Tribunlampung.cio.id, Bandar Lampung – Keinginan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi mendorong Saris Fadilah mengikuti Program Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Media Adaptive.
Baca juga: Disdikbud Lampung Optimalkan PKBM untuk Tingkatkan IPM
Setelah menempuh pendidikan selama tiga tahun, Saris akhirnya memperoleh ijazah setara SMA pada Juni 2026.
Alumni PKBM Media Adaptive tersebut mengaku sengaja memilih jalur Paket C sebagai langkah untuk mewujudkan cita-citanya melanjutkan studi di bidang komputer.
“Saya menjalani Paket C selama tiga tahun dan alhamdulillah sudah selesai. Bulan Juni ini saya mendapatkan ijazah dan berharap bisa melanjutkan kuliah untuk mengejar cita-cita,” ujar Saris Fadilah saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).
Saris menuturkan, pendidikan dasar ditempuhnya di sekolah umum, sedangkan jenjang SMP dijalaninya di pondok pesantren. Adapun pendidikan setara SMA ditempuh melalui program Paket C.
Pria berusia 19 tahun yang bekerja di Martabak Ewok tersebut mengatakan proses pembelajaran di PKBM berlangsung secara luring maupun daring. Menurutnya, sistem belajar yang fleksibel menjadi salah satu alasan memilih Paket C.
“Kendalanya tidak ada. Kurang lebih sama dengan pembelajaran di sekolah umum lainnya,” katanya.
Dalam satu kelas, Saris belajar bersama sembilan peserta didik lainnya. Ia menilai interaksi dengan para guru berlangsung baik dan materi pelajaran disampaikan secara langsung oleh pengajar.
Ke depan, Saris berencana mengambil jurusan komputer di perguruan tinggi karena ingin memperdalam pengetahuan dan keterampilan di bidang teknologi.
Untuk membagi waktu antara bekerja dan belajar, Saris mengikuti kegiatan pembelajaran pada pagi hari. Setelah itu, ia bekerja di usaha martabak hingga malam hari. Seusai bekerja, ia masih menyempatkan diri mengerjakan tugas secara daring.
Sementara itu, Pimpinan Yayasan Media Adaptive Lampung (Yamala), Supron Ridisno, mengatakan pihaknya berkomitmen memberikan layanan pendidikan yang optimal kepada seluruh warga belajar.
Saat ini, jumlah peserta didik yang mengikuti program Paket A sebanyak tujuh orang, Paket B delapan orang, dan Paket C sebanyak 25 orang.
Doktor difabel lulusan Pengembangan Masyarakat Islam UIN Raden Intan Lampung tersebut menegaskan bahwa kegiatan pembelajaran tetap berlangsung secara berkelanjutan dengan memadukan metode tatap muka dan daring.
“Kami tetap menjalankan pembelajaran secara kontinu melalui sistem tatap muka dan daring,” ujar Supron.
Menurutnya, penerapan metode tersebut disesuaikan dengan latar belakang serta kondisi sosial para warga belajar agar proses pendidikan dapat berjalan secara efektif dan inklusif.
( Tribunlampung.co.id / Bayu Saputra )