Presiden AS Mendadak Batalkan Serangan ke Iran, Trump Sebut Ada Kesepakatan Jelang Piala Dunia 2026
Azis Husein Hasibuan June 12, 2026 09:54 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, secara mendadak membatalkan rencana serangan militer skala besar yang dijadwalkan menyasar Iran pada Kamis (11/6/2026).

Melalui akun media sosialnya, Trump mengeklaim bahwa Washington dan Teheran telah mencapai sebuah kesepakatan besar (big deal).

Pengumuman mengejutkan ini dirilis Trump tepat bersamaan dengan upacara pembukaan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Meksiko.

Kabar pembatalan perang ini langsung direspons positif oleh pasar keuangan dunia, indeks saham global dilaporkan mengalami reli, sementara harga minyak mentah dunia langsung anjlok karena munculnya harapan pulihnya jalur ekspor energi di kawasan Teluk.

"Berdasarkan fakta bahwa diskusi dengan Republik Islam Iran telah dibawa ke tingkat tertinggi kepemimpinan Iran dan disetujui, saya membatalkan serangan dan pemboman yang dijadwalkan terhadap Iran malam ini," tulis Trump, dikutip dari AFP.

Politisi dari Partai Republik tersebut menambahkan bahwa poin-poin krusial dalam draf kesepakatan telah disetujui oleh AS bersama para sekutu regionalnya, termasuk Israel.

"Waktu dan tempat penandatanganan akan segera diumumkan," janji Trump.

MURKA - Foto diambil dari Facebook The White House, Selasa (21/10/2025) memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada Kamis (16/10/2025). Trump baru-baru ini dibuat murka lantaran Iran menerapkan pajak lewat di Selat Hormuz. (Facebook/The White House)
MURKA - Foto diambil dari Facebook The White House, Selasa (21/10/2025) memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada Kamis (16/10/2025). Trump baru-baru ini dibuat murka lantaran Iran menerapkan pajak lewat di Selat Hormuz. (Facebook/The White House) (Facebook)

Teheran Bereaksi Dingin

Berbeda terbalik dengan optimisme yang digemborkan oleh pihak Gedung Putih, respons yang datang dari Teheran justru sangat dingin dan penuh kehati-hatian.

Peringatan Keras dari Parlemen dan Militer Iran

Kewaspadaan tinggi masih menyelimuti internal pemerintahan Iran.

Sesaat sebelum Trump mengunggah klaimnya di media sosial, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, sempat melayangkan peringatan keras yang ditujukan langsung kepada Washington.

"Strategi yang salah dan keputusan impulsif akan memperburuk keadaan, menghancurkan infrastruktur dan pasar energi, serta menciptakan rawa tak berujung yang akan membuat Anda terjebak selama bertahun-tahun," tegas Ghalibaf.

Dari sisi pertahanan, Kepala Markas Besar Militer Iran, Jenderal Ali Abdollahi, turut menegaskan bahwa pasukannya siap melancarkan aksi balasan yang jauh lebih mematikan jika AS melanggar kedaulatan mereka.

"Kobaran api perang, selain menciptakan ketidakamanan di kawasan, akan menjadi lebih luas dan berdampak jauh," cetus Jenderal Abdollahi.

Upaya Mediasi Pakistan, Qatar, dan Desakan dari China

Hingga pertengahan Juni 2026 ini, konflik bersenjata antara Iran melawan koalisi AS-Israel yang pecah sejak 28 Februari 2026 terus diupayakan selesai lewat jalur diplomasi belakang (backchannel diplomacy).

Dua negara mediator, Pakistan dan Qatar, terus bergerak menjembatani kedua belah pihak. Kendati demikian, pemerintah Islamabad mengakui bahwa sangat sulit untuk mempertahankan rasa optimis di tengah tingginya eskalasi militer di lapangan.

Di sisi lain, China yang bertindak sebagai negara importir minyak terbesar dari Iran, mendesak keras agar AS dan Iran segera menahan diri demi stabilitas ekonomi global.

" Kami mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk segera menghentikan operasi militer... (dan) menanggapi upaya mediasi," tegas Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China.

(*/ Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.