TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Tren lulusan SMA yang memilih bekerja ke luar negeri dibanding melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi menjadi perhatian Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja.
Fenomena tersebut dinilai ikut mempengaruhi minat masyarakat Bali untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Undiksha, Prof Dr Gede Rasben Dantes, mengatakan masih banyak anak muda yang lebih tertarik mengikuti pelatihan singkat untuk bekerja dibanding menempuh pendidikan sarjana yang membutuhkan waktu lebih lama.
Menurutnya, pola pikir seperti itu masih cukup kuat di Bali, termasuk di Buleleng. Banyak lulusan SMA memilih bekerja di kapal pesiar, mengikuti program visa kerja ke Taiwan, program J1 ke Amerika Serikat, maupun Working Holiday Visa ke Australia.
Baca juga: VIDEO Rumah di Perumahan Griya Mahadewa Buleleng Jebol Akibat Hujan Deras
"Ngapain sekolah lama-lama? Sekolah enam bulan atau satu tahun sudah bisa dapat pekerjaan. Itu yang banyak terjadi di masyarakat kita," ujar Rasben, Kamis (11/6/2026).
Ia menjelaskan, fenomena tersebut tidak terlepas dari pengaruh lingkungan.
Banyak pekerja migran yang pulang dari luar negeri dengan kondisi ekonomi lebih baik. Sehingga menjadi contoh bagi generasi muda lainnya.
"Mereka datang, perbaiki rumah, beli rumah. Teman-temannya kemudian berpikir, ngapain saya sekolah lama-lama. Kultur seperti itu memang ada," katanya.
Meski demikian, Rasben menegaskan pendidikan tinggi tetap memiliki peran penting.
Bukan hanya untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi juga membentuk pola pikir dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Baca juga: Sebulan Terjadi 500 Gigitan HPR di Jembrana, Petugas Sisir Lagi Wilayah Kasus Suspek Rabies
"Cuma pendidikanlah yang bisa mengubah kehidupan kita. Tidak hanya untuk bekerja, tetapi juga mengubah mindset," tegasnya.
Berdasarkan data, ungkap Rasben, Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi Indonesia saat ini berada di kisaran 31 persen.
Artinya, hanya sekitar tiga dari sepuluh penduduk usia kuliah yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Sementara itu, APK pendidikan tinggi di Bali sudah mencapai sekitar 36 persen atau berada di atas rata-rata nasional.
Kendati demikian, tetap saja angka tersebut masih jauh dibandingkan sejumlah negara lain. Sebab tingkat partisipasi pendidikan tingginya telah mencapai sekitar 60 persen.
Sebagai respons terhadap fenomena tersebut, Undiksha mulai mengembangkan berbagai program kerja sama internasional.
Baca juga: Khawatir Tumbang Massal, Pelaku Usaha Lokal Bali Soroti Ancaman Regulasi Lima Tahunan
Salah satunya dengan membuka peluang magang ke Taiwan selama satu tahun yang dapat dikonversi menjadi bagian dari program perkuliahan mahasiswa.
Selain itu, kampus juga menjalin kerja sama dalam program J1 ke Amerika Serikat serta sejumlah program akademik internasional lainnya.
"Kalau mahasiswa bisa kuliah sekaligus mendapatkan pengalaman internasional, mereka tetap memperoleh ijazah sarjana dan memiliki peluang kerja yang lebih luas setelah lulus," kata Rasben. (mer)