Layani Ratusan Warga Terdampak Gempa, Tim Kesehatan Pemkab Sangihe Sasar 3 Pulau di Marore
Chintya Rantung June 12, 2026 12:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe terus mengintensifkan penanganan pascagempa yang mengguncang Kecamatan Marore.

Selain menyalurkan bantuan logistik, tim kesehatan yang dipimpin langsung Bupati Michael Thungari turut memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat di Pulau Kawio, Marore, dan Matutuang.

Pelayanan kesehatan tersebut mendapat respons positif dari warga yang masih berupaya memulihkan kondisi kesehatan fisik maupun mental setelah bencana gempa melanda wilayah perbatasan Indonesia-Filipina itu.

Koordinator Tim Kesehatan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, dr. Dessy Handayani Jonhar, mengatakan hingga Jumat (12/6/2026), pihaknya telah melayani sekitar 150 warga dari tiga kampung terdampak.

“Ini belum rampung karena pelayanan masih berlangsung sampai siang. Saat ini sudah sekitar 150 pasien yang kami tangani di tiga kampung,” ujar dr. Dessy saat ditemui di sela pelayanan kesehatan di Lapangan GMIST Jemaat Nazareth Matutuang.

Menurutnya, warga yang datang memeriksakan kesehatan berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari bayi, anak-anak, orang dewasa hingga lanjut usia.

Ia menjelaskan, karakteristik pasien yang ditangani di setiap wilayah berbeda-beda. Saat pelayanan di Kawio, jumlah pasien dewasa lebih mendominasi. Sementara di Marore, jumlah pasien anak-anak dan dewasa relatif seimbang.

“Kalau di Kawio lebih banyak pasien dewasa. Sedangkan di Marore kemarin jumlah anak-anak dan dewasa hampir seimbang,” katanya.

Pada pelayanan kesehatan di Kampung Matutuang, tim medis menemukan sejumlah bayi yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan. Kondisi tersebut berbeda dibandingkan saat pelayanan di dua lokasi sebelumnya.

“Hari ini ada sekitar empat bayi yang kami periksa. Selain bayi, ada juga anak-anak dan orang dewasa yang datang berobat,” ungkapnya.

Dari hasil pemeriksaan, tim kesehatan menemukan beberapa keluhan yang paling banyak dialami warga pascagempa. Gangguan asam lambung menjadi salah satu penyakit yang cukup dominan.

Menurut dr. Dessy, kondisi tersebut diduga dipengaruhi perubahan pola makan masyarakat selama masa tanggap darurat. Selain itu, banyak warga mengeluhkan pusing dan sakit kepala.

“Keluhan yang paling banyak adalah asam lambung. Kemungkinan karena pola makan yang berubah setelah bencana. Selain itu ada juga pusing dan sakit kepala yang mungkin dipengaruhi faktor stres,” jelasnya.

Tim medis juga menemukan cukup banyak warga dewasa yang mengalami tekanan darah tinggi.

“Banyak juga pasien dewasa yang menderita hipertensi atau tekanan darah tinggi,” tambahnya.

Saat ditanya mengenai kemungkinan hubungan antara keluhan kesehatan warga dengan trauma akibat gempa, dr. Dessy mengakui kondisi tersebut sangat mungkin terjadi.

“Bisa saja karena faktor traumatik akibat gempa yang mereka alami,” katanya.

Selain pelayanan kesehatan gratis, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe juga menyalurkan berbagai bantuan darurat kepada masyarakat terdampak, seperti sembako, tikar, matras, terpal, serta obat-obatan.

Bupati Michael Thungari bersama Wakil Bupati Tendris Bulahari dan jajaran Forkopimda bahkan turun langsung ke wilayah terdampak untuk memastikan bantuan tersalurkan dan kondisi masyarakat tetap terpantau.

Langkah cepat yang dilakukan pemerintah daerah ini diharapkan dapat membantu mempercepat proses pemulihan masyarakat, sekaligus memastikan kebutuhan kesehatan warga di Pulau Kawio, Marore, dan Matutuang tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat pascagempa.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.