BANGKAPOS.COM,BANGKA -- Konflik antara buaya dan manusia terus terjadi di berbagai wilayah di Provinsi Bangka Belitung.
Kondisi ini diduga tidak terlepas dari semakin terganggunya habitat alami satwa liar. Akibat aktivitas manusia yang merusak habitat, kawasan perairan, sungai, dan hutan mangrove.
Sehingga ruang hidup yang menyempit dan terganggu, buaya kerap keluar dari habitatnya hingga memicu konflik dengan manusia.
Manager Lembaga Konservasi, Pusat Penyelamatan Satwa Alobi Babel, Endi R Yusuf, mengatakan, memang benar penyebab buaya berinteraksi negatif dengan manusia karena kerusakan habitat yang terjadi di Bangka Belitung.
"Selama 13 tahun ini, kami melakukan penyelamatan satwa liar yang memang kami ketahui bahwa penyebab utama karena kerusakan habitat, akibat dari pertambangan ilegal," kata Endi kepada Bangkapos.com, Jumat (12/6/2026).
Ia menambahkan, akibat pertambangan ilegal yang biasanya dilakukan di sekitar habitat buaya. Sementara buaya ketika habitatnya di rusak, akan lari dan mencari daerah-daerah yang aman dan terjadilah konflik dengan manusia.
"Sehingga kami mengimbau masyarakat untuk menjaga habitat buaya agar terjaga, tidak dirusak oleh kegiatan manusia," katanya.
Selain itu, dikatakan Endi, dengan pihak terkait Alobi Babel selalu melakukan edukasi dan sosialisasi, pada masyarakat luas apabila ditemukan kasus buaya.
"Kami biasanya memasang pasang plang imbauan, di daerah yang terdapat potensi serangan buaya. Selama ini kami aktif terus melakukan edukasi dan bersosialisasi kepada masyarakat. Semampu kami mencegah dan mitigasi awal, meredam interaksi negarif di Babel ini," katanya.
Lebih jauh, ia menjelaskan, buaya kemunculanya bakal meningkat apabila mereka terganggu. Satu satunya persoalan karena kerusakan habitatnya.
Apabila sekor buaya mendiami satu sungai dan itu ada habitat buaya, lalu sungai itu dirusak. Maka buaya akan lari mencari tempat lain yang dianggap lebih aman untuk bertahan hidup.
"Mereka satwa teritorial artinya memiliki daerah sendiri, area sendiri. Ketika rumah mereka di rusak, mereka akan lari dari daerah tersebut dan kemudian mencari tempat yang lebih aman menurut mereka," katanya.
"Sungai yang sebelumnya tidak pernah ada buaya tiba-tiba ada buaya. Yang sungai itu dipakai untuk sehari-hari kebutuhan masyarakat di situ, yang dulunya tidak ada buaya, itu karena buaya lari dari area konflik itu. Karena area mereka sudah dirusak," lanjutnya.
Dia memastikan, habitat buaya saat ini sudah terganggu, dengan masif dari hilir dan hulu. Sehingga buaya terdesak kemudian mencari tempat yang aman dan memasuki pemukiman penduduk dan terjadi konfik seperti sekarang ini.
"Konflik buaya itu karena kerusakan habitat, Fitranya satwa liar itu ketika ketemu manusia dia akan menghindar. Itu yang akan dilakukam satwa liar termasuk buaya, ketika ketemu manusia secara naluri dia akan menghindar,"katanya.
"Lalu, kenapa terjadi serangan karena ini buaya konflik, mereka berasal dari habitat yang rusak. Sehingga secara prilaku akan mengubah mereka, lebih agresif ditambah jenis buaya kita buaya muara, jenis buaya paling agresif dengan buaya lainnya," katanya.
Ia menjelaskan buaya muara, condong agresif, akibat terganggunya habitat alami mereka. Kondisi tersebut diperparah oleh kerusakan lingkungan yang menyebabkan ruang hidup satwa semakin menyempit.
"Sehingga memicu mereka lebih agresif, dengan menjaga alamnya maka akan mengurangi konflik," tegasnya.
Endi R Yusuf, mengatakan akibat dari interaksi negatif dengan buaya, daerah yang salah satu tertinggi di Indonesia, erada dj Bangka Belitung.
"Angka di Indonesia itu tertinggi di dunia, untuk serangan buaya muara. Pertama NTT, kemudian Provinsi Kepualuan Riau, dan ketiga adalah Bangka Belitung," terangnya.
Angkanya itu, menurutnya, tidak jauh berbeda, dan ketiga provinsi ini memiliki jumlah korban terbanyak untuk serangan buaya crocodylus porosus atau buaya muara di dunia.
"Karena kami bekerjasama dengan peneliti buaya dunia, dar Universitas Australia, dia punya bank data untuk konflik buaya datanya itu kita bisa akses. Menunjukan Indonesia di Bangka Belitung, salah satu tertinggi di Indonesia dan salah satu tertinggi di Indonesia yaitu tertinggi di dunia, sangat tinggi sekali,"tutupnya. (Bangkapos.com/Riki Pratama)