Naskah Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Tak Perlu Penggaris Orang Lain untuk Mengukur Hidupmu
Dedy Herdiana June 12, 2026 11:35 AM

TRIBUNPRIANGAN.COM - Hidup di tengah perlombaan dunia serba cepat ini, membuat siapa saja seringkali merasa tertinggal. 

Layaknya kura-kura yang berjalan lambat, seorang muslim kerap lupa akan jati dirinya sebagai seorang hamba yang tengah menjali ujian di muka bumi.

Bahkan tak jarang melihat hidupnya yang serba kurang dan memaksa keadaan untuk bisa berada di jajaran orang-orang yang menurutnya lebih unggul.

Tanpa disadari waktu yang terbuang percuma hanya untuk mengejar pandangan orang lain dengan tolak ukur dari penggaris hidup orang.

Topik ini rasanya sangat menarik dibahas dalam Khutbah Jumat kali ini, berikut ini salah satu contoh naskahnya.

Khutbah Pertama

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه

اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 12 Juni 2026: Kewajiban Taat dan Mendoakan Kebaikan kepada Pemimpin 

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala dengan sebenar-benar takwa, serta senantiasa berpegang teguh kepada syariat-Nya.

Pada kesempatan kali ini, mari kita renungkan bersama hikmah besar dari Allah subhanahu wa ta'ala dalam menciptakan manusia dengan segala perbedaan yang ada.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al-Qur’an:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam sebaik-baik bentuk." (QS. At-Tin: 4)

Ayat ini menunjukkan kemuliaan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setiap manusia diciptakan berbeda satu sama lain. 

Ada yang kuat, ada yang lemah; ada yang memiliki kemampuan besar, ada pula yang kemampuan terbatas. 

Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan perbedaan ini sebagai bentuk kebijaksanaan-Nya yang tidak mungkin kita pahami secara penuh.

Perbedaan Potensi dan Kemampuan

Allah subhanahu wa ta'ala menciptakan manusia dengan potensi yang beragam. 

Ada yang diberi kemampuan lebih dalam ilmu, ada yang lebih dalam harta, dan ada pula yang lebih dalam amal ibadah. 

Ini semua adalah bentuk rahmat dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Allah tidak memaksa semua manusia memiliki kemampuan yang sama.

Namun, satu hal yang perlu kita ingat, Allah tidak menilai manusia dengan ukuran yang sama. 

Kita tidak diukur dengan penggaris orang lain. Kita diukur dengan penggaris kita sendiri.

Allah hanya menuntut kita untuk berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang telah Dia berikan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian." (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa apa yang menjadi ukuran di sisi Allah adalah keikhlasan hati dan amal yang dilakukan dengan ketulusan, bukan seberapa besar atau kecilnya kemampuan fisik dan materi yang kita miliki. Hidup Tanpa Beban

Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah,

Orang yang beriman dan bertauhid kepada Allah subhanahu wa ta'ala, hidupnya tidak penuh dengan beban.

Ia tidak hidup di bawah bayang-bayang orang lain. Ia tidak merasa tertekan oleh prestasi orang lain. 

Justru, ia akan merasa senang melihat orang lain berprestasi, dan tidak merasa tersaingi.

Seorang mukmin sejati tahu bahwa setiap rezeki dan keberhasilan telah diatur oleh Allah subhanahu wa ta'ala. 

Maka, ia tidak khawatir akan kehilangan atau merasa diabaikan oleh orang lain. Ia tidak hidup dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Baca juga: Teks Khutbah Jumat 12 Juni 2026: 3 Golongan Manusia dalam Al-Quran

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman: 

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

"Dan tidak ada satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya." (QS. Hud: 6)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap makhluk, termasuk manusia, telah dijamin rezekinya oleh Allah. 

Maka, tidak ada alasan bagi kita untuk merasa iri atau khawatir akan rezeki orang lain. 

Sebaliknya, kita harus bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah kepada kita dan terus berusaha sesuai dengan kemampuan kita. Jangan Terjebak dengan Bisikan Iblis

Hadirin jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Setiap manusia pasti pernah merasakan godaan iblis yang berusaha menjauhkan kita dari jalan kebenaran. 

Iblis selalu berupaya menanamkan perasaan iri, dengki, dan putus asa dalam hati kita. 

Namun, seorang mukmin yang benar-benar mengenal Allah subhanahu wa ta'ala tidak akan terjebak oleh bisikan iblis tersebut.

Iblis selalu berusaha menanamkan rasa tidak puas dalam hati manusia. Ia membuat manusia merasa rendah diri dan tertekan karena prestasi orang lain. 

Namun, kita harus ingat bahwa tujuan hidup kita adalah mencari ridha Allah, bukan mencari pengakuan dari manusia.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ

"Sungguh, setan itu mengalir dalam tubuh manusia seperti mengalirnya darah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini mengingatkan kita bahwa setan selalu ada di sekitar kita, berusaha mempengaruhi pikiran dan hati kita. 

Oleh karena itu, kita harus selalu waspada dan berusaha mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah dan doa. 

Ma'asyiral Muslimin yang dimuliakan Allah,

Sebagai penutup, marilah kita renungkan bahwa hidup ini bukanlah perlombaan untuk saling menyaingi, melainkan perlombaan untuk saling membantu dalam kebaikan. 

Jangan biarkan prestasi orang lain menjadi beban bagi kita. Jadilah mukmin yang percaya akan rezeki dan karunia Allah.

Hidup dalam tuntunan tauhid adalah hidup yang penuh ketenangan. 

Kita tidak akan merasa tertekan oleh keadaan, tidak akan merasa iri terhadap orang lain, dan selalu merasa cukup dengan apa yang telah Allah berikan. 

Semoga Allah senantiasa membimbing kita di jalan-Nya dan menjauhkan kita dari godaan iblis yang berusaha menjauhkan kita dari kebenaran. 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Baca juga: Naskah Khutbah Jumat 12 Juni 2026 Bahasa Sunda Tentang Pahala Surga di Bulan Muharam

Khutbah Kedua:

الحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات، إنك قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات.

عباد الله! إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.

 فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.