Cirebon Pasang Alarm Kesehatan! Puluhan Ribu Warga Masuk Kelompok Risiko, Pemkab Siaga Cegah KLB
Dwi Yansetyo Nugroho June 12, 2026 11:11 AM

Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto


TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Alarm kesehatan tengah dinyalakan di Kabupaten Cirebon.

Di tengah besarnya jumlah warga yang masuk kelompok berisiko berbagai penyakit, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon bergerak memperkuat sistem deteksi dini guna mencegah munculnya wabah maupun lonjakan kasus yang berpotensi berkembang menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

Langkah antisipatif itu dilakukan dengan mengoptimalkan peran puskesmas dan kader kesehatan hingga tingkat masyarakat.

Pemerintah daerah menilai pencegahan menjadi kunci utama sebelum masalah kesehatan berkembang menjadi ancaman yang lebih besar.

Baca juga: NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 12 Juni 2026: Memaknai Tahun Baru Hijriah dengan Muhasabah


Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Cirebon, Hendra Nirmala mengatakan, tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks.

Tidak hanya penyakit menular yang perlu diwaspadai, tetapi juga meningkatnya kasus penyakit tidak menular yang terus menjadi perhatian.

"Penguatan deteksi dini menjadi langkah penting karena tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks, baik dari ancaman penyakit menular maupun peningkatan kasus penyakit tidak menular," ujar Hendra saat diwawancarai media, Jumat (12/6/2026).

Menurutnya, upaya pengendalian penyakit tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan semata. 

Baca juga: NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 12 Juni 2026: Memaknai Tahun Baru Hijriah dengan Muhasabah


Berbagai faktor lain seperti perilaku masyarakat, kondisi lingkungan, mobilitas penduduk hingga kesiapan logistik memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan pencegahan penyakit.

Karena itu, Pemkab Cirebon meminta seluruh fasilitas kesehatan tingkat pertama dan kader kesehatan untuk meningkatkan kegiatan skrining serta edukasi kepada masyarakat secara lebih masif.

"Optimalkan peran fasilitas kesehatan tingkat pertama (puskesmas) dan kader di masyarakat untuk melakukan skrining serta edukasi pencegahan secara masif," ucapnya.

Selain memperkuat deteksi dini, pemerintah daerah juga mendorong sinergi lintas sektor dalam memetakan wilayah rawan penyakit, memastikan ketersediaan logistik medis, serta meningkatkan edukasi kebersihan lingkungan kepada masyarakat.

Baca juga: NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 12 Juni 2026: Memaknai Tahun Baru Hijriah dengan Muhasabah


Hendra menegaskan, setiap laporan terkait potensi wabah maupun lonjakan kasus harus segera ditindaklanjuti agar tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

"Segera tindak lanjuti setiap laporan potensi wabah atau lonjakan kasus agar tidak meluas menjadi kejadian luar biasa (KLB)," jelas dia.

Sebagai bentuk keseriusan dalam memperkuat sistem pengendalian penyakit, Pemkab Cirebon menggelar Pertemuan Koordinasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tingkat Kabupaten Cirebon, baru-baru ini. 

Kegiatan tersebut melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, rumah sakit, puskesmas hingga berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Baca juga: NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 12 Juni 2026: Memaknai Tahun Baru Hijriah dengan Muhasabah


Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Cirebon, Eni Suhaeni, mengatakan, pembangunan kesehatan merupakan salah satu fondasi utama dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Oleh sebab itu, pengendalian penyakit membutuhkan kesiapsiagaan yang tinggi, respons cepat, serta sistem penanganan yang terintegrasi.

"Pembangunan kesehatan merupakan salah satu pilar utama dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat, sehingga pengendalian penyakit memerlukan kesiapsiagaan tinggi, respons cepat, serta sistem penanganan yang terintegrasi," kata Eni.

Ia mengungkapkan, target layanan Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kabupaten Cirebon pada tahun 2026 tergolong besar.

Baca juga: NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 12 Juni 2026: Memaknai Tahun Baru Hijriah dengan Muhasabah


Salah satunya adalah 48.556 orang terduga tuberkulosis (TBC) yang menjadi sasaran deteksi dan pemeriksaan.

Tak hanya itu, Dinkes juga menargetkan pelayanan terhadap 98.243 penderita hipertensi, 48.466 kelompok berisiko HIV, 21.023 penderita diabetes melitus, 15.367 kasus diare balita, serta 14.483 kasus pneumonia balita.

Besarnya angka tersebut menjadi gambaran bahwa tantangan kesehatan di Kabupaten Cirebon tidak bisa dianggap ringan.

Karena itu, Eni menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam mendukung program pencegahan dan pengendalian penyakit.

Baca juga: NASKAH Khutbah Jumat Hari Ini 12 Juni 2026: Memaknai Tahun Baru Hijriah dengan Muhasabah


"Keberhasilan program pencegahan dan pengendalian penyakit tidak dapat dicapai secara parsial oleh sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan kolaborasi yang solid dan komitmen kuat dari seluruh pemangku kepentingan," ujarnya.

Ia berharap, pertemuan koordinasi yang digelar kala itu dapat menghasilkan langkah nyata yang dapat segera diterapkan di lapangan untuk memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat.

"Kami berharap pertemuan koordinasi ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk merumuskan rencana aksi konkret yang implementatif dan akuntabel demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di Kabupaten Cirebon, terkhusus dalam pencegahan dan pengendalian penyakit," pungkasnya.

 
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.