Oleh: Nur Salim Ismail
Ada satu pertanyaan sederhana yang sering luput dari perhatian para pendakwah: mengapa seseorang tetap melakukan sesuatu yang ia tahu tidak baik?
Kita menjumpai kenyataan itu hampir setiap hari. Ada orang yang memahami pentingnya menjaga lisan, tetapi tetap mudah menyakiti orang lain dengan kata-kata. Ada yang mengerti keutamaan salat berjamaah, tetapi langkahnya terasa berat menuju masjid. Ada pula yang bertahun-tahun menghadiri majelis ilmu, namun relasi sosialnya tetap dipenuhi amarah dan prasangka.
Pada titik tertentu, kita menyadari bahwa manusia ternyata tidak hidup hanya dengan pengetahuan.
Pengetahuan memang penting. Ia menerangi jalan. Namun yang menentukan ke mana seseorang akan melangkah sering kali bukan apa yang diketahuinya, melainkan apa yang telah menjadi kebiasaannya.
Pierre Bourdieu menyebutnya sebagai habitus.
Istilah ini terdengar akademik, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Habitus adalah cara berpikir, merasakan, dan bertindak yang terbentuk perlahan melalui pengalaman yang berulang. Ia tumbuh dalam keluarga, lingkungan pergaulan, budaya, dan berbagai ruang sosial yang kita huni sejak lama.
Karena terbentuk melalui pengulangan, habitus sering bekerja tanpa disadari. Ia menjadi bagian dari diri seseorang.
Baca juga: Dakwah Sebagai Pecakapan Jiwa
Seorang anak yang tumbuh di rumah yang penuh penghormatan kepada ilmu akan menganggap membaca sebagai sesuatu yang wajar. Sebaliknya, anak yang hidup dalam lingkungan yang akrab dengan kemarahan mungkin akan menganggap bentakan sebagai cara normal untuk menyelesaikan persoalan.
Manusia ternyata tidak hanya mewarisi nilai. Ia juga mewarisi kebiasaan.
Di sinilah dakwah menemukan tantangannya.
Selama ini kita sering menempatkan dakwah sebagai aktivitas penyampaian pesan. Ukurannya adalah seberapa banyak orang mendengar, menyimak, atau memahami. Padahal memahami belum tentu membiasakan.
Banyak orang mengetahui kebaikan, tetapi sedikit yang berhasil menjadikannya sebagai bagian dari hidup.
Barangkali karena itu Nabi Muhammad saw. tidak hanya membangun tradisi pengajaran, tetapi juga membangun tradisi kehidupan. Beliau menghadirkan teladan, membentuk komunitas, dan menciptakan lingkungan sosial yang memungkinkan nilai-nilai Islam hidup dalam praktik keseharian.
Masjid bukan sekadar tempat mendengar nasihat. Ia adalah ruang pembentukan kebiasaan.
Majelis bukan hanya tempat memperoleh ilmu. Ia adalah tempat menumbuhkan rasa memiliki, merawat kedekatan, dan membangun ikatan sosial yang sehat.
Agama tidak tumbuh sendirian dalam ruang pikiran. Ia tumbuh bersama pengalaman.
Persoalan menjadi semakin menarik ketika kita melihat kehidupan modern hari ini.
Kita hidup di tengah kelimpahan informasi. Ceramah dapat diakses kapan saja. Kutipan hikmah beredar tanpa henti. Pengetahuan agama berada dalam genggaman.
Namun mengapa kegelisahan tetap tinggi? Mengapa empati terasa menipis? Mengapa masyarakat semakin mudah tersinggung dan cepat menghakimi?
Mungkin karena informasi berkembang lebih cepat daripada pembentukan habitus.
Media sosial, misalnya, diam-diam membentuk kebiasaan baru. Kita terbiasa bereaksi sebelum memahami. Terbiasa berkomentar sebelum merenung. Terbiasa menilai sebelum mendengar.
Lama-kelamaan semua itu membentuk cara pandang tertentu terhadap kehidupan.
Padahal karakter tidak lahir dari informasi yang lewat sesaat. Karakter tumbuh dari sesuatu yang terus-menerus diulang.
Dalam bahasa agama, pengulangan itu tampak pada salat lima waktu, zikir yang terus dilafalkan, doa yang dibaca berulang, dan berbagai amal yang dilakukan secara istiqamah. Semua itu bukan hanya ibadah dalam makna ritual. Ia adalah proses pembentukan diri.
Agama sesungguhnya memahami bahwa manusia dibentuk oleh kebiasaan jauh sebelum ilmu-ilmu sosial modern menjelaskannya.
Karena itu, dakwah pada masa kini mungkin perlu lebih banyak bertanya tentang ruang-ruang kehidupan yang sedang membentuk manusia. Bukan hanya apa yang mereka dengar, tetapi apa yang mereka alami setiap hari. Bukan hanya apa yang mereka pahami, tetapi apa yang mereka biasakan.
Sebab pada akhirnya, kehidupan seseorang tidak selalu digerakkan oleh apa yang ada di kepalanya.
Sering kali ia digerakkan oleh apa yang telah lama berdiam dalam dirinya.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dakwah: bukan sekadar mengajarkan kebaikan, melainkan membantu kebaikan menemukan rumahnya dalam kebiasaan manusia.(*)