Masih Minim! Alat Peringatan Dini Tsunami di Pantai Pangandaran Baru Terpasang di 2 Pos Ini
Dedy Herdiana June 12, 2026 05:20 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Kabupaten Pangandaran menjadi satu wilayah di Jawa Barat yang memiliki potensi tinggi terhadap bencana gempa bumi dan Tsunami. 

Namun sayang, kesiapan sistem peringatan dini tsunami atau Early Warning System (EWS) di kawasan wisata Pantai Pangandaran masih belum memadai.

Ketua Balawista Pangandaran, Dodo Taryana, menyampaikan jumlah perangkat EWS yang tersedia saat ini belum mampu menjangkau seluruh kawasan pantai yang menjadi pusat aktivitas wisatawan.

Di kawasan Pantai Barat, terdapat lima pos pengawasan wisata. Namun, perangkat EWS baru terpasang di dua titik, yakni Kantor Balawista dan Pos 4.

"Di Pantai Barat sendiri kita punya lima pos. Yang terpasang EWS baru dua, yaitu di kantor Balawista dan Pos 4. Sementara wisatawan tersebar mulai dari Pos 1 sampai Pos 5," ujar Dodo kepada Tribun Jabar di kantor Balawista Pangandaran, Jumat (12/6/2026) siang.

Baca juga: Antisipasi Tsunami, Kepala BNPB Sidak Sirine Peringatan Dini di Pangandaran: Ternyata Masih Kurang!

Menurutnya, kondisi itu membuat sebagian kawasan pantai masih minim akses informasi apabila terjadi ancaman tsunami. 

Ia berharap setiap pos pengawasan dilengkapi perangkat peringatan dini agar suara sirine dapat terdengar oleh wisatawan maupun masyarakat.

"Harapan kami setiap pos itu terpasang alat peringatan dini tsunami. Karena kalau terjadi sesuatu, masyarakat dan wisatawan bisa lebih cepat mengetahui dan melakukan evakuasi," ucapnya.

Menurutnya, jangkauan suara sirine EWS yang berada di Kantor Balawista saat ini masih terbatas. Dengan jangkauan sekitar 300 meter, suara peringatan hanya mampu mencapai sekitar perbatasan Pos 1 dan Pos 2 Pantai Barat.

"Di sekitar Pos 1 itu dekat dengan kawasan cagar alam dan banyak hotel. Harusnya ada satu alat di sana. Kemudian Pos 2 bisa diwakili dari EWS kantor Balawista," kata Dodo.

Baca juga: BNPB Bangun Gedung Pusdalops di Pangandaran untuk Perkuat Mitigasi Bencana

Sementara itu, Pos 3 yang menjadi pusat keramaian wisatawan atau jantung aktivitas Pantai Pangandaran juga dinilai membutuhkan perangkat EWS tersendiri. 

Karena, banyak wisatawan beraktivitas di kawasan tersebut sehingga membutuhkan sistem peringatan yang cepat dan mudah terdengar.

"Kalau terpasang alat di Pos 3, wisatawan akan lebih mudah mendengar dan lebih waspada ketika ada peringatan bahaya," ujarnya.

Memang, edukasi untuk kebencanaan terus dilakukan oleh BPBD Kabupaten Pangandaran kepada masyarakat, pelajar, hingga anak usia dini. 

Namun, kesiapsiagaan harus terus diperkuat mengingat Pangandaran merupakan wilayah yang memiliki risiko bencana.

"Kita hidup dalam bayang-bayang bencana. Kita tidak bisa lepas dari bencana, tetapi bagaimana cara mengurangi risikonya," ucap Dodo.

Keluhan terkait minimnya jangkauan EWS juga disampaikan Saliman (46), seorang pedagang keliling di kawasan Pantai Barat Pangandaran. Ia mengaku tidak mengetahui adanya suara sirine peringatan dini tsunami.

"Kalau dibunyikan seperti tadi tidak terdengar, karena posisi saya cukup jauh. Saya berada di sekitar Pos 3. Harusnya setiap pos ada alat itu agar terdengar oleh masyarakat dan wisatawan," ujarnya. 

Namun, berdasarkan laporan petugas BPBD setempat, jumlah sirine EWS masih belum mencukupi, terutama di titik-titik wisata yang ramai dikunjungi wisatawan saat musim libur.

"Tadi sudah kita coba bunyikan dan alhamdulillah berfungsi. Tapi dari penjelasan petugas, di titik-titik sentral wisata Pangandaran yang sangat ramai saat hari libur masih ada kekurangan sirine peringatan dini," ucap Suharyanto.

Suharyanto pun memastikan akan segera mengirimkan tim untuk melakukan survei terhadap kebutuhan tambahan peralatan mitigasi bencana di Pangandaran.

"Kami akan kirimkan tim untuk survei dan melihat mana saja yang masih kurang untuk mengantisipasi apabila terjadi bencana," ujarnya.

Ia menegaskan, Kabupaten Pangandaran menjadi satu wilayah yang memiliki potensi risiko tinggi terhadap bencana gempa bumi dan tsunami sehingga membutuhkan perhatian khusus. (*)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.