TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang tengah memberikan pendampingan kepada seorang siswa kelas 1 SMP yang diduga menjadi korban kekerasan fisik oleh sejumlah kakak kelasnya di lingkungan sekolah.
Kasus tersebut sebelumnya menjadi perhatian publik setelah diunggah akun media sosial @dinaskegelapan_kotasemarang.
Dalam unggahan itu, orang tua korban menyampaikan anaknya diduga menjadi korban pengeroyokan yang dilakukan oleh beberapa siswa senior di kamar mandi sekolah.
Baca juga: Anak Risti Dihajar Siswa Satu Sekolah di Toilet SMP Favorit
Berdasarkan narasi yang diunggah akun tersebut, peristiwa diduga terjadi pada 30 Maret 2026.
Korban mengaku diajak ke kamar mandi sekolah dan kemudian mengalami pengeroyokan secara bergantian oleh sejumlah siswa yang lebih senior.
Setelah kejadian, korban disebut mendapat ancaman agar tidak menceritakan peristiwa tersebut kepada siapa pun, termasuk orang tuanya.
Karena merasa takut dan tertekan, korban disebut sempat menyembunyikan kejadian tersebut.
Orang tua baru mengetahui setelah melihat memar yang semakin jelas di wajah dan beberapa bagian tubuh anaknya beberapa hari kemudian.
Setelah didesak dan diberi pendampingan, korban akhirnya mengungkapkan kejadian yang dialaminya.
Keluarga korban juga menyampaikan kekecewaan karena pihak sekolah diduga telah mengetahui adanya kejadian tersebut, namun tidak segera memberikan informasi kepada orang tua.
Adapun keluarga telah menempuh jalur hukum dengan melakukan visum, pemeriksaan medis, serta membuat laporan resmi ke kepolisian.
Menanggapi kasus tersebut, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Muhammad Ahsan mengatakan, pihaknya saat ini memprioritaskan pendampingan terhadap korban.
"Ya, kalau di Dinas Pendidikan yang pertama tentu karena kejadian seperti ini, kami konsentrasi dulu ke korban," kata Ahsan, Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan, pendampingan dilakukan untuk membantu pemulihan kondisi psikologis korban pascakejadian.
"Kami berikan pendampingan secara psikologis agar pemulihan mentalnya bisa lebih cepat. Yang kedua, kami Dinas Pendidikan mengawal memastikan layanan akademik untuk korban itu tetap berjalan dengan baik," tuturnya.
Menurutnya, Disdik juga memastikan hak pendidikan korban tetap terpenuhi, terutama menjelang asesmen akhir tahun dan proses kenaikan kelas.
"Apalagi ini kan masa-masa ini asesmen akhir tahun, asesmen untuk kenaikan kelas ya jadi kami terus terus mengawal untuk memastikan bahwa korban itu juga bisa mengikuti asesmen dan nanti proses kenaikan kelas berjalan dengan lancar," terangnya.
Terkait terduga pelaku yang juga masih berstatus pelajar, Ahsan menyebut pihaknya untuk sementara masih berfokus pada pemulihan korban.
"Ya, sementara kami fokus dulu di korban. Nanti soal yang lain pelaku itu nanti kami berikan langkah-langkah setelah itu. Jadi kami akan fokus di korban dulu. Karena yang punya trauma psikologis kan korban. Ini kita selesaikan dulu trauma psikologis," jelasnya.
Ahsan mengungkapkan, secara fisik kondisi korban telah membaik.
Namun, korban masih membutuhkan pendampingan untuk memulihkan kondisi psikologisnya.
"Kalau waktu saya kunjungi sih secara fisik sudah tampak sehat, bugar, tapi secara psikis memang masih ada trauma dan butuh pendampingan dari kami," terangnya. (idy)
Baca juga: Dugaan Perundungan Siswa SMP di Semarang Viral, KAA Dibawa ke Toilet Oleh 3 Anak