BANJARMASINPOST.CO.ID, PARINGIN- Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok untuk sehari-hari, petani timun di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan mendapati kondisi harga timun yang anjlok beberapa pekan belakangan.
Turunnya harga timun yang dibeli pengepul langsung pada petani ini dimulai sejak pertengahan Mei lalu. Tentu hal ini menjadi keluhan bagi petani timun, mengingat modal dan tenaga yang dibutuhkan untuk perawatan.
Petani timun di Desa Merah, Kecamatan Awayan, Diki Rahmani sudah merasakan turunnya harga penjualan yang bahkan hanya dihargai Rp1000 perkilogramnya.
Beberapa hari ini harga timun perkilonya Rp1500, namun Diki tetap harus panen, karena kalau dibiarkan, timun di kebunnya akan menua dan membusuk.
Baca juga: Harga Emas di Pasar Kembali Anjlok, Begini Rincian Harganya
Sebagian juga bahkan Diki berikan kepada warga setempat yang membutuhkan timun, diberikan secara cuma-cuma, terutama bagi mereka yang datang langsung ke kebunnya.
Diki yang secara berkala memanen timun terpaksa harus menjual dengan harga rendah yang kalo diperhitungkan secara keuntungan, hanya kembali modal, tanpa ada untung lebih secara finansial.
"Sekarang berapapun harganya termasuk pada harga murah begini, mau tidak mau juga harus dijual, karena panennya tidak bisa ditunda," ungkap Diki saat ditemui di kebun timunya, di Desa Merah, Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan, Kamis (11/6/2026).
Semula Diki sudah memperhitungkan sistem tanam hingga panen dan prediksi harga untuk timun. Namun di luar prediksinya, harga terjun bebas tanpa sempat merasakan harga timun perkilogramnya yang bisa mencapai belasan ribu.
Paling tinggi, sebulan terakhir, timun hasil kebunnya dibeli dengan harga Rp8.000. Kemudian turun menjadi Rp5.000, berlanjut Rp1.000 dan sekarang Rp1.500.
Diki menyadari kondisi harga ini disebabkan banyaknya stok timun di pasaran, karena banyak petani timun yang panen secara bersamaan. Namun ia berharap harga timun bisa naik atau ada batas minimal, agar petani juga tetap diuntungkan dan tenaga yang digunakan terbayarkan.
Meski turunnya harga timun saat ini kata Diki tetap menutupi untuk ongkos produksi, namun sebagai petani yang berharap meningkatkan ekonomi dari pekerjaan tersebut, ia mengharapkan juga mendapat untung lebih, sehingga meningkatkan finansial.
Diki juga berharap pemerintah daerah turut membantu untuk menangani kondisi saat ini melalui perluasan akses pasar, sehingga ke depannya apabila stok timun melimpah, namun tetap bisa disebar ke pasar-pasar lain dengan harga yang masih menguntungkan bagi petani.
Di sisi lain untuk harga timun di pasaran, mencapai harga Rp7000, dimana harga ini turun 50 persen dari harga sebelumnya.
Baca juga: Sehari Pasca Harga Pertamax Naik, Antrean Pertalite di Banjarmasin Memanjang hingga Keluar SPBU
Warga Paringin, Venny Hayati yang setiap hari memerlukan timun untuk dagangannya, baru-baru ini belanja harga timun yang menurutnya sedang murah dibanding harga beberapa hari lalu.
"Kemarin saya beli timun di Pasar Adaro seharga Rp7000 satu kilogram. Sebelumnya harga Rp14.000," ujarnya.
Venny pun merasakan belakangan harga timun sedang turun di pasaran. Tentu saja sebagai konsumen ia menggunakan kesempatan tersebut untuk menyiapkan stok lebih bagi usahanya. (banjarmasinpost.co.id/isti rohayanti)