TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT – Deretan mobil yang terparkir rapi di halaman Showroom Aghna Motor di Jalan Tjilik Riwut, Sampit, Jumat (12/6/2026), tampak seperti hari-hari biasa.
Namun di balik itu, roda bisnis penjualan kendaraan bekas tengah menghadapi tantangan berat.
Pemilik Aghna Motor Fendy, mengaku kondisi ekonomi yang terjadi saat ini berdampak langsung terhadap penjualan mobil di usahanya.
Bahkan, menurutnya situasi sekarang terasa lebih sulit dibandingkan saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu.
"Kalau saya pribadi, ini lebih parah daripada masa corona. Waktu corona itu sekitar tiga bulan, setelah itu perlahan mulai naik lagi. Kalau sekarang kita belum tahu kapan membaiknya," ujar Fendy kepada TribunKalteng.com.
Ia menyebut penjualan mobil mengalami penurunan signifikan sejak beberapa bulan terakhir.
Jika biasanya mampu menjual belasan unit kendaraan dalam sebulan, kini jumlahnya merosot tajam.
"Penjualan turun sekitar 40 persen sampai 60 persen. Sekarang masih awal bulan jadi belum tutup buku, tapi memang terasa sekali penurunannya," katanya.
Menurut Fendy, salah satu faktor utama yang memengaruhi daya beli masyarakat adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Sebab, ketika harga BBM naik, biaya distribusi dan kebutuhan operasional ikut meningkat.
"BBM itu sangat vital. Begitu BBM naik, semua ikut naik. Baru diumumkan saja sudah langsung terasa dampaknya ke masyarakat dan pelaku usaha," ujarnya.
Tidak hanya itu, kenaikan biaya transportasi antardaerah juga ikut membebani dunia usaha.
Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam membelanjakan uangnya, termasuk untuk membeli kendaraan.
Fendy mengatakan, hingga saat ini belum ada tanda-tanda peningkatan daya beli masyarakat.
Akibatnya, pelaku usaha harus menghadapi biaya operasional yang terus meningkat sementara penjualan menurun.
"Kalau pengeluaran besar tapi penjualan kecil, otomatis usaha jadi minus. Kondisi sekarang masih stagnan, belum ada peningkatan yang signifikan," ucapnya.
Meski demikian, pria yang telah merintis usaha jual beli mobil sejak 2005 itu memilih tetap optimistis.
Baginya, bertahan menjadi pilihan terbaik sembari menunggu kondisi ekonomi kembali membaik.
"Yang penting tetap usaha. Kita sudah merintis dari nol. Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa bertahan. Saya yakin rezeki itu pasti ada," katanya.
Untuk menjaga arus kas usaha tetap berjalan, Fendy menerapkan berbagai strategi pemasaran.
Baca juga: Grand Opening Showroom TVS Palangkaraya, Fokus pada Pelayanan Sales, Sparepart dan Service
Baca juga: Demi Pasokan Bawang Merah di Sampit, Gerak Cepat Bupati Kotim di Kalteng Kontak Bupati Brebes
Mulai dari memberikan promo, subsidi uang muka (DP), bonus hingga garansi bagi konsumen.
"Kita cari cara supaya ada perputaran. Ada promo, bonus, subsidi DP, yang penting unit bergerak dulu. Karena sekarang masyarakat juga lebih berhati-hati untuk membeli kendaraan," ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, Fendy berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada pelaku usaha kecil dan menengah agar mampu bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
"Kalau bisa ada bantuan atau pinjaman dengan bunga ringan untuk UMKM. Karena kami ini usaha pribadi yang skalanya belum besar. Yang penting ada kebijakan yang bisa membantu kami tetap bertahan," pungkasnya.