Dampak Rupiah Melemah, Pengembang di Bengkulu Keluhkan Harga Material Bangunan Naik
Hendrik Budiman June 12, 2026 05:54 PM

 

Laporan Reporter TribunBengkulu.com, Panji Destama

TRIBUNBENGKULU.COM, BENGKULU - Melemahnya rupiah ikut berdampak pada pengusaha perumahan atau developer property terutama di Bengkulu, dengan adanya kenaikan harga bahan bagunan.

Sebelumnya, rupiah melemah atas dolar Amerika Serikat, dimana saat ini satu dolar amerika di angka Rp17.916.

Kenaikan harga bahan bangunan yang juga dipicu dengan naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

Ketua DPD HIMPERRA Bengkulu, Edwar Setiawan mengatakan, kondisi tersebut berdampak langsung terhadap biaya pembangunan rumah, terutama rumah subsidi yang saat ini menjadi fokus para anggota HIMPERRA.

Situasi geopolitik global yang belum stabil menyebabkan nilai tukar rupiah melemah.

Dampaknya, harga berbagai kebutuhan konstruksi mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.

“Sebagai pengembang perumahan, khususnya yang tergabung dalam HIMPERRA, kami sangat merasakan dampaknya. Melemahnya rupiah terhadap dolar dan kenaikan BBM membuat harga material bangunan ikut naik,” ujar Edwar saat ditemui TribunBengkulu.com di kawasan perumahan di Kelurahan Bentiring, Kecamatan Muara Bangkahulu, Kota Bengkulu, Jumat (12/6/2026).

Edwar yang juga tengah membangun perumahan ini menjelaskan, pengembang tidak memiliki banyak ruang untuk menaikkan harga jual rumah karena daya beli masyarakat masih terbatas.

Di sisi lain, pengembang juga tidak bisa menurunkan kualitas bangunan karena spesifikasi rumah subsidi telah diatur oleh pemerintah melalui kementerian terkait.

“Kalau harga rumah dinaikkan, tentu masyarakat akan semakin sulit membeli rumah. Namun kami juga tidak bisa mengurangi spesifikasi bangunan karena sudah diatur pemerintah. Akhirnya, yang bisa dilakukan adalah mengurangi margin keuntungan,” jelasnya.

Baca juga: Dampak BBM Naik, Sopir Travel di Rejang Lebong Mengeluh Biaya Operasional Membengkak

Edwar menyebut kenaikan harga material terjadi hampir di seluruh komponen pembangunan rumah.

Semen yang sebelumnya masih berada di kisaran Rp55 ribu per sak kini naik menjadi sekitar Rp65 ribu per sak. 

Sementara semen merek lain yang sebelumnya dibeli di kisaran Rp60 ribuan kini telah menembus angka di atas Rp70 ribu per sak.

Tidak hanya semen, harga besi, pasir, batu, hingga batu bata juga mengalami kenaikan.

Untuk batu bata berlubang, misalnya, harga yang sebelumnya sekitar Rp650 per buah kini naik menjadi Rp800 per buah.

“Kalau satu rumah membutuhkan sekitar 5.500 batu bata, tentu kenaikan ini cukup besar pengaruhnya terhadap biaya pembangunan,” katanya.

Meski menghadapi kenaikan biaya konstruksi, pengembang rumah subsidi di Bengkulu masih berupaya mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Dolar menguat Harga Bahan Bangunan Naik

Kenaikan harga dolar memberikan dampak terhadap harga sejumlah produk interior, material bangunan, hingga perlengkapan rumah tangga di Bengkulu.

Salah satu toko bangunan yang terdampak di Bengkulu Betterhome yang berada di Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu.

Dari pantauan TribunBengkulu.com terlihat beberapa barang bagunan tersusun rapi di dalam toko.

Warga pun ada yang melihat-lihat beberapa produk bahan bangunan, warga sempat menawar produk bahan bangunan, ada pula warga yang hanya sekedar menanyakan harga bahan bangunan.

Untuk harga bahan bangunan di betterhome mengalami penyesuaian harga, pasca dolar menguat atas rupiah.

Marketing Koordinator Betterhome Bengkulu, Arpan Zulpandi mengatakan, hampir seluruh produk mengalami penyesuaian harga akibat kenaikan biaya dari pusat serta meningkatnya biaya pengiriman barang.

Menurut Arpan, salah satu produk yang mengalami kenaikan harga adalah granit. Sebelumnya, harga granit yang dapat dijual kepada pelanggan berada di kisaran Rp120 ribu hingga Rp128 ribu per dus.

Namun, setelah adanya kenaikan biaya produksi dan distribusi, harga granit kini mengalami penyesuaian menjadi sekitar Rp135 ribu per dus.

“Kenaikan bukan hanya dari barangnya, tetapi juga dari biaya pengiriman dari pusat ke Bengkulu. Jadi harga jual harus menyesuaikan,” ujar Arpan saat diwawancarai TribunBengkulu.com, Jumat (12/6/2026).

Arpan menjelaskan, cara menjaga harga tetap kompetitif di tengah kenaikan biaya adalah dengan menekan margin keuntungan agar pelanggan tetap mendapatkan harga yang terjangkau.

Pihaknya tidak menaikkan harga secara berlebihan karena mempertimbangkan pelanggan yang sudah lama berbelanja di Betterhome.

“Kami tetap memikirkan pelanggan. Kenaikan harga ini juga kami sesuaikan agar tetap bisa bersaing dengan toko lainnya,” katanya.

Selain granit, kenaikan harga juga terjadi pada produk perlengkapan rumah tangga (houseware) dan kebutuhan interior lainnya. 

Beberapa produk yang sebelumnya dapat dijual dengan harga sekitar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu kini mengalami kenaikan hingga sekitar Rp30 ribu per unit.

Meski terjadi kenaikan harga, Arpan menyebutkan aktivitas pembelian pelanggan masih relatif stabil. 

Menurutnya, belum terjadi penurunan jumlah pelanggan secara signifikan akibat perubahan harga tersebut.

“Memang ada pengaruh dari kenaikan dolar, tetapi pelanggan masih tetap datang. Penurunannya tidak terlalu drastis,” ungkapnya.

Kenaikan harga produk saat ini merupakan dampak dari rangkaian biaya yang meningkat, mulai dari harga barang dari pemasok, material, hingga transportasi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.