TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Massa aksi demo dari elemen mahasiswa, warga hingga pengemudi ojek online (ojol) masih bertahan di kawasan Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat hingga Jumat (12/6/2026).
Matahari pun sudah mulai tenggelam. Langit yang tadinya terang pun kini menggelap. Namun, massa aksi tak bergeming di balik tameng aparat keamanan yang memblokade mereka.
Hingga pukul 18.27 WIB, mereka terus berteriak di depan aparat keamanan sambil sesekali bernyanyi lagi buruh tani.
Bendera universitas serta organisasi mahasiswa pun tidak pernah diturunkan dan terus berkibar.
Poster-poster pun yang berisikan kalimat protes juga terus diacungkan.
Selain lagu buruh tani, massa aksi juga sesekali meneriakkan kata-kata revolusi sebagai bentuk kritik atas kinerja pemerintah.
"Revolusi, revolusi, revolusi," teriak massa aksi secara bersamaan.
Mereka pun mengancam tidak akan bubar dari lokasi sebelum pemerintah mengakui kesalahan atas kondisi perekenomian Indonesia belakangan ini.
"Kawan-kawan, kita tidak akan bubar dari tempat ini sebelum pemerintah mengakui kesalahannya," teriak massa aksi.
"Setuju," jawab massa aksi yang lain.
Tuntutan
Sebelumnya, sejumlah elemen mahasiswa dari berbagai kampus di Jabodetabek bakal menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (12/6/2026).
Aksi tersebut merupakan hasil konsolidasi sejumlah organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat yang digelar di Universitas Indonesia (UI), Depok, Rabu (10/6/2026) malam.
Ketua Front Mahasiswa Nasional (FMN) Symphati Dimas mengatakan aksi tersebut digelar sebagai bentuk respons terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin membebani masyarakat.
Dia menyebut mahasiswa memandang Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai persoalan serius yang belum mendapatkan solusi memadai dari pemerintah.
"Indonesia adalah negara yang kaya, namun rakyatnya belum sejahtera. Indonesia negara besar, tapi masih banyak rakyat yang belum terbebas dari rasa lapar," ujarnya.
Dimas menjelaskan, konsolidasi yang digelar sebelumnya diikuti sejumlah organisasi mahasiswa dan kelompok masyarakat.
Di antaranya seluruh BEM fakultas se-UI, BEM IPB, Universitas Gunadarma, Politeknik Negeri Jakarta, UIN Jakarta, UPN Veteran Jakarta, Universitas Pancasila, Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), serta Front Mahasiswa Nasional (FMN).
Dalam pernyataan sikapnya, massa aksi turut menyoroti kondisi ekonomi nasional yang dinilai memburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Selain itu, mereka mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
Mahasiswa juga menilai pemerintah cenderung mengabaikan berbagai kritik yang berkembang di tengah masyarakat.
Tak hanya itu, mereka turut menyoroti dugaan penggunaan aparat negara untuk membungkam pihak-pihak yang menyampaikan kritik terhadap pemerintah.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa lima tuntutan utama yakni di antaranya:
1. Mendesak pemerintah menghentikan pemborosan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
2. Meminta pemerintah menurunkan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar minyak (BBM).
3. Menuntut penghentian program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
4. Mendesak dihentikannya praktik militerisme di ranah sipil.
5. Meminta Presiden Prabowo Subianto mengakui kesalahan pemerintah atas berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.