Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM) siap turun ke jalan untuk menyuarakan kegelisahan rakyat.
Ketua Serikat Mahasiswa (SEMA) Universitas Gadjah Mada, Mesa mengatakan SEMA UGM akan mengikuti agenda kolektif, salah satunya Rakyat Memanggil bersama dengan Forum Cik Di Tiro.
Aksi tersebut rencananya akan dilaksanakan Sabtu (13/6/2026).
"Sejauh ini kami mengikuti agenda kolektif. Sore ini ada konsolidasi internal mahasiswa UGM untuk membahas itu (aksi), pun untuk mengkoordinir rencana aksi esok yang telah disepakati FCD (Forum Cik Di Tiro) di Gejayan," katanya, Jumat (12/6/2026).
Dalam aksi tersebut, salah satu yang akan disuarakan adalah dampak kenaikan harga Pertamax dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.300.
Ia menyebut kenaikan Pertamax merupakan "lingkaran setan" kebijakan yang sangat estetik. Kenaikan harga Pertamax akan mendorong migrasi ke Pertalite. Ketika konsumsi Pertalite meningkat dan subsidi membengkak, harga Pertalite akan turut dinaikkan.
"Kita sedanng diajak menikmati ""lingkaran setan" kebijakan yang sangat estetik. Sebuah siklus komedi putar yang menganggap efek domino berupa ongkos transportasi mahal dan harga sembako naik hanyalah bonus tantangan hidup bagi rakyat jelata. Ppadahal kenyataannya BBM kembali naik, leher rakyat makin tercekik demi membiayai lingkaran setan yang diciptakan sendiri," terangnya.
Ia melanjutkan rakyat dipaksa mandiri menghadapi inflasi. Rakyat pun diminta maklum karena anggaran besar negara sedang diprioritaskan untuk program ambisius seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa Merah Putih.
"Kita akhirnya harus menyaksikan bahwa janji manis tak lagi menarik saat disandingkan dengan realita dompet kelas pekerja yang kian mengempis demi rentetan proyek masa depan, membuat nasib kita semakin pelik," lanjutnya.
Ia juga menyoroti soal penghematan anggaran yang dimulai dari pemotongan subsidi publik. Sayangnya efisiensi tersebut tidak sejalan dengan alokasi belanja yang besar. Baginya, fungsi proteksi negara resmi hilang berganti menjadi perayaan ironi.
"Ini adalah sebuah anomali kebijakan yang membuat mahasiswa dan masyarakat sipil wajib mempertanyakan hal mendasar. Jika seluruh beban pembangunan telah dialihkan ke pundak rakyat, lantas BBM ini naik demi efisiensi atau kita yang sedang dipaksa membiayai ambisi?" Imbuhnya. (maw)