BANGKAPOS.COM--Ancaman buaya di wilayah Bangka Belitung kembali memakan korban.
Seorang warga Desa Jada Bahrin, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, mengalami luka serius setelah diterkam buaya saat beraktivitas di area pertambangan pasir timah pada Jumat (12/6/2026) malam.
Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 22.00 WIB itu sontak membuat geger warga setempat.
Korban yang diketahui bekerja sebagai penambang pasir timah langsung dievakuasi dan dilarikan ke Rumah Sakit Bakti Timah (RSBT) Kota Pangkalpinang untuk mendapatkan perawatan medis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden bermula ketika korban sedang menarik ponton tambang di kawasan perairan lokasi penambangan.
Di tengah aktivitas tersebut, seekor buaya tiba-tiba muncul dan menyerang korban hingga mengenai bagian kaki kirinya.
Kepala Desa Jada Bahrin, Asri, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan korban merupakan warga desanya yang sehari-hari bekerja di sektor pertambangan timah.
"Iya benar, korban merupakan warga Jada Bahrin. Kejadiannya sekitar jam 22.00 malam saat sedang menarik ponton," kata Asri saat dikonfirmasi, Sabtu (13/6/2026).
Meski demikian, Asri mengaku belum memperoleh informasi lengkap terkait kronologi pasti serangan buaya tersebut.
Ia hanya menerima laporan bahwa korban mengalami luka akibat gigitan buaya dan telah dibawa ke rumah sakit.
"Belum tahu kronologisnya secara detail, tapi saya dapat laporan ada warga yang diterkam buaya dan saat ini sudah dilarikan ke rumah sakit," ujarnya.
Menurut Asri, pihak pemerintah desa selama ini sudah berulang kali mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di kawasan perairan maupun lokasi tambang yang berpotensi menjadi habitat buaya.
Ia mengakui kemunculan buaya di sejumlah wilayah pesisir dan daerah aliran sungai di Bangka bukan lagi hal baru.
Karena itu, keselamatan kerja selalu menjadi perhatian utama yang disampaikan kepada masyarakat.
"Kami dari pihak desa sebenarnya sudah sering memberikan imbauan dan mengingatkan warga agar selalu berhati-hati saat bekerja. Kejadian seperti inilah yang selalu kami khawatirkan selama ini," katanya.
Baca juga: Profil Fajar Ramadhon, Pengusaha Surabaya Laporkan Vicky Prasetyo atas Dugaan Penipuan Rp213 Juta
Kasus warga diterkam buaya bukan kali pertama terjadi di Bangka Belitung.
Dalam beberapa tahun terakhir, konflik antara manusia dan satwa predator tersebut tercatat terus berulang, terutama di kawasan sungai, muara, hutan mangrove, hingga area tambang yang berdekatan dengan habitat buaya muara.
Data yang pernah dihimpun dari berbagai laporan di Bangka Belitung menunjukkan sejumlah insiden serangan buaya terjadi di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah hingga Belitung Timur.
Korbannya beragam, mulai dari nelayan, penambang, pencari kerang, hingga warga yang beraktivitas di sekitar perairan.
Beberapa kasus bahkan berujung fatal dengan korban meninggal dunia setelah diseret buaya ke dalam air.
Selain itu, kemunculan buaya di kolong bekas tambang dan sungai dekat permukiman juga semakin sering dilaporkan warga dalam beberapa tahun terakhir.
Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan menyempitnya habitat alami buaya serta meningkatnya aktivitas manusia di wilayah perairan yang menjadi area jelajah satwa tersebut.
Kasus yang menimpa warga Jada Bahrin ini bukan kejadian pertama sepanjang tahun 2026.
Pada Februari lalu, seorang warga bernama Jauhari dilaporkan hilang saat mencari umpan ikan di Sungai Limbung, Desa Mendo, Kecamatan Mendo Barat, Kabupaten Bangka.
Korban kemudian ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dengan sejumlah luka yang diduga akibat gigitan buaya.
Masih pada bulan yang sama, warga Kabupaten Belitung bernama Rusmanto juga tewas setelah diterkam buaya saat mandi di kolong bekas tambang timah di Desa Cerucuk.
Tragisnya, kejadian tersebut disaksikan langsung oleh anak korban.
Dari sejumlah kasus yang terjadi, lokasi serangan umumnya berada di kawasan sungai, rawa, muara, hingga kolong bekas tambang yang menjadi habitat alami buaya muara.
Keberadaan satwa predator ini memang cukup banyak ditemukan di sejumlah wilayah Bangka dan Belitung, terutama di daerah yang memiliki akses langsung ke perairan payau maupun sungai besar.
Baca juga: Beasiswa Rp3 Juta per Semester untuk Guru, Syarat, Cara Daftar, Peluang bagi Guru di Bangka Belitung
Sementara itu, hingga Sabtu dini hari, korban masih menjalani perawatan medis di RSBT Pangkalpinang akibat luka pada bagian kaki yang diterkam buaya.
Belum diketahui tingkat keparahan luka yang dialami korban maupun apakah diperlukan tindakan operasi lanjutan.
Pihak keluarga dan aparat desa masih menunggu perkembangan kondisi korban dari tim medis.
Kejadian ini kembali menjadi peringatan bagi masyarakat yang beraktivitas di kawasan perairan, terutama pada malam hari.
Warga diminta meningkatkan kewaspadaan dan menghindari bekerja sendirian di lokasi yang diketahui menjadi habitat buaya.
Pemerintah desa juga mengimbau para penambang dan nelayan untuk menggunakan perlengkapan keselamatan serta segera melaporkan apabila melihat kemunculan buaya di sekitar area aktivitas masyarakat guna mencegah terulangnya kejadian serupa.
(Bangkapos.com/Adi Saputra/Zulkodri)