarbank, pembayaran listrik, air, BPJS, cicilan pinjaman, hingga pembelian pulsa dan layanan e-commerce.
Bagi warga sekitar Waduk Cengklik, keberadaan agen BRILink menjadi alternatif yang lebih mudah dijangkau dibanding harus pergi ke ATM maupun kantor bank.
"Kalau warga sekitar ya pilih ke sini, cari yang dekat. Di sini juga bisa melayani transaksi pembayaran apa pun lengkap jadi membantu pelanggan," terangnya.
Empat tahun lalu, Ida sebenarnya tidak pernah membayangkan akan berkecimpung di dunia layanan keuangan.
Selama bertahun-tahun, kesehariannya lebih banyak dihabiskan melayani penjualan telepon genggam, kartu perdana, dan paket data internet di konter miliknya.
Kesempatan menjadi agen BRILink datang pada 2020 melalui tawaran petugas BRI. Saat itu, Ida mengaku masih asing dengan berbagai istilah dan layanan perbankan.
Ia bahkan belum memahami secara rinci mekanisme setor maupun tarik tunai yang nantinya menjadi aktivitas rutin sehari-hari.
Meski demikian, Ida memberanikan diri mencoba. Setelah melengkapi berbagai persyaratan, termasuk surat izin usaha dari pemerintah desa setempat, ia resmi menjadi agen BRILink.
Awalnya, ia tidak menaruh ekspektasi tinggi terhadap usaha baru tersebut.
Namun seiring waktu, jumlah transaksi terus bertambah. Warga mulai berdatangan untuk memanfaatkan berbagai layanan yang tersedia di konternya.
Perkembangan itu perlahan mengubah arah usahanya.
Etalase yang sebelumnya dipenuhi aksesori telepon genggam mulai berkurang. Sebagian ruang di konter kini didominasi fasilitas pendukung layanan transaksi keuangan.
"Saya sudah 10 tahun usaha jualan handphone dan kuota pulsa, tapi karena jadi agen BRILink lebih menjanjikan saya kurangi barang jualan, fokus ke agen BRILink," tuturnya.
Saat ini, rata-rata terdapat 70 hingga 80 transaksi setiap hari di Anugerah Cell. Menjelang akhir bulan, jumlah tersebut dapat meningkat hingga sekitar 100 transaksi per hari.
"Kalau jelang akhir bulan bersamaan pegawai gajian ya mungkin bisa 100 transaksi per hari," tambahnya.
Peningkatan aktivitas itu turut berdampak pada perkembangan usaha yang dijalaninya.
Dari hasil yang diperoleh selama menjadi agen BRILink, Ida kini tengah mewujudkan salah satu impiannya, yakni membangun rumah keluarga di kawasan Pengging, Boyolali.
Manfaat keberadaan Anugerah Cell juga dirasakan langsung oleh pelanggan seperti Faisal.
Pria yang bekerja sebagai sopir ekspedisi itu mengaku hampir setiap pekan menyempatkan diri datang ke konter milik Ida untuk melakukan berbagai transaksi.
Sebelum ada agen BRILink di dekat tempat tinggalnya, ia harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk menarik uang tunai atau melakukan transfer.
"Dulu mau ke ATM jauh, ke bank tambah lagi jauhnya sekitar 4 kilometeran. Ya sekarang tidak perlu jauh-jauh lagi, ada penggantinya ke sini Agen BRILink Anugerah Cell," kata Faisal.
Selain menarik uang tunai, ia kerap memanfaatkan layanan transfer dan pembayaran tagihan listrik.
"Sebulan sekali transfer uang ke orang tua di kampung, seringnya tarik tunai untuk belanja kebutuhan anak dan istri. Bayar listrik juga di sini," ungkap bapak satu anak tersebut.
Menurut Faisal, biaya administrasi yang dikenakan tidak menjadi persoalan selama layanan yang diberikan memudahkan masyarakat.
"Iya di sini ada biaya tambahan Rp5 ribu, murah sih menurut saya. Daripada kita jauh-jauh ke bank, hitungan bensin dan tenaga. Ini bayar apa pun tambah Rp5 ribu sudah dibantu juga transaksinya," ujarnya.
Menjelang sore, warga masih silih berganti datang ke Anugerah Cell.
Ada yang menarik uang tunai, membayar tagihan, mengirim uang, hingga meminta bantuan menyelesaikan kendala transaksi melalui telepon genggam mereka.
Bagi masyarakat sekitar Waduk Cengklik, konter sederhana itu telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari. Tempat yang menghadirkan kemudahan di tengah keterbatasan akses layanan perbankan.
Sementara bagi Ida, setiap transaksi yang selesai bukan sekadar angka yang tercatat dalam sistem.
Di baliknya ada kepercayaan warga yang harus dijaga, termasuk ketika ia harus berkali-kali mengingatkan pelanggan agar tidak mudah percaya pada hadiah besar yang datang dari sebuah panggilan telepon.
(*)