Janji Bahlil Usai Naikkan Harga Pertamax, Pastikan Harga BBM Subsidi, LPG dan Listrik Tidak Naik
Azis Husein Hasibuan June 12, 2026 09:54 AM

TRIBUN-MEDAN.com - Pemerintah memastikan harga energi bersubsidi tetap dipertahankan di tengah penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa BBM bersubsidi, LPG bersubsidi, serta tarif listrik bersubsidi tidak mengalami kenaikan.

Penegasan itu disampaikan Bahlil usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, Kamis (11/6/2026).

Sehari sebelumnya, Pertamax (Research Octane Number/RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.

RON adalah angka oktan yang menunjukkan kemampuan bahan bakar menahan ketukan mesin; semakin tinggi RON, semakin baik kualitas bensin.

Sementara itu, harga Pertalite (RON 90) tetap dipertahankan Rp10.000 per liter.

“Yang pertama, kami menyampaikan bahwa harga BBM untuk bersubsidi maupun LPG itu tidak ada perubahan sama sekali. Itu dulu,” kata Bahlil.

Ia juga memastikan tarif listrik bersubsidi tidak berubah.

“Untuk subsidi sama sekali nggak ada,” tegasnya saat ditanya mengenai kemungkinan kenaikan tarif listrik ke depan.

GEBRAKAN MENTERI BAHLIL - Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia mulai mencari sumber baru minyak mentah di luar Timur Tengah guna mengurangi risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.
GEBRAKAN MENTERI BAHLIL - Bahlil Lahadalia menyatakan Indonesia mulai mencari sumber baru minyak mentah di luar Timur Tengah guna mengurangi risiko gangguan pasokan akibat konflik geopolitik. (TRIBUN MEDAN/KOMPAS.com RIKI ACHMAD SAEPULLOH)

BBM Non-Subsidi Ikuti Mekanisme Pasar

Meski energi bersubsidi dipastikan tidak berubah, Bahlil menegaskan harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax, tetap mengikuti mekanisme pasar.

"Sementara harga yang non-subsidi, itu menyesuaikan dengan harga pasar yang ada. Sudah barang tentu perhitungannya ini akan dilakukan secara bijak oleh teman-teman pelaku usaha baik Pertamina maupun pelaku swasta yang lainnya," ujarnya.

Menurut Bahlil, pemerintah memahami bahwa dinamika harga energi non-subsidi dapat memengaruhi aktivitas ekonomi dan pengeluaran rumah tangga.

Karena itu, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga daya beli masyarakat, salah satunya dengan mempertahankan harga energi bersubsidi.

"Pemerintah lagi sedang menggodok hal-hal yang terkait dengan menjaga daya beli masyarakat. Makanya kita untuk menjaga daya beli masyarakat terutama kepada BBM subsidi sama sekali tidak kita naikkan. Sementara yang lainnya dilakukan penyesuaian. Nanti kita cek nanti dengan teman-teman pelaku usaha baik dengan termasuk Pertamina," jelasnya.

Di tengah kenaikan Pertamax, sebagian masyarakat mulai beralih ke Pertalite yang harganya tetap Rp10.000 per liter sebagai alternatif yang lebih terjangkau.

Kenaikan BBM non-subsidi juga memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan potensi dampaknya terhadap inflasi.

Pemerintah menegaskan kebijakan mempertahankan energi bersubsidi menjadi salah satu instrumen untuk meredam tekanan tersebut.

Pemerintah memastikan BBM subsidi, LPG subsidi, dan tarif listrik subsidi tetap dipertahankan, sementara harga BBM non-subsidi akan terus disesuaikan dengan perkembangan pasar.

Pertamina: Kenaikan Sudah Pertimbangkan Beberapa Aspek

PT Pertamina (Persero) menyatakan, kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin non-subsidi dalam hal ini Pertamax RON92 dan Pertamax Green RON95 telah mempertimbangkan beberapa aspek.

Aspek yang paling dipertimbangkan, kata Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri yakni kemampuan beli masyarakat dan geopolitk dunia yang berdampak pada melonjaknya harga minyak dunia.

Diketahui mulai Rabu (10/6/2026) Pertamina menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari sebelumnya Rp12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.

Sedangkan, Pertamax Green 95 (RON 95) menjadi Rp17.000 per liter dari sebelumnya Rp 12.900 per liter.

"Penyesuaian pada harga BBM non-subsidi dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar Internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," kata Simon dalam keterangan resminya yang diterima Tribunnewscom, Kamis (11/6/2026) malam.

Meski begitu dirinya menyadari kalau kenaikan harga Pertamax Series ini telah berdamai pada kegiatan ekonomi masyarakat.

Bahkan kata dia, keputusan Pertamina menaikkan harga Pertamax tersebut telah menjadi perhatian serius bagi masyarakat luas.

"Kami memahami bahwa setiap penyesuaian harga tentu menjadi perhatian masyarakat," ucap dia.

Hanya saja, Simon memastikan kalau pihaknya akan menjamin stok atau ketersediaan terhadap pasokan energi dalam negeri termasuk bensin dalam kondisi yang aman.

"Di tengah tantangan global yang terus berkembang, Pertamina dengan dukungan penuh dari Pemerintah terus berkomitmen menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia," tegas Simon.

Simon juga memastikan, hingga hari ini belum ada rencana pemerintah dan Pertamina dalam menaikkan harga bensin subsidi seperti Solar dan Pertalite.

Kata dia, kedua bensin subsidi dari pemerintah itu tetap dibanderol dengan harga Rp10.000 untuk Pertalite dan Rp6.000 untuk solar di seluruh Indonesia.

"Harga BBM subsidi, yaitu Pertalite dan Biosolar, tidak mengalami perubahan. Harga Pertalite masih tetap di Rp 10.000 dan BioSolar di harga Rp 6.800 per liter sesuai ketentuan yang ditetapkan pemerintah," tukas dia.

Harga BBM di SPBU Swasta Juga Naik

Simon Aloysius Mantiri juga memastikan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bensin non-subsidi tidak hanya diterapkan oleh perusahaan pelat merah.

Kata dia, seluruh perusahaan milik swasta yang ada di Indonesia dalam hal ini Vivo, Shell dan BP-AKR juga mengalami penyesuaian harga.

"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini selain dilakukan di titik-titik SPBU Pertamina juga dilakukan oleh SPBU Badan Usaha Swasta lainnya," kata Simon dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026) malam.

Kendati demikian, Simon tidak menjelaskan secara rinci besaran kenaikan harga BBM bensin nonsubsidi yang diterapkan oleh Badan Usaha Swasta.

Namun jika merujuk beberapa sumber, saat ini harga BBM Vivo jenis Revvo RON92 dijual seharga Rp16.670 per liter, lalu Revvo RON95 seharga Rp17.240 per liter dan Primus Diesel dijual Rp30.890 per liter.

Selanjutnya untuk SPBU BP pada jenis BP RON92 kini harganya Rp16.670 per liter, BP Ultimate (RON 95) Rp17.240 per liter dan BP Ultimate Diesel seharga Rp25.060 per liter.

Sementara untuk SPBU Shell sejauh ini sebagian besar jenis bensinnya seperti Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+ belum tersedia di wilayah Indonesia.

Terhadap jenis Shell V-Power Diesel dijual dengan harga Rp24.490 per liter.

"Kami berterimakasih atas dukungan masyarakat selama ini dan mari kita bersama-sama bijak menggunakan energi," tandas Simon.

(*/ Tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.